Jumat, 19 Juni 2009

ASUHAN KEPERAWATAN

MALTREATMENT PADA ANAK : PHYSICAL ABUSE

BAB I

PENDAHULUAN


 

A. Latar Belakang

Kasus kekerasan pada anak dalam kurun waktu belakangan ini semakin marak, baik kekerasan dalam bentuk fisik maupun non fisik. Untuk kasus kekerasan fisik lebih mudah dilihat karena biasanya menimbulkan bekas atau tanda fisik. Kasus ini membuat banyak pihak prihatin karena korbannya adalah anak-anak yang seharusnya mendapatkan perlindungan dan perhatian dari orang dewasa, tetapi justru mendapat perlakuan yang sebaliknya.

Menurut Soetjiningsih ( 2006 ), meskipun sudah ada UU no 23 tahun 2002 tantang perlindungan anak, tetap saja banyak terjadi kekerasan pada anak, terutama kekerasan fisik. Data dari WHO menunjukkan bahwa 5-15% dari jumlah anak yang berumur 3-15 tahun pernah mengalami penganiayaan fisik. Jumlah ini ibarat fenomena gunung es, hanya bagian permukaannya saja yang dapat terlihat sedangkan bagian bawahnya sulit untuk diketahui. Hal ini disebabkan karena terbatasnya data dan laporan dari korban yang mengalaminya. Sebagian besar korban merasa takut untuk melapor, mungkin karena takut adanya ancaman dari pelaku dan juga tak tahu harus bertindak apa setelah mengalami penganiayaan. Akibatnya kejadian itu sulit terungkap dan pelakunya semakin berani karena tidak mendapat sanksi.

Adanya pengaruh budaya barat tentang kesetaraan gender antara pria dan wanita sedikit banyak menuntut wanita untuk sejajar dengan pria, salah satunya dengan banyaknya ibu-ibu yang bekerja. Dalam kondisi sosial ekonomi masyarakat menengah kebawah, banyak ibu yang bekerja membantu suami mencari penghasilan demi memperlancar perekonomian keluarga. Tentu saja waktu ibu untuk mengasuh anak semakin berkurang.

Banyak tuntutan dalam hidup untuk memenuhi kebutuhan keluarga menyebabkan orang tua lebih sibuk bekerja mencari penghasilan tambahan dengan waktu istirahat yang kurang. Hal ini tentu akan menyebabkan kelelahan baik kelelahan fisik maupun psikis. Di samping itu juga tak memberi kesempatan orang tua untuk bercanda dengan anaknya. Kelelahan ini mendukung orang tua sulit mengendalikan emosi apabila ada masalah tertentu, salah satunya adalah anak yang rewel.


 

Anak yang sering ditinggal orang tuanya untuk bekerja seringkali rewel dan membuat ulah sebagai usaha untuk menarik perhatian orang tuanya. Pengasuh yang diserahi tanggung jawab untuk mengasuh anak kadang-kadang juga kurang sabar menghadapi anak asuhnya yang rewel, apalagi pengasuh banyak yang tidak memahami faktor tumbuh kembang anak, di samping juga karena faktor kelelahan akibat terlalu banyak pekerjaan selain mengasuh anak. Tak jarang mereka menganiaya secara fisik walaupun masih dalam tahap ringan seperti mencubit.

Semua kondisi di atas sangat potensial mendukung terjadinya physical abuse. Oleh karena itu, peran tenaga kesehatan penting, termasuk perawat penting untuk mencegah terjadinya physical abuse dan menangani kasus yang terjadi di masyarakat.


 

B. Tujuan Penulisan

  1. Tujuan umum

Mahasiswa mampu melakukan asuhan keperawatan maltreatment pada anak dengan dengan physical abuse.

  1. Tujuan khusus
    1. Mahasiswa mampu menjelaskan definisi, etiologi, pathofisiologi physical abuse.
    2. Mahasiswa mampu menjelaskan penatalaksanaan medis dan penatalaksanaan keperawatan pada physical abuse.
    3. Mahasiswa mampu menjelaskan asuhan keperawatan pada physical abuse.


     


 


 


 


 


 


 


 


 


 

BAB II

TINJAUAN TEORI


 

A. Definisi

        Menurut Childline (2007) physical abuse adalah penganiayaan fisik ketika anak-anak mendapatkan luka atau terluka oleh karena tindakan orang tua atau orang lain. Menurut Terry (2006), physical abuse terjadi ketika orang tua atau pengasuh dan pelindung anak ( ketika sebenarnya anak membutuhkan perhatian ) melakukan pemukulan atau kekerasan secara fisik pada anak. Pukulan akan diingat anak jika kekerasan fisik itu berlangsung dalam periode tertentu.

    Penganiayaan ini dapat berupa memukul baik dengan tangan maupun dengan benda lain, menendang, melempar dengan benda, menggoncang tubuh anak, membakar/menyundut, menyiram dengan air panas atau dingin, mengikat/memasung, merendam dalam bak air, mengurung dalam ruangan tertentu, diracun dan melarang anak untuk makan. Penganiayaan fisik ini dapat menyebabkan nyeri/sakit, terpotongnya anggota tubuh, terluka, patah tulang, terbakar, cedera berat, cacat fisik maupun mental hingga kematian.

        Kecurigaan atau tanda lain di kulit adalah tanda penganiayaan fisik yang khas, seperti terbakar. Tengkorak dan tulang lain retak sering dijumpai pada anak-anak yang dianiaya saat muda, dan sering menyebabkan kematian. Anak kurang dari satu tahun atau lebih tua sangat peka sekali terjadi penganiayaan fisik dan mendapatkan luka akibat goncangan. Ini adalah disebut sindrom bayi terguncang.

        Penganiayaan anak terjadi dalam semua budaya, kesukuan, dan kelompok ekonomi. Menurut Medicinnet (2002), bentuk penganiayaan fisik anak yang mengakibatkan kematian adalah salah satu bentuk pengabaian. Kematian ini disebabkan oleh kecelakaan akibat tidak adanya pengawasan atau penundaan untuk mencari pertolongan medis untuk pengobatan luka-luka, penyakit, atau kondisi sakit.

        Physical abuse digambarkan sebagai perilaku abnormal yang mengarah perlawanan terhadap anak-anak. Hal tersebut dapat dilakukan dalam bentuk yang berbeda dan dilakukan oleh banyak orang. Abuser adalah perilaku penganiayaan, dalam hal ini bisa orang tuanya, pengasuh anak, anggota keluarga yang lain dan orang lain di sekitar anak baik yang sudah dikenali anak ataupun belum.


 

B. Etiologi

        Menurut Medicinnet (2002) beberapa faktor yang melatarbelakangi terjadinya physical abuse pada anak antara lain :

  1. Masa kanak-kanak abuser : kira-kira 20% pelanggaran adalah diri mereka disalahgunakan ketikan anak-anak.
  2. Penyalahgunaan NAPZA : anak-anak dalam keluarga dengan penyalahgunaan alkohol hampir 4 kali lebih mungkin untuk dianiaya. Dari semua kasus penganiayaan anak, 50-80% melibatkan beberapa tingkat penganiayaan oleh orang tua mereka.
  3. Tekanan keluarga : disintegrasi keluarga inti atau sistem pendukung sistem. Ini juga dihubungkan dengan adanya penganiayaan saat hamil.
  4. Kekuatan sosial : suatu peningkatan gambaran kekerasan oleh media informasi dapat meningkatkan penganiayaan anak.
  5. Anak : pada anak-anak berisiko tinggi mengalami penganiayaan jika anak sangat rewel, anak cacat dan anak yang mempunyai penyakit kronis.


 

        Menurut Baker (2007) physical abuse umumnya melibatkan orang tua yang kehilangan kontrol dan menyerang anaknya. Pemicunya mungkin sebenarnya adalah perilaku anak normal seperti tangisan, kata-kata anak yang jorok, dan perilaku anak yang belum bisa menjaga kebersihan.


 

        Faktor penyebab timbulnya physical abuse menurut Komnas Perlindungan Anak (2006) adalah :

  1. Kekerasan Dalam Rumah Tangga : melibatkan ayah, ibu, atau saudara kandung, dengan anak sebagai sasaran/korban.
  2. Disfungsi keluarga : peran orang tua tak dijalankan dengan baik, terjadi overlaping peran ayah dan ibu.
  3. Faktor ekonomi : tertekannya kondisi keluarga karena himpitan ekonomi, hal ini paling sering terjadi di golongan ekonomi lemah.
  4. Pandangan yang keliru tentang posisi anak dalam keluarga : orang tua menganggap anak tidak tahu apa-apa sehingga terjadi pola asuh yang salah.
  5. Terinspirasi oleh media : 62% kasus terjadi karena pengaruh media (Tempo,2006)


     


     

Sihotang (2004) mengatakan bahwa pencetus penganiayaan fisik anak :

  1. Stres anak : kondisi anak yang berbeda yaitu anak cacat, mental yang labil, anak angkat, anak tiri, anak yang rewel dan banyak menuntut.
  2. Stres keluarga : tinggal di lingkungan kumuh, terisolasi, miskin, pengangguran, anak yang tidak diharapkan.
  3. Stres orang tua : faktor kendali diri yang jelek, adanya riwayat penganiayaan saat masih kanak-kanak.


 

        Faktor penyebab di atas biasanya tidak berdiri sendiri tetapi saling berhubungan/multi faktorial untuk mendorong terjadinya physical abuse, misalnya adanya anak yang cacat dalam sebuah keluarga ekonomi lemah yang tinggal di lingkungan kumuh. Tentu saja hal ini akan memperkuat insiden terjadinya physical abuse bila faktor kendali orang tua jelek.


 

C. Pathofisiologi

        Lebih dari 2,5 juta kasus child abuse anak dan pengabaian (neglect) dilaporkan dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir. 35% diantaranya melibatkan penganiayaan fisik, 15% melibatkan penganiayaan seksual, dan 50% melibatkan neglect. Berdasarkan dari hasil studi satu dari 20 anak –anak secara umum mengalami penganiayaan fisik physical abuse setiap tahun. Penganiayaan fisik melibatkan melukai/merusak badan anak dengan membakar, memukul dan mematahkan tulang anak. Adanya suatu memar menunjukkan ada jaringan tubuh yang rusak dan pembuluh darah sudah memerah. Penerapan metode disiplin dari orang tua ke anak dengan cara kekerasan seperti menjewer, menampar, dan mencubit hingga meninggalkan luka atau tanda memar adalah cara yang tidak tepat ( American Academy of Pediatrics, 2007 ).


 

    
 


 


 


 


 


 


 

        Physical abuse ini menimbulkan dampak (Moore,2004) diantaranya :

  1. Anak kehilangan hak untuk menikmati masa kanak-kanaknya. Anak bisa saja kehilangan keceriaannya karena kekerasan yang dialaminya hingga malas untuk bermain.
  2. Sering menjadi korban eksploitasi dan penindasan dari orang dewasa. Anak yang pernah menjadi korban kekerasan lagi dan semakin ditindas orang dewasa bila tidak mendapatkan penanganan yang tepat.
  3. Sering pada saat dewasa membawa dampak psikologis : labilitas emosi, perilaku agresif, tindak kekerasan, penyalahgunaan NAPZA, perilaku sex bebas, dan perilaku anti sosial.
  4. Kerusakan fisik : pertumbuhan dan perkembangan tubuh kurang normal atau bahkan mengalami kecacatan dan rusaknya sistem syaraf.
  5. Besar kemungkinan setelah dewasa akan memberi perlakuan keras secara fisik pada anaknya.
  6. Akibatnya yang paling fatal adalah kematian.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

E. Manifestasi Klinik

    Tanda fisik yang bisa dijumpai pada physical abuse :

  • Memar pada berbagai area tubuh
  • Tanda bekas gigitan, bilur-bilur, dan luka bakar
  • Fraktur, jaringan parut, cedera internal serius, bahkan kerusakan otak
  • Laserasi atau perdarahan abnormal
  • Area botak sebagai akibat penarikan rambut yang hebat (dijambak)


 

Menurut American Academy Of Child Adolescent Psychiatry (2007) anak telah mengalami penganiayaan dapat menunjukkan ciri-ciri :

  • Mempunyai gambaran diri yang lemah & tidak bisa menjalankan peran
  • Ketidakmampuan untuk percaya atau mencintai orang lain
  • Agresif, mengganggu, dan berperilaku tidak benar
  • Kemarahan dan amuk, merusak diri sendiri, pemikiran tentang bunuh diri
  • Pasif, menarik diri, dan perilaku mengandung kutukan
  • Ketakutan melakukan aktivitas atau hubungan interpersonal yang baru
  • Khawatir dan takut, merasa sedih yang berlebih atau merasa tertekan
  • Permasalahan sekolah atau kegagalan dan penyalahgunaan NAPZA
  • Gangguan tidur, mimpi buruk


 

F. Penatalaksanaan Medis

        Langkah medis yang sering diambil untuk mengoreksi penganiayaan fisik anak (physical abuse) adalah sebagai berikut :

  1. Mungkin diperlukan kepindahan korban dan penempatan di dalam pengawasan protektif di dalam suatu kelompok sekaligus untuk memantau perkembangannya.
  2. Perlu diadakan program di sekolah mengenai "touch…bad, touch…good" yang dapat mengakomodasi anak-anak dalam suatu forum dimana anak dapat bermain peran dan belajar untuk menghindari kemungkinan yang berpotensi berbahaya. Ini memerlukan kerjasama dengan Depdiknas.
  3. Memberikan tindakan medis dan pengobatan sesuai dengan indikasi/kondisi fisik korban penganiayaan: adanya luka bakar, luka robek, perdarahan, fraktur, trauma fisik dan luka lainnya.
  4. Merehabilitasi adanya trauma psikis akibat penganiayaan bekerjasama dengan psikolog.
  5. Bekerjasama dengan kepolisian dalam membuat visum bila kasus itu akan ditempuh dalam jalur hukum.


 

G. Penatalaksanaan Perawat

    Prioritas penatalaksanaan perawatan adalah untuk mencegah adanya akibat fatal dari physical abuse yaitu kecacatan dan kematian segera mungkin di samping memberikan konseling supaya tidak terjadi kasus physical abuse.

Usaha yang dilakukan diantaranya :

  1. Memberikan nasehat yang efektif / pendidikan kesehatan untuk anak, keluarga, dan abuser yang berhubungan dengan trauma dan tekanan psikologis dan emosional.
  2. Memberikan perhatian lebih pada keluarga (orang tua ) yang berisiko tinggi, seperti keluarga yang mempunyai riwayat physical abuse dan perilaku substance / penyalahgunaan alkohol.
  3. Perlu adanya suatu struktur kelompok pendukung untuk menguatkan ketrampilan orang tua dan memonitor kesejahteraan / kesehatan anak.
  4. Kunjungan perawat ke rumah atau bersama social worker ke masyarakat untuk mengamati dan mengevaluasi kemajuan anak dan situasi lingkungan rumah. Banyak studi sudah menunjukkan bahwa kunjungan yang dilakukan oleh perawat bersama dengan tenaga sosial akan mencapai hasil yang terbaik.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN


 

  1. Pengkajian

    Menurut Child Welfare Information Gateway (2006) tanda dan gejala yang sering dijumpai pada physical abuse adalah :

  1. Anak : menunjukkan adanya perubahan yang mendadak di dalam perilaku atau prestasi sekolah, belum atau tidak menerima bantuan baik secara fisik maupun permasalahan medis yang seharusnya diberikan oleh orang tua, selalu dalam kewaspadaan seolah-olah bersiap mengahadapi sesuatu yang tidak menyenangkan/mengancamnya akan terjadi, menuntut yang berlebihan, pasif, menarik diri, datang ke sekolah dan aktifitas lain lebih awal dan pulang terlambat (seperti ingin pergi dari rumah).
  2. Orang tua : Pengawasan orang tua yang kurang, menunjukkan perhatian yang sedikit pada anak, menyangkal keberadaan anak dan menyalahkan anak baik tentang permasalahan di sekolah maupun di rumah, meminta pada guru atau pejabat di sekolah untuk menggunakan kekerasan fisik dalam menegakkan disiplin pada anak yang berbuat nakal/jahat, selalu melihat anak tidak baik, tidak berharga atau membebani, menuntut tingkatan fisik serta pencapaian akademis yang tidak mungkin dicapai oleh anak.
  3. Orang tua dan anak : jarang bersentuhan atau saling berpandangan, memandang hubungan antara orang tua dan anak sebagai hal negatif seluruhnya, mengatakan tidak suka satu sama lain.


 

  1. Diagnosa Keperawatan
  2. Resiko tinggi cedera berhubungan dengan perilaku agresif, perilaku anti sosial, penyalahgunaan obat, percobaan bunuh diri, masalah disekolah dan pekerjaan.
  3. Nyeri b/d diskountinuitas jaringan sekunder terhadap cedera.
  4. Perubahan pertumbuhan dan perkembangan berhubungan dengan harga diri rendah, depresi & kecemasan, gangguan makan, kecacatan.
  5. Koping keluarga tidak efektif berhubungan dengan perilaku agresif, perilaku anti sosial, penyalahgunaan obat, percobaan bunuh diri, masalah disekolah dan pekerjaan.


 

  1. Intervensi Keperwatan

    Menurut Betz, C.L dan Sowden, L.A (2002) ; Carpineto, L.J (1998) rencana perawatan yang dapat dirumuskan adalah :

  1. Resti cidera b/d perilaku agresif, perilaku anti sosial, penyalahgunaan obat, percobaan bunuh diri, masalah disekolah dan pekerjaan.

    Tujuan : Anak tidak mengalami cedera

    Intervensi :

  • Lindungi anak dari cedera lebih lanjut

        Rasional : menghindari anak dari cedera/luka yang lebih     parah dan meminimalkan dampak psikologis yang     ditimbulkan.

  • Bantu diagnosis penganiayaan anak : fisik, seksual / emosional

        Rasional : membantu dalam menentukan altenatif tindakan     yang tepat untuk menghindari penganiayaan anak              lebih lanjut.

  • Laporkan kecurigaan adanya penganiayaan

        Rasional : dengan melaporkan adanya kecurigaan adanya          penganiayaan anak seperti luka pada kulit dapat              mencegah terjadinya cedera yang lebih serius pada              anak serta mencegah kematian anak.

  • Lakukan resusitasi dan stabilisasi seperlunya

        Rasional : Resusitasi dan stabilisasi dilakukan ketika anak          mendapatkan penganiayaan yang menyebabkan              mengalami henti nafas, dilakukan sampai stabil     dan dibawa ke rumah sakit.

  1. Nyeri b/d diskountinuitas jaringan sekunder terhadap cedera

    Tujuan : Anak dapat mengurangi atau mengontrol nyeri

    Intervensi :

  • Kaji skala, intensitas dan skala nyeri

        Rasional : mengetahui beratnya nyeri, sehingga dapat mencari     alternatif mengatasi nyeri yang tepat.

  • Kaji adanya luka bekas penganiayaan

        Rasional : untuk mengetahui luas dan dalamnya luka sehingga     bisa dilakukan perawatan luka secara cepat.

  • Monitor vital sign secara periodik.

        Rasional : untuk memantau perubahan suhu tubuh, karena          peningkatan suhu tubuh yang disertai peningkatan              frekuensi denyut nadi menunjukkan adanya infeksi              pada daerah luka.

  • Atur posisi yang nyaman

        Rasional : mengurangi nyeri karena pengaturan posisi dapat     merelaksasi bagian yang tertekan.

  • Latih klien teknik relaksasi dan distraksi untuk mengurangi     nyeri

        Rasional : dapat mengalihkan nyeri yang dirasakan.

  • Kolaborasi pemberian analgetik

        Rasional : pemberian analgetik menghilangkan     nyeri.

  1. Perubahan pertumbuhan perkembangan b/d harga diri rendah, depresi & kecemasan, gangguan makan.

    Tujuan : Anak menunjukkan gangguan pertumbuhan dan                  perkembangan jangka panjang yang minimal.

    Intervensi :

  • Beri perawatan pendukung

        Rasional : membantu proses perkembangan dan pertumbuhan     anak.

  • Ajarkan ortu tugas perkembangan yang sesuai kelompok     usia

        Rasional : orang tua dapat berperan serta dalam menstimulasi     atau merangsang anak untuk melakukan tugas perkembangan     yang harus dicapai sesuai kelompok umur.

  • Kaji tingkat perkembangan anak dalam seluruh area fungsi     menggunakan alat-alat pengkajian yang spesifik

        Rasional : pengkajian dilakukan untuk mendapatkan data yang     akurat untuk menentukan berat ringannya gangguan     pertumbuhan serat perkembangan yang dialami oleh anak.

  • Berikan kesempatan bagi seorang anak yang sakit untuk     memenuhi tugas-tugas perkembangan sesuai kelompok usia

        Rasional : dapat membantu anak melakukan tugas     perkembangannya sesuai kelompok usia.

  1. Koping keluarga tidak efektif b/d perilaku agresif, perilaku anti sosial, penyalahgunaan obat, percobaan bunuh diri, masalah di sekolah dan pekerjaan.

    Tujuan : orang tua akan mengembangkan keterampilan yang efektif     dalam menghindari terjadinya penganiayaan pada anak.

    Intervensi :

  • Lakukan fungsi sebagai model peran untuk menunjukkan     keterampilan menjadi oran tua yang positif

        Rasional : model peran membantu orang tua belajar model     yang baru dalam menghindari terjadinya penganiayaan     terhadap anak.

  • Buat rujukan (spesialisasi kehidupan anak, lembaga     perlindungan anak, pekerja sosial, perawat kunjungan rumah)

        Rasional : rujukan memungkinkan anak dapat pelayanan dari     ahli yang lebih profesional.

  • Ajarkan pada keluarga tentang pentingnya tanggung jawab     individu atas perilakunya masing-masing

        Rasional : dapat menghindarkan diri dari kejadian     penganiayaan pada anak yang dilakukan oleh orang tua.

  • Ajarkan keluarga menghindari situasi yang dapat menimbulakn     stress

        Rasional : menambah pengetahuan
    orang tua mengenali stress     yang terjadi sehingga dapat menghindari terjadinya child abuse.

  • Ajarkan keluarga untuk mengembangkan strategi pemecahan     masalah atau strategi koping

        Rasional : dapat membantu keluarga menyelesaikan masalah     yang dihadapi oleh keluarga.

  • Ajarkan keluarga keterampilan menjadi orang tua yang efektif

        Rasional : dengan keterampilan menjadu orang tua yang     efektif dapat meningkatkan perlindungan bagi anak sehingga     tidak terjadi penganiayaan anak.


     

  1. Evaluasi

    Hasil yang diharapkan dari pemberian asuhan keperawatan pada anak dengan physical abuse antara lain :

  1. Anak mengenali perlunya ataunya mencari perlindungan untuk mencegah dan mengatasi physical abuse.
  2. Keluarga berpartisipasi sebagai fungsi modal peran sebagai orang tua yang positif dan efektif.
  3. Keluarga mampu menjaga situasi yang dapat menimbulkan stress.
  4. Keluarga dan anak mampu mengembangkan strategi pemecahan masalah.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

BAB IV

ISSUE KASUS TENTANG PHYSICAL ABUSE DAN PEMBAHASAN


 

  1. Issue Dimasyarakat Tentang Physical Abuse

    Ada sebuah kisah nyata di masyarakat tentang physical abuse hingga korbannya meninggal dunia. Surabaya, 22 Desember 2008, masyarakat Desa Kedurus, Sawah Gede I dikejutkan dengan meninggalnya Eka Rizki Purnama (2,5 tahun) secara mendadak. Warga yang curiga melihat tanda lebam di perut bagian bawah dan organ intim Rizki membengkak saat memandikannya, lalu melaporkannya ke polisi. Akhirnya setelah diinterogasi petugas, ayah tiri korban, Purwanto (34 tahun) mengakui telah memukul tubuh Rizki berulang kali dan membenturkannya ke tembok hingga tak sadar diri. Saat ibu korban, Sunarti (26 tahun) menanyakan kondisi Rizki, Purwanto pura-pura gelisah dan akhirnya membawa Rizki ke RS Wiyung. Di perjalanan itulah ia meninggal dunia.

    Sebenarnya kekerasan fisik pada balita itu sudah terjadi lama, para tetangga sering mendengar suara seperti benturan pada tembok dan kemudian suara tangisan keras dari rumah Rizki. Rizki juga pernah bercerita bahwa ia sering dipukul ayahnya dengan bahasa yang belum jelas. Ibu korban sebenarnya tahu tentang semua itu, tapi ia diancam suaminya supaya tak menceritakannya. Puncaknya, malam sebelum Rizki meninggal, Purwanto yang merasa lelah ingin tidur, tetapi Rizki malah rewel dan buang air besar di tempat tidur. Sunarti kemudian disuruh ke warung oleh Purwanto, di saat itulah Purwanto bebas menganiaya Rizki hingga tak sadar diri.

    Hasil otopsi RS dr.Soetomo menyatakan bahwa Rizki meninggal karena perdarahan di bagian bawah perut. Terdapat memar di usus, lepasnya jaringan ikat di usus, luka lama di usus sepanjang 24 cm, robekan di usus halus, memar di ginjal, anak ginjal dan liver. Ini menunjukkan akibat seringnya terjadi pemukulan.


 

  1. Pembahasan

    Kasus diatas menunjukkan akibat yang fatal dari physical abuse yaitu kematian. Faktor penyebabnya multifaktorial, diantaranya, diantaranya anak yang rewel (walaupun masih normal), perilaku anak yang belum bisa menjaga kebersihan, adanya anak tiri, faktor ekonomi karena tertekannya kondisi keluarga akibat himpitan ekonomi karena penghasilan orang tua korban yang kurang, dan dari faktor orang tua adalah kendali diri yang jelek, dan kelelahan fisik setelah bekerja seharian sebagai sopir truk. Ayah tiri korban juga sering berperilaku anti sosial dengan tak pernah bergaul dengan warga lain di lingkungannya.

    Masalah yang muncul adalah koping keluarga tidak efektif berhubungan dengan perilaku agresif, dan perilaku anti sosial, dengan tujuan intervensi adalah orang tua akan mengembangkan keterampilan yang efektif dalam menghindari terjadinya penganiayaan pada anak.


 

    Intervensi yang bisa dilakukan untuk menangani atau mencegah kasus itu adalah :

  • Lakukan fungsi sebagai model peran untuk menunjukkan keterampilan menjadi orang tua yang positif.
  • Buat rujukan atau spesialisasi kehidupan anak, lembaga perlindungan anak, pekerja sosial, perawat kunjungan rumah.
  • Ajarkan pada keluarga tentang pentingnya tanggung jawab individu atas perilakunya masing-masing.
  • Ajarkan keluarga situasi yang dapat menimbulkan stres.
  • Ajarkan keluarga untuk mengembangkan strategi pemecahan masalah atau strategi koping.
  • Ajarkan keluarga keterampilan menjadi orang tua yang efektif.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

BAB V

PENUTUP


 

A.Kesimpulan

    Physical abuse tidak akan terjadi apabila ada peran serta masyarakat untuk melaporkan adanya kekerasan fisik pada anak. Physical abuse terjadi ketika orang tua atau pengasuh dan pelindung anak melakukan pemukulan / kekerasan secar fisik pada anak. Hal ini akan diingat anak jika kekerasan fisik terjadi. Dan banyaknya faktor penyebab anak physical abuse karena adanya pengaruh faktor kendali diri orang tua yang buruk. Pada kenyataannya masyarakat enggan mencampuri urusan rumah tangga orang lain. Beberapa bentuk prioritas penatalaksanaan keperawatan yang dilakukan adalah untuk mencegah adanya akibat fatal dari physical abuse yaitu kecacatan dan kematian. Sehingga sesegera mungkin memberikan konseling supaya tidak terjadi kasus physical abuse.


 

B. Saran

    Berdasarkan kesimpulan diatas maka dapat penulis sarankan pada petugas kesehatan maupun keluarga agar :

  1. Perawat

    Melakukan konseling kepada orang tua dalam mengatasi kekerasan secara fisik pada anak dengan physical abuse.

  2. Keluarga

    Mengembangkan keterampilan yang efektif dalam menghindari terjadinya penganiayaan pada anak dan memberikan keterampilan yang efektif dapat meningkatkan perlindungan anak.


     


     


     


     


     


     


     


     

    DAFTAR PUSAKA


     

    Prayoga, 2007. Penganiayaan Fisik Pada Anak, www.bali post.co.id/ i     html, diakses tanggal 26 April 2009

    Anonim, 2008. Physical Abuse, www.kharisma.de/files/home/an-makalah     pdf, diakses tanggal 26 April 2009

    Anonim, 2005. Child Abuse,
    www.keepkidshealty.com/welcome/commonproblems/childabuse.html. di     akses tanggal 15 Maret 2009

    Benedictie, T.A, Jatte, J dan Segal, J, 2007. Child Abuse: Types, Signs,     Symptoms, Causes and     help,www.helpauide.org/mental/childabusephysicalemotionalsexual

        negleet.html, di akses tanggal 15 Maret 2009

    Betz, C.L dan sowden, L.A, 2002. Buku Saku Keperawatan Pediatri     (terjemahan), Edisi 3, Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC

    Carpenito, I.J, 1998. Buku Saku Diagnosa Keperawatan (terjemahan),     Edisi 3, Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC

    Kisah Sejati.www.Tabloid Nurani.com, diakses tanggal 20 Februari     2009

    Tabloid Nurani.kisah sejati.
    Naudzubillah, Bayi Mati di Tangan Ayah Tiri,     Edisi 416 tahun VIII Minggu 1 Januari 2009, Jakarta:PT.Nurani Media     Teguh

    Childline, 2007. What is Child Abuse ?,     www.childline.org.uk/Childabuse.asp diakses tanggal 15 Maret 2009

    Medicinehealth, 2005. Child Abuse,     www.medicinehealth.com/childabuse/articleem.html, diakses tanggal     15 Maret 2009

    Medicinnet, 2002. Child     Abuse,www.medicinnet.com/childabuse/paee7.html. diakses tanggal     15     Maret 2009

    Wikipedia, 2007. Child Abuse, http://en.wikipedia.org/wiki/Childabuse,     15 Maret 2009


     


     

    D. Pathways


     


     


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

Efek emosional         Efek fisik             Efek perilaku


 

Harga diri rendah, depresi    Gangguan kognitif, masalah    Perilaku agresif, perilaku

Dan kecemasan, gangguan    kesehatan yang            anti sosial / kriminal,

makan, gangguan        berkepanjangan, cedera        penyalahgunaan obat,

berhubungan, gangguan    kematian            percobaan bunuh diri,

kepribadian                            masalah di sekolah dan

                                pekerjaan


 


 

MK perubahan     MK nyeri        MK koping     MK resiko cedera

pertumbuhan &                 keluarga

perkembangan                 tidak efektif


 

Bethea, L (1999);Benedicti,TE, et al (2007)


 

Lembar Pengesahan


 

    Makalah seminar dengan judul " Asuhan Keperawatan Maltreatment Pada Anak Physical Abuse " ini telah mendapat pengesahan untuk dipresentasikan pada :


 

Hari        :

Tanggal    :


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

                            Mengetahui

                         Dosen Pengampu


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

Format penilaian seminar Keperawatan Anak

STIKES Ngudi waluyo Ungaran


 

Kelompok        :

Topik Seminar        :

Tanggal        :

No 

Aspek Penilaian 

Nilai 

1 

2 

3 

4 

1 

Persiapan

  1. Pengaturan lingkungan presentasi
  2. Makalah sudah dbagikan kepada audiens sebelum penyajian
  3. Makalah sudah diserahkan ke koordinator 1 hari sebelum seminar
    

2

  1. Pelaksanaan
  2. 1. Kejelasan Materi yang disampaikan
  3. 2. Penulisan OHT sesuai kaidah
  4. 3. Ketepatan penggunaan media
  5. 4. Ketepatan menjawab
    

3.

Isi

  1. Latar belakang didasarkan pada fenomena masyarakat
  2. Tinjauan teori sesuai pokok bahasan
  3. Materi diambil, dikembangkan dari journal ilmiah dan hasil browsing
  4. Materi sesuai sudut pandang keperawatan anak
  5. Kesimpulan dan saran sesuai dengan keperawatan anak
  6. Makalah disertai daftar pustaka yang up to date
    
 

Total

    


 


 

Nilai = Jumlah nilai                    Ungaran,…………………

     5,2                             Penilai


 


 

Nama Mahasiswa Menambahkan materi diskusi

1.                            ……………………………

2.

3.

4.

5.


 


 


 

PENILAIAN SEMINAR KEPERAWATAN ANAK


 

Nama        :

Topik Seminar    :

Tanggal    :

Aspek Penilaian 

Nilai 

1 

2 

3 

4 

Persiapan

  1. Pengatur lingkngan presentasi
  2. Makalah sudah dibagikan kepada audiens sehari sebelum penyajian
  3. Materi merupakan hasil diskusi dengan pembimbing 
    

Pelaksanaan

  1. Kejelasan materi yang disampaikan
  2. Ketepatan penggunaan media
  3. Ketepatan pengelola waktu
  4. Ketepatan menjawab 
    

Isi

  1. Ketepatan anatomi dan fisiologi
  2. Ketepatan definisi penyakit
  3. Ketepatan Patofisiologi
  4. Ketepatan Bagan patofisiologi s/d munculnya masalah keperawatan dengan memperhatikan aspek tumbang anak
  5. Ketepatan penatalaksanaan medis
  6. Ketepatan penatalaksanaan keperawatan
  7. Ketepatan data fokus sesuai kasus
  8. Ketepatan kemungkinan masalah / diagnosa keperawatan
  9. Ketepatan perencanaan dan rasionalisasi sesuai masalah / diagnosa keperawatan dengan memperhatikan anak aspek tumbang
  10. Menggunakan referensi anak yang up to date 
    

Total

    

Tidak ada komentar:

Posting Komentar