Minggu, 28 Juni 2009

HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN MOTIVASI PASIEN MELAKUKAN KEGIATAN SEHARI – HARI SELAMA RAWAT INAP DI BANGSAL P6 RUMAH SAKIT JIWA PROF. DR. SOEROJO MAGELANG



BAB I


PENDAHULUAN



A.LATAR BELAKANG MASALAH


Picture 006



B.

Jumat, 19 Juni 2009

Selamat ujian anak

ASUHAN KEPERAWATAN ANAK

DENGAN AUTISME

BAB I

PENDAHULUAN


 

  1. LATAR BELAKANG

    Setiap tahun di seluruh dunia, kasus autisme mengalami peningkatan. Dalam penelitian yang dirangkum Synopsis of Psychiatry awal 1990-an, kasus autisme masih berkisar pada perbandingan 1 : 2.000. Angka ini meningkat di tahun 2000 dalam catatan Sutism Research Institute di Amerika Serikat sebanyak 1 dari 150 anak punya kecenderungan menderita autis. Di Inggris, datanya lebih mengkhawatirkan. Di sana berdasarkan data International Congress on Autism tahun 2006 tercatat 1 dari 130 anak punya kecenderungan autis.

    Bagaimana dengan Indonesia? Dr SASANTI YUNIAR, SpKJ (K) dari Ilmu Kedoktera Jiwa RSU dr Soetomo, Surabaya saat berbicara dalam sesi seminar Surabaya Peduli Autisme yang digelar Surabaya City Guide-Mossaik Media Communication, Sabtu (13/12) di Empire Palace mengatakan cukup sulit untuk mendapatkan data penderita autis di Indonesia.

    Ini karena orangtua anak yang dicurigai mengidap autisme seringkali tidak menyadari gejala-gejala autisme pada anak. Akibatnya, mereka merujuknya ke pintu lain di RS. Misalnya ke bagian THT karena menduga anaknya mengalami gangguan pendengaran dan ke Poli Tumbuh Kembang Anak karena mengira anaknya mengalami masalah dengan perkembangan fisik.

    "Tapi kita memang merasakan makin banyak kasus autisme ini di Indonesia dari tahun ke tahun," papar dia.

    SASANTI dalam bagian lain tidak bisa menjelaskan apa penyebab makin banyaknya kasus autisme di Indonesia. Yang bisa dilacak adalah faktor yang terkait dengan autisme, misalnya genetis dan biologis. Secara biologis, ada kemungkinan autisme berkaitan dengan gangguan pencernaan, alergi, gangguan kandungan, maupun polusi.(edy).( suarasurabaya.net. 13 desember 2008)

  2. TUJUAN
    1. Tujuan Instruksional Umum

      Mahasiswa mampu menerapkan konsep keperawatan pada anak dengan autisme

    2. Tujuan Instruksional Khusus
      1. Mahasiswa mampu menjelaskan definisi, etiologi dan patofisiologi autisme
      2. Mahasiswa mampu menjelaskan penatalaksanaan medis dan keperawatan pada autisme
      3. Mahasiswa mampu menjelaskan asuhan keperawatan pada anak dengan gangguan autisme


       

     

    TINJAUAN TEORI


     

  3. DEFINISI PENYAKIT

    Autisme menurut Rutter 1970 adalah Gangguan yang melibatkan kegagalan untuk mengembangkan hubungan antar pribadi (umur 30 bulan), hambatan dalam pembicaraan, perkembangan bahasa, fenomena ritualistik dan konvulsif.(Sacharin, R, M, 1996: 305)

    Autisme masa kanak-kanak dini adalah penarikan diri dan kehilangan kontak dengan realitas atau orang lain. Pada bayi tidak terlihat tanda dan gejala. (Sacharin, R, M, 1996 : 305)

    Autisme Infantil adalah Gangguan kualitatif pada komunikasi verbal dan non verbal, aktifitas imajinatif dan interaksi sosial timbal balik yang terjadi sebelum usia 30 bulan.(Behrman, 1999: 120)

    Menurut Isaac, A (2005) autisme merupakan gangguan perkembangan pervasive dengan masalah awal tiga area perkembangan utama yaitu perilaku, interaksi sosial dan komunikasi. Gangguan ini dicirikan dengan gangguan yang nyata dalam interaksi sosial dan komunikasi, serta aktivitas dan minat yang terbatas. Autisme adalah kelainan yang mempunyai dampak besar terhadap kehidupan penderita, keluarga dan masyarakat sekitarnya. Kadang keadaan ini membuat kebingungan dan sangat menyakitkan hati orang tua penderita. Definisi Autisme adalah kelainan neuropsikiatrik yang menyebabkan kurangnya kemampuan berinteraksi sosial dan komunikasi, minat yang terbatas, perilaku tidak wajar dan adanya gerakan stereotipik, dimana kelainan ini muncul sebelum anak berusia 3 tahun (Teramihardja, J, 2007).

    Suatu gangguan perkembangan yang sangat kompleks, yang secara klinis ditandai oleh adanya 3 gejala utama berupa : kualitas yang kurang dalam kemampuan interaksi sosial dan emosional, kualitas yang kurang dalam kemampuan komunikasi timbal balik, dan minat yang terbatas, perilaku tak wajar, disertai gerakan-gerakan berulang tanpa tujuan (stereotipik). Selain itu tampak pula adanya respon tak wajar terhadap pengalaman sensorik, yang terlihat sebelum usia 3 tahun.


     

  4. ETIOLOGI

    Sepuluh tahun yang lalu penyebab autisme belum banyak diketahui dan hanya terbatas pada faktor psikologis saja. Tetapi sekarang ini penelitian mengenai autisme semakin maju dan menunjukkan bahwa autisme mempunyai penyebab neurobiologist yang sangat kompleks. Gangguan neurobiologist ini dapat disebabkan oleh interaksi faktor genetik dan lingkungan seperti pengaruh negatif selama masa perkembangan otak. Banyak faktor yang menyebabkan pengaruh negatif selama masa perkembangan otak, antara lain; penyakit infeksi yang mengenai susunan saraf pusat, trauma, keracunan logam berat dan zat kimia lain baik selama masa dalam kandungan maupun setelah dilahirkan, gangguan imunologis, gangguan absorpsi protein tertentu akibat kelainan di usus (Suriviana, 2005).

    Menurut Dewo (2006) gangguan perkembangan pervasive autisme dapat disebabkan karena beberapa hal antara lain:

    1. Genetis, abnormalitas genetik dapat menyebabkan abnormalitas pertumbuhan sel – sel saraf dan sel otak
    2. Keracunan logam berat seperti mercury yang banyak terdapat dalam vaksin imunisasi atau pada makanan yang dikonsumsi ibu yang sedang hamil, misalnya ikan dengan kandungan logam berat yang tinggi. Pada penelitian diketahui dalam tubuh anak-anak penderita autis terkandung timah hitam dan merkuri dalam kadar yang relatif tinggi.
    3. Terjadi kegagalan pertumbuhan otak karena nutrisi yang diperlukan dalam pertumbuhan otak tidak dapat diserap oleh tubuh, ini terjadi karena adanya jamur dalam lambungnya, atau nutrisi tidak trpenuhi karena faktor ekonomi
    4. Terjadi autoimun pada tubuh penderita yang merugikan perkembangan tubuhnya sendiri karena zat – zat yang bermanfaat justru dihancurkan oleh tubuhnya sendiri. Imun adalah kekebalan tubuh terhadap virus/bakteri pembawa penyakit. Sedangkan autoimun adalah kekebalan yang dikembangkan oleh tubuh penderita sendiri yang justru kebal terhadap zat – zat penting dalam tubuh dan menghancurkannya.


     

  5. PATOFISIOLOGI

    Sel saraf otak (neuron) terdiri atas badan sel dan serabut untuk mengalirkan impuls listrik (akson) serta serabut untuk menerima impuls listrik (dendrit). Sel saraf terdapat di lapisan luar otak yang berwarna kelabu (korteks). Akson dibungkus selaput bernama mielin, terletak di bagian otak berwarna putih. Sel saraf berhubungan satu sama lain lewat sinaps.

    Sel saraf terbentuk saat usia kandungan tiga sampai tujuh bulan. Pada trimester ketiga, pembentukan sel saraf berhenti dan dimulai pembentukan akson, dendrit, dan sinaps yang berlanjut sampai anak berusia sekitar dua tahun.

    Setelah anak lahir, terjadi proses pengaturan pertumbuhan otak berupa bertambah dan berkurangnya struktur akson, dendrit, dan sinaps. Proses ini dipengaruhi secara genetik melalui sejumlah zat kimia yang dikenal sebagai brain growth factors dan proses belajar anak.

    Makin banyak sinaps terbentuk, anak makin cerdas. Pembentukan akson, dendrit, dan sinaps sangat tergantung pada stimulasi dari lingkungan. Bagian otak yang digunakan dalam belajar menunjukkan pertambahan akson, dendrit, dan sinaps. Sedangkan bagian otak yang tak digunakan menunjukkan kematian sel, berkurangnya akson, dendrit, dan sinaps.

    kelainan genetis, keracunan logam berat, dan nutrisi yang tidak adekuat dapat menyebabkan terjadinya gangguan pada proses – proses tersebut. Sehingga akan menyebabkan abnormalitas pertumbuhan sel saraf.

    Pada pemeriksaan darah bayi-bayi yang baru lahir, diketahui pertumbuhan abnormal pada penderita autis dipicu oleh berlebihnya neurotropin dan neuropeptida otak (brain-derived neurotrophic factor, neurotrophin-4, vasoactive intestinal peptide, calcitonin-related gene peptide) yang merupakan zat kimia otak yang bertanggung jawab untuk mengatur penambahan sel saraf, migrasi, diferensiasi, pertumbuhan, dan perkembangan jalinan sel saraf. Brain growth factors ini penting bagi pertumbuhan otak.

    Peningkatan neurokimia otak secara abnormal menyebabkan pertumbuhan abnormal pada daerah tertentu. Pada gangguan autistik terjadi kondisi growth without guidance, di mana bagian-bagian otak tumbuh dan mati secara tak beraturan.

    Pertumbuhan abnormal bagian otak tertentu menekan pertumbuhan sel saraf lain. Hampir semua peneliti melaporkan berkurangnya sel Purkinye (sel saraf tempat keluar hasil pemrosesan indera dan impuls saraf) di otak kecil pada autisme. Berkurangnya sel Purkinye diduga merangsang pertumbuhan akson, glia (jaringan penunjang pada sistem saraf pusat), dan mielin sehingga terjadi pertumbuhan otak secara abnormal atau sebaliknya, pertumbuhan akson secara abnormal mematikan sel Purkinye. Yang jelas, peningkatan brain derived neurotrophic factor dan neurotrophin-4 menyebabkan kematian sel Purkinye.

    Gangguan pada sel Purkinye dapat terjadi secara primer atau sekunder. Bila autisme disebabkan faktor genetik, gangguan sel Purkinye merupakan gangguan primer yang terjadi sejak awal masa kehamilan.

    Degenerasi sekunder terjadi bila sel Purkinye sudah berkembang, kemudian terjadi gangguan yang menyebabkan kerusakan sel Purkinye. Kerusakan terjadi jika dalam masa kehamilan ibu minum alkohol berlebihan atau obat seperti thalidomide.

    Penelitian dengan MRI menunjukkan, otak kecil anak normal mengalami aktivasi selama melakukan gerakan motorik, belajar sensori-motor, atensi, proses mengingat, serta kegiatan bahasa. Gangguan pada otak kecil menyebabkan reaksi atensi lebih lambat, kesulitan memproses persepsi atau membedakan target, overselektivitas, dan kegagalan mengeksplorasi lingkungan.

    Pembesaran otak secara abnormal juga terjadi pada otak besar bagian depan yang dikenal sebagai lobus frontalis. Kemper dan Bauman menemukan berkurangnya ukuran sel neuron di hipokampus (bagian depan otak besar yang berperan dalam fungsi luhur dan proses memori) dan amigdala (bagian samping depan otak besar yang berperan dalam proses memori).

    Penelitian pada monyet dengan merusak hipokampus dan amigdala mengakibatkan bayi monyet berusia dua bulan menunjukkan perilaku pasif-agresif. Mereka tidak memulai kontak sosial, tetapi tidak menolaknya. Namun, pada usia enam bulan perilaku berubah. Mereka menolak pendekatan sosial monyet lain, menarik diri, mulai menunjukkan gerakan stereotipik dan hiperaktivitas mirip penyandang autisme. Selain itu, mereka memperlihatkan gangguan kognitif.

    Faktor lingkungan yang menentukan perkembangan otak antara lain kecukupan oksigen, protein, energi, serta zat gizi mikro seperti zat besi, seng, yodium, hormon tiroid, asam lemak esensial, serta asam folat.

    Adapun hal yang merusak atau mengganggu perkembangan otak antara lain alkohol, keracunan timah hitam, aluminium serta metilmerkuri, infeksi yang diderita ibu pada masa kehamilan, radiasi, serta ko kain.

    1. pathway


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     

  6. MANIFESTASI KLINIS

    Keterlambatan atau fungsi abnormal pada ketrampilan berikut, muncul sebelum umur 3 tahun.

    1. Interaksi sosial.
    2. Bahasa yang digunakan sebagai komunikasi sosial.
    3. Bermain simbolik atau imajinatif.

    Diagnosis harus memenuhi kriteria DSM IV (Diagnostic And Statistical Of Manual Disorders 1992 Fourth Edition). Diagnosis autisme bisa ditegakkan apabila terdapat enam atau lebih gejala dari (1), (2) dan (3) dengan paling sedikit 2 dari (1) dan 1 dari masing-masing (2) dan (3).

    1. Gangguan kualitatif interaksi sosial, muncul paling sedikit 2 dari gejala berikut :
      1. Gangguan yang jelas dalam perilaku non - verbal (perilaku yang dilakukan tanpa bicara) misalnya kontak mata, ekspresi wajah, posisi tubuh dan mimik untuk mengatur interaksi sosial.
      2. Tidak bermain dengan teman seumurnya, dengan cara yang sesuai.
      3. Tidak berbagi kesenangan, minat atau kemampuan mencapai sesuatu hal dengan orang lain.
      4. Kurangnya interaksi sosial timbal balik.
    2. Gangguan kualitatif komunikasi, paling sedikit satu dari gejala berikut :
      1. Keterlambatan atau belum dapat mengucapkan kata-kata berbicara, tanpa disertai usaha kompensasi dengan cara lain.
      2. Bila dapat berbicara, terlihat gangguan kesanggupan memulai atau mempertahankan komunikasi dengan orang lain.
      3. Penggunaan bahasa yang stereotipik dan berulang, atau bahasa yang tidak dapat dimengerti.
      4. Tidak adanya cara bermain yang bervariasi dan spontan, atau bermain menirukan secara sosial yang sesuai dengan umur perkembangannya.
    3. Pola perilaku, minat dan aktivitas yang terbatas, berulang dan tidak berubah (stereotipik), yang ditunjukkan dengan adanya 2 dari gejala berikut :
      1. Minat yang terbatas, stereotipik dan meneetap dan abnormal dalam intensitas dan fokus.
      2. Keterikatan pada ritual yang spesifik tetapi tidak fungsional secara kaku dan tidak fleksibel.
      3. Gerakan motorik yang stereotipik dan berulang, misalnya flapping tangan dan jari, gerakan tubuh yang kompleks.
      4. Preokupasi terhadap bagian dari benda.


     

  7. PENATALAKSANAAN MEDIS

    Kimia otak yang kadarnya abnormal pada penyandang autis adalah serotonin 5-hydroxytryptamine (5-HT), yaitu neurotransmiter atau penghantar sinyal di sel-sel saraf. Sekitar 30-50 persen penyandang autis mempunyai kadar serotonin tinggi dalam darah.

    Kadar norepinefrin, dopamin, dan serotonin 5-HT pada anak normal dalam keadaan stabil dan saling berhubungan. Akan tetapi, tidak demikian pada penyandang autis.

    Terapi psikofarmakologi tidak mengubah riwayat keadaan atau perjalanan gangguan autistik, tetapi efektif mengurangi perilaku autistik seperti hiperaktivitas, penarikan diri, stereotipik, menyakiti diri sendiri, agresivitas dan gangguan tidur.

    Sejumlah observasi menyatakan, manipulasi terhadap sistem dopamin dan serotonin dapat bermanfaat bagi pasien autis. Antipsikotik generasi baru, yaitu antipsikotik atipikal, merupakan antagonis kuat terhadap reseptor serotonin 5-HT dan dopamin tipe 2 (D2).

    Risperidone bisa digunakan sebagai antagonis reseptor dopamin D2 dan serotonin 5-HT untuk mengurangi agresivitas, hiperaktivitas, dan tingkah laku menyakiti diri sendiri.

    Olanzapine, digunakan karena mampu menghambat secara luas pelbagai reseptor, olanzapine bisa mengurangi hiperaktivitas, gangguan bersosialisasi, gangguan reaksi afektual (alam perasaan), gangguan respons sensori, gangguan penggunaan bahasa, perilaku menyakiti diri sendiri, agresi, iritabilitas emosi atau kemarahan, serta keadaan cemas dan depresi.

    Untuk meningkatkan keterampilan sosial serta kegiatan sehari-hari, penyandang autis perlu diterapi secara nonmedikamentosa yang melibatkan pelbagai disiplin ilmu. Menurut dr Ika Widyawati SpKJ dari Bagian Ilmu Penyakit Jiwa FKUI, antara lain terapi edukasi untuk meningkatkan interaksi sosial dan komunikasi, terapi perilaku untuk mengendalikan perilaku yang mengganggu/membahayakan, terapi wicara, terapi okupasi/fisik, sensori-integrasi yaitu pengorganisasian informasi lewat semua indera, latihan integrasi pendengaran (AIT) untuk mengurangi hipersensitivitas terhadap suara, intervensi keluarga, dan sebagainya.

    Untuk memperbaiki gangguan saluran pencernaan yang bisa memperburuk kondisi dan gejala autis, dilakukan terapi biomedis. Terapi itu meliputi pengaturan diet dengan menghindari zat-zat yang menimbulkan alergi (kasein dan gluten), pemberian suplemen vitamin dan mineral, serta pengobatan terhadap jamur dan bakteri yang berada di dinding usus.

    Dengan pelbagai terapi itu, diharapkan penyandang autis bisa menjalani hidup sebagaimana anak-anak lain dan tumbuh menjadi orang dewasa yang mandiri dan berprestasi.


     

  8. PENATALAKSANAAN KEPERAWATAN

    Penatalaksanaan pada autisme bertujuan untuk:

    1. Mengurangi masalah perilaku.

      Terapi perilaku dengan memanfaatkan keadaan yang terjadi dapat meningkatkan kemahiran berbicara. menagement perilaku dapat mengubah perilaku destruktif dan agresif.

    2. Meningkatkan kemampuan belajar dan perkembangan terutama bahasa.

      Latihan dan pendidikan dengan menggunakan pendidikan (operant conditioning yaitu dukungan positif (hadiah) dan dukungan negatif (hukuman).

    3. Anak bisa mandiri dan bersosialisasi.

      Mengembangkan ketrampilan sosial dan ketrampilan praktis.

    BAB III

    ASUHAN KEPERAWATAN


     

  9. PENGKAJIAN KEPERAWATAN DITINJAU DARI KEPERAWATAN ANAK

    Pengkajian data focus pada anak dengan gangguan perkembangan pervasive menurut Isaac, A (2005) dan Townsend, M.C (1998) antara lain:

  • Tidak suka dipegang
  • Rutinitas yang berulang
  • Tangan digerak-gerakkan dan kepala diangguk-anggukan
  • Terpaku pada benda mati
  • Sulit berbahasa dan berbicara
  • 50% diantaranya mengalami retardasi mental
  • Ketidakmampuan untuk memisahkan kebutuhan fisiologis dan emosi diri sendiri dengan orang lain
  • Tingkat ansietas yang bertambah akibat dari kontak dengan dengan orang lain
  • Ketidakmampuan untuk membedakan batas-batas tubuh diri sendiri dengan orang lain
  • Mengulangi kata-kata yang dia dengar dari yang diucapkan orang lain atau gerakkan-gerakkan mimik orang lain
  • Penolakan atau ketidakmampuan berbicara yang ditandai dengan ketidakmatangan stuktur gramatis, ekolali, pembalikan pengucapan, ketidakmampun untuk menamai benda-benda, ketidakmampuan untuk menggunakan batasan-batasan abstrak, tidak adanya ekspresi nonverbal seperti kontak mata, sifat responsif pada wajah, gerak isyarat.


 

  1. DIAGNOSA KEPERAWATAN

    Menurut Townsend, M.C (1998) diagnosa keperawatan yang dapat dirumuskan pada pasien/anak dengan gangguan perkembangan pervasive autisme antara lain:

  • Risiko tinggi terhadap mutilasi diri berhubungan dengan:
  1. Tugas-tugas perkembangan yang tidak terselesaikan dari rasa percaya terhadap rasa tidak percaya
  2. Fiksasi pada fase prasimbiotik dari perkembangan
  3. Perubahan-perubahan patofisiologis yang terjadi sebagai respons terhadap kondisi-kondisi fisik tertentu seperti rubella pada ibu, fenilketonuria tidak teratasi, ensefalitis, tuberkulosa sclerosis, anoksia selama kelahiran dan sindroma fragilis X
  4. Deprivasi ibu
  5. Stimulasi sensosrik yang tidak sesuai
  6. Sejarah perilaku-perilaku mutilatif/melukai diri sebagai respons terhadap ansietas yang meningkat
  7. Ketidakacuhan yang nyata terhadap lingkungan atau reaksi-reaksi yang histeris terhadap perubahan-perubahan pada lingkungan
  • Kerusakan interaksi sosial berhubungan dengan:
  1. Gangguan konsep diri
  2. Tidak adanya orang terdekat
  3. Tugas perkembangan tidak terselsaikan dari percaya versus tidak percaya
  4. Perubahan-perubahan patofisiologis yang terjadi sebagai respons terhadap kondisi-kondisi fisik tertentu seperti rubella pada ibu fenilketonuria tidak teratasi, ensefalitis, tuberous sclerosis, anoksia selama kelahiran sindrom fragilis X)
  5. Deprivasi ibu
  6. Stimulasi sensorik yang tidak sesuai
  • Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan:
  1. Ketidakmampuan untuk mempercayai
  2. Penarikan diri dari diri
  3. Perubahan patofisiologis yang terjadi sebagai respons terhadap kondisi-kondisi fisik tertentu seperti rubella pada ibu fenilketonuria tidak teratasi, ensefalitis, tuberous sclerosis, anoksia selama kelahiran sindrom fragilis X)
  4. Deprivasi ibu
  5. Stimulasi sensorik yang tidak sesuai
  • Gangguan identitas diri/pribadi berhubungan dengan:
  1. Fiksasi pada fase prasimbiotik dari perkembangan
  2. Tugas-tugas tidak terselesaikan dari rasa percaya versus rasa tidak percaya
  3. Deprivasi ihu
  4. Stimulasi sensorik yang tidak sesuai


 

  1. PERENCANAAN DAN RASIONALISASI

    Menurut Townsend, M.C (1998) perencanaan dan rasionalisasi untuk mengatasi masalah keperawatan pada anak dengan gangguan perkembangan pervasife autisme antara lain:

    1. Resiko terhadap mutilasi diri
  • Tujuan: Pasien akan mendemonstrasikan perilaku-perilaku alternative (misalnya memulai interaksi antara diri dengan perawat) sebagai respons terhadap kecemasan dengan criteria hasil:
  1. Rasa gelisah dipertahankan pada tingkat anak merasa tidak memerlukan perilaku-perilaku mutilatif diri
  2. Pasien memulai interaksi antara diri dan perawat apabila merasa cemas
  • Intervensi
  1. Jamin keselamatan anak dengan memberi rasa aman, lingkungan yang kondusif untuk mencegah perilaku merusak diri
  • Rasional: Perawat bertanggun jawab untuk menjamin keselamatan anak)
  1. Kaji dan tentukan penyebab perilaku – perilaku mutilatif sebagai respon terhadap kecemasan
  • Rasional : pengkajian kemungkinan penyebab dapat memilih cara /alternative pemecahan yang tepat
  1. Pakaikan helm pada anak untuk menghindari trauma saat anak memukul-mukul kepala, sarung tangan untuk mencegah menarik – narik rambut, pemberian bantal yang sesuai untuk mencegah luka pada ekstremitas saat gerakan-gerakan histeris
  • Rasional : Untuk menjaga bagian-bagian vital dari cidera
  1. Untuk membentuk kepercayaan satu anak dirawat oleh satu perawat
  • Rasional : Untuk dapat bisa lebih menjalin hubungan saling percaya dengan pasien
  1. Tawarkan pada anak untuk menemani selama waktu - waktu mening-katnya kecemasan agar tidak terjadi mutilasi
  • Rasional :Dalam upaya untuk menurunkan kebutuhan pada perilaku-perilaku mutilasi diri dan memberikan rasa aman
  1. Kerusakan interaksi sosial
  • Tujuan : Anak akan mendemonstrasikan kepercayaan pada seorang pemberi perawatan yang ditandai dengan sikap responsive pada wajah dan kontak mata dalam waktu yang ditentukan dengan criteria hasil:
    • Anak mulai berinteraksi dengan diri dan orang lain
    • Pasien menggunakan kontak mata, sifat responsive pada wajah dan perilaku-perilaku nonverbal lainnya dalam berinteraksi dengan orang lain
    • Pasien tidak menarik diri dari kontak fisik dengan orang lain
  • Intervensi
    • Jalin hubungan satu – satu dengan anak untuk meningkatkan keper-cayaan
      • Rasional : Interaksi staf dengan pasien yang konsisten meningkatkan pembentukan kepercayaan
    • Berikan benda-benda yang dikenal (misalnya: mainan kesukaan, selimut) untuk memberikan rasa aman dalam waktu-waktu tertentu agar anak tidak mengalami distress
      • Rasional : Benda-benda ini memberikan rasa aman dalam waktu-waktu aman bila anak merasa distres
    • Sampaikan sikap yang hangat, dukungan, dan kebersediaan ketika anak berusaha untuk memenuhi kebutuhan – kebutuhan dasarnya untuk meningkatkan pembentukan dan mempertahankan hubungan saling percaya
      • Rasional: Karakteristik-karakteritik ini meningkatkan pembentukan dan mempertahankan hubungan saling percaya
    • Lakukan dengan perlahan-lahan, jangan memaksakan interaksi-interaksi, mulai dengan penguatan yang positif pada kontak mata, perkenalkan dengan berangsur-angsur dengan sentuhan, senyuman , dan pelukan
      • Rasional : Pasien autisme dapat merasa terncam oleh suatu rangsangan yang gencar pada pasien yang tidak terbiasa
    • Dengan kehadiran anda beri dukungan pada pasien yang berusaha keras untuk membentuk hubungan dengan orang lain dilingkungannya
      • Rasional :Kehadiran seorang yang telah terbentuk hubungan saling percaya dapat memberikan rasa aman
  1. Kerusakan komunikasi verbal
  • Tujuan : Anak akan membentuk kepercayaan dengan seorang pemberi perawatan ditandai dengan sikap responsive dan kontak mata dalam waktu yang telah ditentukan dengan kriteria hasil:
    • Pasien mampu berkomunikasi dengan cara yang dimengerti oleh orang lain
    • Pesan-pesan nonverbal pasien sesuai dengan pengungkapan verbal
    • Pasien memulai berinteraksi verbal dan non verbal dengan orang lain
  • Intervensi
    • Pertahankan konsistensi tugas staf untuk memahami tindakan-tindakan dan komunikasi anak
      • Rasional: Hal ini memudahkan kepercayaan dan kemampuan untuk memahami tindakan-tindakan dan komunikasi pasien
    • Antisipasi dan penuhi kebutuhan-kebutuhan anak sampai kepuasan pola komunikasi terbentuk
      • Rasional : Pemenuhan kebutuhan pasien akan dapat mengurangi kecemasan anak sehingga anak akan dapat mulai menjalin komunikasi dengan orang lain dengan asertif
    • Gunakan tehnik validasi konsensual dan klarifikasi untuk menguraikan kode pola komunikasi ( misalnya :" Apakah anda bermaksud untuk mengatakan bahwa…..?" )
      • Rasional: Teknik-teknik ini digunakan untuk memastikan akurasi dari pesan yang diterima, menjelaskan pengertian-pengertian yang tersembunyi di dalam pesan. Hati-hati untuk tidak "berbicara atas nama pasien tanpa seinzinnya"
    • Gunakan pendekatan tatap muka berhadapan untuk menyampaikan ekspresi-ekspresi nonverbal yang benar dengan menggunakan contoh
      • Rasional: Kontak mata mengekspresikan minat yang murni terhadap dan hormat kepada seseorang
  1. Gangguan Indentitas Pribadi
  • Tujuan: Pasien akan menyebutkan bagian-bagian tubuh diri sendiri dan bagian-bagian tubuh dari pemberi perawatan dalam waktu yang ditentukan untuk mengenali fisik dan emosi diri terpisah dari orang lain saat pulang dengan kriteria hasil:
    • Pasien mampu untuk membedakan bagian-bagian dari tubuhnya dengan bagian-bagian dari tubuh orang lain
    • Pasien menceritakan kemampuan untuk memisahkan diri dari lingkungannya dengan menghentikan ekolalia (mengulangi kata-kata yang di dengar) dan ekopraksia (meniru gerakan-gerakan yang dilihatnya)
  • Intervensi:
    • Fungsi pada hubungan satu-satu dengan anak
      • Rasional : Interaksi pasien staf meningkatkan pembentukan data kepercayaan
    • Membantu anak untuk mengetahui hal-hal yang terpisah selama kegiatan-kegiatan perawatan diri, seperti berpakaian dan makan
      • Rasional : Kegiatan-kegiatan ini dapat meningkatkan kewaspadaan anda terhadap diri sebagai sesuatu yang terpisah dari orang lain
    • Jelaskan dan bantu anak dalam menyebutkan bagian-bagian tubuhnya
      • Rasional : Kegiatan-kegiatan ini dapat meningkatkan kewaspadaan anak terhadap diri sebagai sesuatu yang terpisah dari orang lain
    • Tingkatkan kontak fisik secara bertahap demi tahap, menggunakan sentuhan untuk menjelaskan perbedaan-perbedaan antara pasien dengan perawat. Berhati-hati dengans entuhan sampai kepercayaan anak telah terbentuk
      • Rasional: Bila gerak isyarat ini dapat diintepretasikan sebagai suatu ancaman oleh pasien
    • Tingkatkan upaya anak untuk mempelajari bagian-bagian dari batas-batas tubuh dengan menggunakan cermin dan lukisan serta gambar-gambar dari anak
      • Rasional: Dapat memberikan gambaran tentang bentuk tubuh dan gambaran diri pada anak secara tepat


 


 

BAB IV

PEMBAHASAN

  1. ISSUE DIMASYARAKAT TENTANG AUTIS

    Semakin hari istilah autis semakin banyak diperbincangkan di mana-mana. Hal ini mengindikasikan bahwa perkembangan autis semakin lama semakin meningkat. Namun, yang disayangkan tingkat penyangkalan (denial) orang tua terhadap autis ini masih cukup tinggi. Oleh sebab itu, tidak heran banyak kasus autis menjadi terlambat untuk ditangani. Padahal deteksi dini autis sangat penting untuk membantu tahapan perkembangan anak-anak autis.

    Salah satu masalah keterlambatan penanganan autis ada beberapa hal, salah satunya adalah banyak orang tua yang belum memahami gejala-geala awal autis. "Penyebab autis sebenarnya ada banyak tapi belum ada yang bersifat konklusif. Beberapa penyebab autis antara lain, karena dari makanan yang mengandung zat-zat kimia, pengaruh polusi air, udara, dan sebagainya, serta faktor keturunan atau kelainan gen", tutur Danny Tania, Programme Manger Linguistic Council.

    Autis tidak dapat dikategorikan sebagai penyakit. Sebab, autis belum dapat disembuhkan, tetapi dapat dibantu dengan terapi, bantuan guru khusus, dan peran serta orang tua yang turut aktif membantu.

    Bagi para orang tua, gejala autis pada anak sebenarnya sudah dapat terdeteksi mulai dari usia 16 bulan. Salah satu ciri-cirinya adalah tidak adanya kontak mata dan respon berupa senyuman atau gerakan dari si anak ketika orang tua mengajak berinteraksi.

    Selain itu, perhatikanlah apakah pada usia 18 hingga 36 bulan si anak sudah siap dapat meniru gerakan atau kebiasaan orang tua atau disebut juga pretend-play? Pada usia seperti ini, biasanya anak perempuan akan meniru gerakan ibunya dengan berpura-pura memasak atau bagi anak laki-laki meniru kebiasaan ayahnya dengan membaca Koran atau menggunakan sepatu ayahnya. Nah, jika anak anda tidak dapat melakukan kedua hal di atas, maka ada kemungkinan dia autis.

    Gejala yang lainnya adalah anak suka melakukan kegiatan yang serupa secara berulang-ulang. Contohnya adalah kebiasaan seorang anak membangun bangunan dari balok-balok yang kemudian dihancurkan. Lalu dia membangun kembali balok-balok tersebut ke dalam bentuk dan urutan yang sama persis. Hal ini dilakukan secara berulang-ulang dengan urutan dan bentuk bangunan balok yang sama persis seperti di awal. Ini merupakan salah satu kelebihan anak autis. Sebab, mereka mempunyai kelebihan dalam fotografik memori. Kelebihan ini merupakan suatu anugerah yang dapat anda kembangkan melalui terapi yang tepat. Salah satu bentuk terapi yang dapat meningkatkan perilaku anak autis sekaligus mengurangi kesulitan-kesulitannya adalah melalui terapi perilaku atau metode ABA (Applied Behavioural Analysis). Metode ini melatih anak berkemampuan, social, akademis, dan kemampuan membantu diri sendiri. melalui peranan orang tua dan terapi yang tepat, anak autis dapat diarahkan sesuai dengan kelebihannya. Orang tua dapat membantu mengarahkan anak autis untuk mengembangkan kelebihan-kelebihan mereka seperti, kemampuan focus dan konsentrasi yang luar biasa serta melatih mereka untuk mengurangi berbagai kesulitan-kesulitannya. Terbukti, banyak penderita autis yang akhirnya berfungsi dan mampu berkarya dalam kehidupannya. Banyak di antara mereka yang akhirnya menjadi pakar di bidang sains, matematika, computer, dan lain sebagainya. Hal ini tentunya akan membuat mereka tumbuh menjadi anak yang special dengan kelebihan yang special pula.

  2. PEMBAHASAN
    1. Pengkajian

      Pengkajian yang dilakukan perawat adalah untuk mendapatkan data tentang adanya perilaku yang membahayakan, gejala – gejala yang mengganggu perkembangan dan pertumbuhan penderita, dan menentukan masalah –masalah yang masih bisa ditangani oleh perawat.

    2. Diagnosa Keperawatan
      1. Risiko tinggi terhadip mutilasi ditegakkan agar pasien tidak melakukan tindakan – tindakan yang membahayakan diri ketika pasien merasa terancam. Perawat harus mampu menjadi teman bagi pasien, sehingga pasien merasa nyaman bersama perawat
      2. Kerusakan interaksi social ditegakkan untuk memberikan stimulasi social yang cukup agar anak mampu berinteraksi dengan lingkungan sekitar, anak dengan autis sangat tidak peka terhadap rangsang dari lingkungan, dengan stimulasi yang cukup kuat, diharapkan anak dapat memperhatikan benda – benda disekitarnya
      3. Kerusakan komunikasi verbal ditegakkan agar pasien dapat melakukan komunikasi dengan orang lain menggunakan bahasa yang bisa dipahami oleh orang lain, anak dengan autis biasanya menggunakan simbul – simbul dalam berkomunikasi, sehingga anak perlu dimotivasi untuk menggunakan tanda atau simbul yang mudah dimengerti, dan dimotivasi untuk menggunakan bahasa seperti yang digunakan orang lain, reward untuk keberhasilan menggunakan kata – kata (verbal) sangat baik untuk memotivasi anak menggunakan bahasa verbal.
      4. Gangguan identitas pribadi ditegakkan agar anak bisa membedakan bagian – bagian tubuhnya sendiri dengan lingkungan dan dengan orang lain,

    BAB V

    PENUTUP

  3. KESIMPULAN

    Autis suatu gangguan perkembangan yang sangat kompleks, yang secara klinis ditandai oleh gejala – gejala diantaranya kualitas yang kurang dalam kemampuan interaksi sosial dan emosional, kualitas yang kurang dalam kemampuan komunikasi timbal balik, dan minat yang terbatas, perilaku tak wajar, disertai gerakan-gerakan berulang tanpa tujuan (stereotipik). Selain itu tampak pula adanya respon tak wajar terhadap pengalaman sensorik, yang terlihat sebelum usia 3 tahun. Sampai saat ini penyebab pasti autis belum diketahui, tetapi beberapa hal yang dapat memicu adanya perubahan genetika dan kromosom, dianggap sebagai faktor yang berhubungan dengan kejadian autis pada anak, perkembangan otak yang tidak normal atau tidak seperti biasanya dapat menyebabkan terjadinya perubahan pada neurotransmitter, dan akhirnya dapat menyebabkan adanya perubahan perilaku pada penderita. Dalam kemampuan intelektual anak autis tidak mengalami keterbelakangan, tetapi pada hubungan sosial dan respon anak terhadap dunia luar, anak sangat kurang. Anak cenderung asik dengan dunianya sendiri. Dan cenderung suka mengamati hal – hal kecil yang bagi orang lain tidak menarik, tapi bagi anak autis menjadi sesuatu yang menarik.

    Terapi perilaku sangat dibutuhkan untuk melatih anak bisa hidup dengan normal seperti anak pada umumnya, dan melatih anak untuk bisa bersosialisasi dengan lingkungan sekitar.


     


     

  4. SARAN

    Makalah yang kami susun ini semoga dapat memberikan gambaran jelas tentang asuhan keperawatan pada anak dengan autisme, walaupun masih banyak yang harus dikaji dan ditambahkan agar benar – benar dapat diterapkan dalam asuhan keperawatan. Asuhan yang diberikan kepada anak autis sebaiknya mengacu pada proses tumbuh kembang anak, sehingga diharapkan anak dapat tetap bertumbuh dan berkembang sesuai tingkat usia, dan bisa meminimalisir akibat yang ditimbulkan oleh autisme

    DAFTAR PUSTAKA


     

    Isaac, A., (2005). Panduan Belajar Keperawatan Kesehatan Jiwa & Psikiatrik (terjemahan). Edisi 3. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC


     

    Townsend, M.C., (1998). Buku Saku Diagnosa Keperawata Pada Keperawatan Psikiatri pedoman Untuk Pembuatan Rencana Perawatan (terjemahan). Edisi 3. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC

    Eddy Prasetyo. 2008. Kasus Autisme di Seluruh Dunia Meningkat. Diakses 05 mei 2009 dari: http://www.suarasurabaya.net/v06/kelanakota/?id=c71ee08849735df9b3bd982e3c4e3a73200859667


     

    Asuhan Keperawatan Anak diakses 05 mei 2009 dari http://asuhankeperawatananak.blogspot.com/2008/09/autisme.html


     

    Irwanto,dkk, Gangguan Pemusatan Perhatian-Hiperaktivitas (GPPH). Diakses 05 mei 2009 dari: WWW.PEDIATRIK.COM


     

    Tanggal: Wednesday, 30 April 2008. Mungkinkah Autisme bisa disembuhkan ?….. Diakses 05 mei 2009 dari: http://www.depsos.go.id/modules.php?name=News&file=article&sid=633


     

    Kelainan Susunan Saraf Pusat dan Gangguan Autistik Diakses 05 mei 2009 dari: http://64.203.71.11/kompas-cetak/0307/06/foto/


     


     


     


     

ASUHAN KEPERAWATAN ANAK

DENGAN HEMOFILIA


 

  1. PENDAHULUAN

Pada tahun 2000 hemofilia yang dilaporkan ada 314, pada tahun 2001kasus yang dilaporkan mencapai 530. Diantara 530 kasus ini , 183 kasus terdaftar di RSCM, sisanya terdaftar di Bali, Bangka, Lampung, Medan, Padang, Palembang, Papua, Samarinda, Semarang, Surabaya, Ujung Pandang dan Yogyakarta.Di antara 183 pasien hemofilia yang terdaftar di RSCM, 100 pasien telah diperiksa aktifitas factor VII dan IX. Hasilnya menunjukkan 93 orang adalah hemofilia A dan 7 pasien adalah hemofilia B. Sebagian besar pasien hemofilia A mendapat cryoprecipitate untuk terapi pengganti, dan pada tahun 2000 konsumsi cryoprecipitate mencapai 40.000 kantong setara dengan kira-kira 2 juta unit factor VIII.

Pada saat ini Tim Pelayanan terpadu juga mempunyai komunikasi yang baik dengan Tim Hemofilia dari Negara lain. Pada hari Hemofilia Sedunia tahun 2002, pusat Pelayanan terpadu Hemofilia Nasional.

Pada tahun 2002 pasien Hemofilia yang telah terdaftar di seluruh Indonesia mencapai 757, diantaranya 233 terdaftar di Jakarta, 144 di Sumatra Utara, 92 di Jawa Timur, 86 di Jawa Tengah dan sisanya tersebar dari Nanggroe Aceh Darussalam sampai Papua.


 

  1. TINJAUAN TEORI
  • Pengertian
    • Hemofilia adalah gangguan perdarahan bersifat herediter yang berkaitan dengan defisiensi atau kelainan biologic faktor VII dan faktor IX dalam plasma. (David Ovedoff, Kapita Setekta Kedokteran)
    • Hemofilia adalah penyakit gangguan pembekuan darah yang diturunkan metalui kromosom X. Karena itu, penyakit ini lebih banyak terjadi pada pria karena mereka hanya mempunyai kromosom X, sedangkan wanita umumnya menjadi pembawa sifat saja (carrier). Namun, wanita juga bisa menderita hemofilia jika mendapatkan kromosom X dan ayah hemofilia dan ibu pembawa carrier dan bersifat Letat. (www.info-sehatcom) S Hemofilia adalah gangguan pembekuan darah akibat kekurangan faktor pembeku darah yang disebabkan oleh kerusakan kromosom X. (www.anakku.net.)


 

  • Etiologi
    • Mutasi genetic yang didapat (acquired) atau diturunkan (herediter)
    • Hemofilia A disebabkan kurangnya faktor pembekuan VIII (AHG)
    • Hemofilia B disebabkan kurangnya faktor pembekuan IX (Plasma Tromboplastic Antecendent)

      Hemofitia A maupun B dapat dibedakan menjadi 3:

      • Berat (kadar faktor VIII atau IX < 1%)
      • Sedang (kadar faktor VIII atau IX antara 1% - 5%)
      • Ringan (kadar faktor VIII atau IX antara 5% - 30%)


         

    • Pathofisiologi :

    Hemofilia (A dan B) adalah merupakan penyakit atau gangguan perdarahan yang diturunkan secara sex (x)-linked recessive dan gen untuk faktor VIII dan IX terletak pada ujung lengan panjang (q) kromosom x. Oleh karena itu perempuan biasanya sebagai pembawa (carier) dan laki-laki sebagai penderita. Pada penderita hemofili produksi faktor VIII atau IX berkurang / tidak ada. Akibat kekurangan faktor pembekuan tersebut saat terjadi pendarahan anyaman penutup luka tidak terbentuk sempurna sehingga darah tidak terhenti mengalir / terjadi pendarahan yang lama.


 


 


 


 


 


 


 


 

  • Pathway


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

  • Penatalaksanaan Medis

    Pemeriksaan Lab. darah

    HemofiLia A:

    • Defisiensi faktor VIII
    • PU (Partial ThrombopLastin Time) amat memanjang
    • PT (Prothrombin / time waktu protombin) memanjang
    • TGT (Thromboptastin Generation Test) diferential APTT dengan plasma abnormal
    • Jumlah trombosit dan waktu perdarahan normal

    Hemofilia B:

    • Defisiensi faktor IX
    • PU (PartiaL Thromboptastin Time) amat memanjang
    • PT (Prothrombin Time) waktu protombin dan waktu perdarahan normal
    • TGT (Thromboptastin Generation Test) diferential APTT dengan serum abnormal


 

  • PenataLaksanaan Keperawatan
    • Supportive
      • Menghindari luka
      • Merencanakan suatu kehendak operasi
      • RICE (Rest Ice Compression Evaluation)
      • Pemberian kortikosteroid
      • Pemberian analgetik
      • Rehabilitasi medik
    • Penggantian faktor pembekuan

      Pemberian faktor VIII IX dalam bentuk rekombinan konsentrat maupun komponen darah

    • Terapi gen
    • Lever transplantation
    • Pemberian vitamin K; menghindari aspirin, asamsalisitat, AINS, heparin
    • Pemberian rekombinan faktor VIII
    • Pada pembedahan (dengan dosis kg / BB)

      Faktor VIII dalam bentuk recombinate dan coginate.

      Faktor IX dalam bentuk mononine


       

      • Pengkajian Keperawatan

Aktivitas

Gejala     :    Kelelahan, malaise, ketidak mampuan untuk melakukan aktivitas

Tanda    :     Kelemahan otot

Sirkulasi    

Gejala    :     Palpitasi

Tanda    :    Kulit dan membrane mukosa pucat, deficit saraf serebral/tanda perdarahan serebral

Eliminasi

Gejala    :     Hematuria

Integritas ego

Gejala    :     Perasaan tak ada harapan, tak berdaya

Tanda     :     Depresi menarik diri, ansietas

Nutrisi

Gejata     :     Anoreksia, penurunan BB

Nyeri

Gejala     :    Nyeri tulang, sendi, nyeri tekan sentral, kram otot

Tanda    :     Perilaku berhati-hati, gelisah, rewel

Keamanan

Gejala     :     Riwayat trauma ringan, perdaran spontan

Tanda    :     Hematoma


 

  • Data subjektif Anak
    • Merasa nyeri disendi
    • Merasa nyeri di otot
    • Merasa sendinya bertambah besar (bengkak)
    • Merasa gerakan / aktifitasnya terganggu
  • Data subjektif Orangtua
    • Orang tua mengeluh anaknya nyeri sendi
    • Orang tua mengeluh anaknya Merasa nyeri di otot
    • Orang tua mengeluh sendi anaknya bertambah besar
    • Orang tua mengeluh anaknya kesulitan beraktifitas
  • Data Objektif
    • Sendi bengkak, kemerahan, panas
    • Ekspresi wajah menyeringai jika sendi digerakkan
    • Berjalan pincang / tak normal
    • Posisi kaki ektrimitas yang sakit tidak normal


     

    • Diagnosa Keperawatan
      • Perfusi jaringan tidak efektif (perifer) b/d penurunan konsentrasi Hb darah
      • Resiko trauma dengan fakor resiko internal : kurang pencegahan kecelakaan
      • Resiko kekurangan volume cairan dengan faktor resiko kehilangan cairan melalui rute abnormal (perdarahan)
      • Resiko infeksi dengan faktor resiko trauma
      • Nyeri akut b/d agen injuri biologis
      • Kurang pengetahuan b/d keterbatasan paparan


 

  • Perencanaan Keperawatan
  1. Perfusi jaringan tidak efektif (perifer) b/d penurunan konsentrasi Hb darah NIC:
  • Monitoring vital sign
  • Monitor TD
  • Monitor frekuensi dan irama pernafasan
  • Monitor TD, N, RR, sebelum dan setelah aktivitas
  • Monitor sianosis perifer
  • Monitor suhu, warna, dan kelembapan kulit
    • Monitoring neurology status
      • Monitor GCS
      • Respon pasien terhadap pengobatan
      • Informasikan pada dokter tentang perubahan kondisi pasien

        NOC:

    • Tissue perfusion: peripheral
  • Pengisian kapileri refill
  • Warna kulit abnormal
  • Tingkat sensasi normal
  • Tidak ada nyeri pada ekstremitas
  • Respon pasien terhadap pengobatan
    • Circulation status
  • TD sistolik dbn
  • TD diastolic dbn
  • Kekuatan nadi dbn
  • AGD dbn
  • Tidak ada edema perifer


     

  1. Resiko trauma dengan fakor resiko internal: kurang pencegahan kecelakaan

NIC:

  • Environment management safety
  • Monitor keamanan yang dipertukan pasien
  • Identifikasi bahaya dan keamaman di lingkunan pasien
  • Pindahkan barang-barang dart lingkunan, jika memungkinkan
  • Sediakan rencana adaptif untuk meningkatkan kemanan lingkungan
    • Skin survellance
  • Monitor warna kulit
  • Observasi warna kulit, suhu, nadi, teksture, dan udema

NOC:

  • Abuse protection
  • Kemanan tempat tinggal
  • Keamanan diri sendiri
  • Keamanan anak-anak
  • Rencanakan untuk menghentikan kegiatan
    • Safety behavior: personal

Perkembangan keamanan permainan dan kebiasaan buruk di waktu luang


 

  1. Resiko kekurangan volume cairan dengan faktor resiko kehilangan cairan melalui rute abnormal (perdarahan)

NIC:

  • Bleeding precaution
  • Monitor pasien dalam penghentian perdarahan
  • Catat jumlah Hb/hematokrit sebelum dan setelah perdarahan
  • Lindungi pasien dari trauma, yang mana yang mungkin bisa menyebabkan perdarahan
  • Bleeding reduction
  • Identifikasi penyebab perdarahan
  • Monitor jumlah dan pembawaan darah yang keluar
  • Menginstruksikan pasien dalam pembatasan aktivitas, jika memungkinkan

NOC:

  • Risk detection
  • Mempertahankan pengetahuan terbaru dan riwayat keluarga
  • Mengidentifikasi potensial resiko kesehatan
  • Mengetahui tanda dan gejata yang mengindikasikan resiko infeksi


     

  1. Resiko infeksi dengan faktor resiko trauma

NIC:

  • Infection protection
  • Monitor tanda dan gejala infeksi
  • Monitor sifat mudah Luka infeksi
  • Monitor nilai WBC
    • ControL infection
  • Observasi dan Laporkan tanda dan gejata infeksi
  • Catat dan lapokan nilai Lab. (leukosit, protein, serum, albumin)
  • Istirahat yang adekuat
  • Cuci tangan sebetum dan sesudah metakukan tindakan keperawatan

NOC:

  • Risk control
  • Monitor intensitas cemas
  • Mengetahui faktor resiko dari lingkungan
  • Monitor perubahan status kesehatan
  • Monitor faktor resiko dari tingkah Laku
    • KnowLedge: infection control
  • Mendiskripsikan cara dan penularan infeksi
  • Mendiskripsikan faktor penyebab infeksi
  • Mendiskripsikan tindakan untuk mencegah infeksi
  • Mendisksipsikan tanda dan gejala infeksi


 

  1. Nyeri akut b/d agen injuri biologis

NIC:

  • Pain management
  • Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, dan faktor prespitasi
  • Observasi reaksi nonverbaL dan ketidaknyamanan
  • Gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengataman nyeri pasien
  • Koiabirasi analgetik untuk mengurangi nyeri
  • Pilih dan lakukan penanganan nyeri (farmakologi, non farmakologi, interpersonal)

NOC:

  • Pain control
  • Mengenali faktor penyebab
  • Mengenali onset dan durasi nyeri
  • Menggunakan tanda peringatan untuk mencari pertindungan (mencari bantuan
  • kesehatan)
  • Mengguriakan metode pencegahan
    • Control Level
  • Melaporkan nyeri berkurang/ terkontrol
  • Melaporkan kepuasan/ kesenangan hati pada interaksi social
  • Melaporkan kepuasan dengan mengontrol tarida dan gejala
  • Melaporkan keadaan fisik membaik


 

  1. Kurang pengetahuan b/d keterbatasan paparan

NIC:

  • Teching : diseases process
  • Berikan penitaian tentang tingakt pengetahuan pasien maupun keluarga tentang proses penyakit secara spesifik
  • Gambarkan tanda dan gejala yang bisa muncul pada penyakit dengan cara yang benar
  • Disusikan perubahan gaya hidup yang mungkin diperlukan untuk mencegah komplikasi di masa yang akan datang.

NOC:

  • Knowledge: disease process
  • Menggambarkan proses penyakit
  • Menggambarkan faktor penyebab
  • Menggambarkan faktor pemberat
  • Menggambarkan akibat penyakit
  • Menggambarkan tanda dan gejala


 


 

  1. P E N U T U P

Hemofilia adalah penyakit gangguan pembekuan darah yang diturunkan melalui kromosom X. Penyakit ini lebih banyak menyerang laki-laki karena hanya mempunyai kromosom X, sedangkan wanita hanya sebagal pembawa atau carrier. Hemofitia dibedakan menjadi 2 yaltu hemofilia tipe A yang disebabkan karena kurangnya faktor pembekuan darah ke VIIl dan hemofilia tipe B yang disebabkan karena kurangnya faktor pembekuan darah ke IX. Salah satu tanda dan gejalanya ialah terjadinya perdarahan pada jaringan, karena dapat dengan mudah mengalami perdarahan jika terjadi trauma sedikit saja. Kurangnya faktor pembekuan darah tersebut dapat diatasi dengan melakukan transfusi dengan teknik vinisidal.

Sebagai perawat dituntut untuk dapat mengetahui secara detail teknik pencegahan terjadinya perdarahan ataupun meminimalkan terjadinya trauma.


 


 

DAFTAR PUSTAKA


 

http://anakku.net/

http://purnama87.blogspot.com/

http://hemofilia.or.id/

http://info-sehat.com/

http://kabrindonesia.com/

Ngastiyah. Keperawatan Anak Sakit. 2005. Jakarta: EGC. Jonhson, Marion ; Maas,

Manidean, Moorhead, Sue. 2000. Nursing Outcomes Classification (NOC). Phiadetphia : Mosby.

Mc Closkey dan Butechek, G. 2000 Nursing Interfention CLassification (NIC). PhiLadelphia : Mosby.


 

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN

OTITIS MEDIA


 

Pendahuluan


 

Otitis media adalah peradangan sebagian atau seluruh mukosa telinga tengah, tuba eustacheus, antrum mastoid, dan sel-sel mastoid.Otitis media terbagi atas otitis media supuratif dan non supuratif, dimana masing-masing memiliki bentuk akut dan kronis.Otitis media akut termasuk kedalam jenis supuratif. Selain itu juga ada jenis yang spesifik, yaitu otitis tuberculosa, otitis media sifilitik, dan otitis media adhesive.

Pada beberapa penelitian infeksi ini diperkirakan terjadi pada 25 % anak. Lebih sering pada anak-anak indian amerika dan eskimo dibandingkan dengan anak kulit putih dan paling jarang pada anak kulit hitam.Infeksi umumnya terjadi pada kehidupan dua tahun pertama , sedangkan insiden puncak kedua terjadi pada tahun pertama masa sekolah. Anak-anak yang telah enam kali mengalami serangan otitis media atau lebih dengan istilah cenderung otitis. Suatu penelitian oleh howie menunjukan bahwa suatu periode infeksi s, pneumonia dalam tahun pertama kehidupan telah dihubungkan dengan berlanjutnya insiden otitis media akut berulang. Keadaan ini lebih sering ditemukan pada anak laki-laki dibandingkan anak wanita. Insiden kondisi alergi tidak meningkat pada anak-anak ini. Delapan stereotipe s. pneumoniae bertanggungjawab atas lebih dai 75 % episode otitis media akut . Dengan demikian pengembangan suatu vaksin pneumokok dapat merupakan suatu langkah penting dalam mengendalikan episode berulang ini.

Pengobatan anak-anak dengan kecenderungan mengalami otitis media ini dapat bersifat medis ataupun pembedahan. Penatalaksanaan medis termasuk pemberian antibiotik dosis rendah dalam jangka waktu hingga 3 bulan .Alternatif lain adalah pemasangan tuba ventilasi. Keputusan untuk melakukan miringotomi umumnya berdasarkan kegagalan profilaksis secara medis , atau timbul reaksi alergi terhadap antimikroba yang lazim dipakai, baik golongan sulfa atau penisillin.

Anak lebih mudah diserang otitis media oleh karena :

  1. Sistem kekebalan tubuh anak masih dalam perkembangan.
  2. Saluran tuba eustacheus pada anak lebih lurus secara horizontal dan lebih pendek sehingga ISPA lebih mudah menyebar ke telinga tengah.
  3. Adenoid ( adenoid : salah satu organ ditenggorokan bagian atas yang berperan dalam kekebalan tubuh ) masa anak relatif lebih besar dibanding orang dewasa. Posisi adenoid berdekatan dengan muara saluran tuba eustachius sehingga adenoid yang besar dapat mengganggu terbukanya saluran eustachius. Selain itu adenoid


 


 

sendiri dapat terinfeksi dimana infeksi tersebut kemudian menyebar ke telinga tengah lewat saluran eustacheus.


 

Resiko kekambuhan otitis media terjadi pada beberapa faktor , antara lain usia usia kurang 5 tahun, otitis prone ( pasien yang mengalami otitis pertama kali pada usia kurang 6 tahun, 3 kali dalam 6 bulan terakhir), infeksi pernapasan, perokok, laki-laki.

Kasus yang akan dibahas di bawah ini adalah otitis media akut akibat komplikasi dari rhinitis alergi yang dialami anak usia 6 tahun.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

Tinjauan teori

  1. Anatomi dan fiosiologi

Telinga tengah tersusun atas membran timpani ( gendang telinga ) di sebelah lateral dan kapsul otik disebelah medial celah telinga tengah terletak diantara kedua membrana timpani terletak pada akhiran kanalis aurius eksternus dan menandai batas lateral telinga,membran ini sekitar 1 cm dan selaput tipis normalnya berwarna kelabu mutiara dan translulen.

Telinga tengah merupakan rongga berisi udara merupakan rumah bagi osikuli ( tulang telinga tengah ) dihubungkan dengan tuba eustachii ke nasofaring berhubungan dengan beberapa sel berisi udara di bagian mastoid tulang temporal.tulang telinga tengah mengandung tulang terkecil ( osikuli ) yaitu malleus, inkus stapes. Osikuli dipertahankan pada tempatnya oleh sendi, ligamen dan otot yang membantu hantaran suara.

Ada dua jendela kecil ( jendela oval dan dinding medial telinga tengah, yang memisahkan telinga tengah dengan telinga dalam. Bagian dataran kaki menjejak pada jendela oval, dimana suara dihantar ke telinga tengah. Jendela bulat memberikan jalan ke getaran suara.Jendela bulat ditutupi oleh membrana sangat tipis, dan dataran kaki stapes ditahan oleh yang agak tipis atau struktur berbentuk cincin, anulus jendela bulat maupun jendela oval mudah mengalami robekan. Bila ini terjadi, cairan dari dalam dapat mengalami kebocoran ke telinga tengah kondisi ini dinamakan fistula perilimfe.Tuba eustachii yang lebarnya sekitar 1 mm panjangnya sekitar 35 mm, menghubungkan telinga tengah ke nasofaring. Normalnya tuba eustachii tertutup, namun dapat terbuka akibat kontraksi otot palatum ketika melakukan manuver atau menguap atau menelan.

Tuba berfungsi sebagai drainase untuk sekresi dan menyeimbangkan tekanan dalam telinga tengah dengan tekanan atmosfir.

Guna tuba eustacheus adalah :

  • Menjaga keseimbangan tekanan udara di dalam telinga dan menyesuaikannya dengan tekanan udara di luar.


 

  • Mengalirkan sedikit lendir yang dihasilkan oleh sel-sel yang melapisi telinga tengah kebagian belakang hidung.


 

2.Definisi


 

Otitis berarti peradangan dari telinga, dan media berarti tengah. Jadi otitis media berarti peradangan dari telinga tengah.

Otitis media adalah peradangan sebagian atau seluruh mukosa telinga tengah, tuba eustacheus, antrum mastoid, dan sel-sel mastoid/( soepardi, iskandar ,1990)

Otitis media adalah infeksi atau inflamasi pada telinga tengah ( mediastore, 2009 ).

Otitis media akut adalah infeksi yang disebabkan oleh bakteri pada ruang udara pada tulang temporal (CMDT, edisi 3 , 2004 )

Otitis media akut adalah dari yang timbulnya cepat dan berdurasi pendek, otitis media akut biasanya berhubungan dengan akumulasi cairan di telinga tengah bersama dengan tanda-tanda atau gejala-gejala dari infeksi telinga, gendang telinga, yang menonjol biasanya disertai nyeri, atau gendang telinga yang berlubang, seringkali dengan aliran dengan materi yang bernanah. Demam dapat hadir


 

Otitis media koronik adalah perforasi pada gendang telinga ( warmasif, 2009)

Otitis media kronis adalah peradangan teliga tengah yang gigih, secara khas untuk sedikitnya satu bulan.

Orang awam biasanya menyebut congek (Alfatih, 2007)


 


 

3.Etiologi


 

Sumbatan pada tuba eustachius merupakan penyebab utama dari otitis media.Pertahanan tubuh pada silia mukosa tuba eustachius terganggu, sehingga pencegahan invasi kuman ke dalam telinga tengah terganggu juga. Selain itu ISPA juga merupakan salah satu faktor penyebab paling sering.


 


 


 


 


 


 


 


 

Kuman penyebabnya adalah

Streptococcus.

stapilococcus.

Diplococcus pneumonie.

Hemopilus influens.

moraxela


 

Pada anak makin sering terkena ISPA makin besar kemungkinan terjadinya otitis media akut ( OMA ). Pada bayi OMA dipermudah karena tuba eustachiusnya pendek, lebar, letaknya agak horizontal

Menurut Mediastore (2009) otitis media kronis terjadi akibat adanya lubang pada gendang telinga ( perforasi ).


 


 

4 Patofisiologi

Otitis media sering diawali infeksi pada saluran napas seperti radang tenggorokan atau pilek yang menyebar ke saluran tengah lewat tuba eustacheus. Saat bakteri melalui saluran eustacheus , mereka dapat menyebabkan infeksi disaluran tersebut sehingga terjadi pembengkakan disekitar saluran, tersumbatnya saluran dan datangnya dari sel-sel darah putih untuk melawan bakteri. Terbentuklah pus / nanah dalam telinga tengah. Selain itu pembengkakan jaringan disekitar tuba eustacheus menyebabkan lendir yang dihasilkan sel-sel ditelinga tengah terkumpul dibelakang gendang telinga ( Wikipedia , 2009).

Jika lendir dan nanah bertambah banyak ,pendengaran dapat terganggu karena gendang telinga dan tulang-tulang kecil penghubung telinga dengan organ pendengaran ditelinga dalam tidak dapat bergerak bebas. Kehilangan pendengaran yang dialami pada umumnya sekitar 24 desibel ( kisaran pembicaraan normal ) selain itu juga akan terasa nyeri . dan yang paling berat, dauran yang terlalu banyak tersebut akhirnya dapat merobek gendang telinga karena tekanannya.( Wikipedia, 2009 )

Sebagaimana dengan kejadian infeksi saluran napas atas ( ISPA ) , otitis media juga merupakan salah satu penyakit langganan anak.


 


 

5 Pathway ( terlampir )


 


 


 


 


 

6. Penatalaksanaan medis

Menurut AAFP pemberian 40 mg/kg BB/hari pada anak resiko rendah dan 60 mg /kg BB untuk anak dengan resiko tinggi ( kurang 2 tahun) dirawat di daycare dan ada riwayat pemberian antibiotic tiga bulan terakhir.

WHO menganjurkan 15 mg/kg bb/ hari dengan maksimumnya 500 mg.

AAP menganjurkan dosis 80-90 mg/kg bb/hari.antibiotik pada OMA menghasilkan perbaikan gejala dalam 48-72 jam. 24 jam pertama terjadi stabilisasi, sedang 24 jam kedua terjadi perbaikan. Jika tidak ada perbaikan dalam 48-72 jam, kemungkinan ada penyakit lain. Ini perlu dipertimbangkan pemberian antibiotik kedua. Jika pasien alergi ringan amoksilin dapat diberikan sefdinir, sefpodoxim, cefurosim

Jika alergi berat amoksilin diberikan asitromisin , claritomisin.


 

Analgesik /pereda nyeri

Selain antibiotik disertai pereda nyeri seperti paracetamol atau ibuprofen.namun jika dengan ibuprofen harus dipastikan anak tidak mengalami gangguan pencernaan seprti mual, muntah atau diare .

Lain-lain

  • Pemberian obat-obatan lain seperti antihistamin ( antialergi ) atau dekongestan tidak memberikan manfaat bagi anak .
  • Pemberian kortikosteroid tidak dianjurkan
  • Miriongotomi hanya dilakukan pada kasus gejala sangat berat.
  • Pemberian antibiotik sebagai profilaksis untuk mencegah berulangnya OMA tidak memiliki bukti yang cukup


 

Pencegahan

Beberapa hal yang dapat mengurangi resiko adalah ;

  • Pencegahan ISPA pada bayi dan anak-anak
  • Pemberian ASI minimal selama 6 bulan
  • Penghindaran pemberian susu di botol pada saat anak berbaring
  • Penghindaran pajanan terhadap asap rokok.


 


 


 

7.Penatalaksaan keperawatan


 

Perawatan otitis media akut bervariasi tergantung pada umur dan gejala-gejala dari anak.The American Academy of Pediatric (AAP) dan the American Academy of family Physician 9AAFP ) sebagai berikut :


 

Rekomendasi dari AAP dan AAFP 

umur 

Diagnosa pasti 

Diagnosa tidak pasti

< 6 bulan 

Antibiotik-antibiotik

Antibiotik-antibiotik

6bln-2 thn 

Antibiotik-antibiotik

Antibiotik-antibiotik jika parah * observasi tanpa pilihan antibiotik jika tidak parah

≥ 2 tahun

Antibiotik-antibiotik jika parah.* pilihan observasi jika penyakit tidak parah

* pilihan observasi tanpa antibiotik-antibiotik


 

Merawat otitis media kronik, antibiotik-antibiotik mungkin menghilangkan infeksi. Jika perlubangan gendang telinga juga hadir, obat-obat tetes antibiotik topical mungkin digunakan. Jika luka parut gendang telinga atau ossicle telah terjadi ,itu tidak akan dikembalikan dengan antibiotik-antibiotik saja. Tetapi sudah indikasi untuk operasi.


 

8.Pengkajian:

  1. Anamnesis

    Keluhan utama dapat berupa :

    1. Gangguan pendengaran / pekak.

      Bila ada keluhan gangguan pendengaran, perlu ditanyakan :

      1. Apakah keluhan tsb. pada satu telinga atau kedua


         

        telinga, timbul tiba-tiba atau bertambah secara bertahap dan sudah berapa lamanya.

      2. Apakah ada riwayat trauma kepala, telinga tertampar, trauma akustik atau pemakaian obat ototoksik sebelumnya.
      3. Apakah sebelumnya pernah menderita penyakit infeksi virus seperti parotitis, influensa berat dan meningitis.
      4. Apakah gangguan pendengaran ini diderita sejak bayi ,


       

      1. atau pada tempat yang bising atau pada tempat yang tenang.
    2. Suara berdenging / berdengung (tinitus)
      1. Keluhan telinga berbunyi dapat berupa suara berdengung atau berdenging yang dirasakan di kepala atau di telinga, pada satu sisi atau kedua telinga.
      2. Apakah tinitus ini menyertai gangguan pendengaran.
    3. Rasa pusing yang berputar (vertigo).

      Dapat sebagai keluhan gangguan keseimbangan dan rasa ingin jatuh.

      1. Apakah keluhan ini timbul pada posisi kepala tertentu dan berkurang bila pasien berbaring dan timbul lagi bila bangun dnegan gerakan cepat.
      2. Apakah keluhan vertigo ini disertai mual, muntah, rasa penuh di telinga dan telinga berdenging yang mungkin kelainannya terdapat di labirin atau disertai keluhan neurologis seperti
        disentri, gangguan penglihatan yang mungkin letak kelainannya di sentral. Kadang-kadang keluhan vertigo akan timbul bila ada kekakuan pergerakan otot-oto leher. Penyakit DM, hipertensi, arteriosklerosis, penyakit jantung, anemia, kanker, sifilis, dapat menimbulkan keluhan vertigo dan tinitus.
    4. Rasa nyeri di dalam telinga (Otalgia)
      1. Apakah pada telinga kiri /kanan dan sudah berapa lama.
      2. Nyeri alihan ke telinga dapat berasal dari rasa nyeri gigi, sendi mulut, tonsil, atau tulang servikal karena telinga di sarafi oleh saraf sensoris yang berasal dari organ-organ tersebut.
    5. Keluar cairan dari telinga (otore)
      1. Apakah sekret keluar dari satu atau kedua telinga, disertai rasa sakit atau tidak dan sudah berapa lama.
      2. Sekret yang sedikit biasanya berasal dari infeksi telinga


       

luar dan sekret yang banyak dan bersifat mukoid

umumnya berasal dari telinga tengah. Bila berbau busuk menandakan adanya kolesteatom. Bila bercampur darah harus dicurigai adanya infeksi akut yang berat atau tumor. Bila cairan yang keluar seperti air jernih harus waspada adanya cairan liquor serebrospinal.


 

  1. Tes audiometrik.

    Merupakan pemeriksaan fungsi untuk mengetahui sensitivitas (mampu mendengar suara) dan perbedaan kata-kata (kemampuan membedakan bunyi kata-kata), dilaksanakan dengan bantuan audiometrik.


     

    Tujuan :

    Menentukan apakah seseorang tidak mendengar.

    Untuk mengetahui tingkatan kehilangan pendengaran.

    Tingkat kemampuan menangkap pembicaraan.

    Mengetahui sumber penyebab gangguan pada telinga media (gangguan konduktif) dari telinga tengah (sistem neurologi).

    Pendengaran dapat diidentifikasikan pada saat nol desibel naik sebelum seseorang mendengar suara frekuensi yang spesifik. Bunyi pada titik nol terdengar oleh orang yang pendengarannya normal. Sampai ke-20 db dianggap dalam tingkat normal.


     


     


 

iI. Tindakan Pembedahan

Timpanoplasti dengan pendekatan Ganda (Combined Approach Tympanoplasty)

Operasi ini merupakan teknik operasi timpanoplasti yang dikerjakan pada kasus OMSK tipe maligna atau OMSK tipe benigna dengan jaringan granulasi yang luas.

Tujuan operasi ini untuk menyembuhkan penyakit serta memperbaiki pendengaran tanpa melakukan teknik mastoidektomi radikal (tanpa meruntuhkan dinding posterior liang telinga).


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

  1. Diagnosa Keperawatan
    1. Nyeri berhubungan dengan proses peradangan
      1. Resiko penyebaran infeksi berhubungan dengan komplikasi proses pembedahan / penyakit

        3. Resiko cidera / injury berhubungan dengan penurunan persepsi / sensori.

      2. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan nyeri.
      3. Ansietas berhubungan kurangnya pengetahuan mengenai pengobatan dan pencegahan komplikasi
      4. Isolasi sosial berhubungan dengan nyeri , otore berbau busuk.
      5. Kurangnya pengetahuan mengenai pengobatan dan pencegahan kekambuhan


         


       

      10 Intervensi keperawatan

      Menurut Nining ( 2009 ) intervensi keperawatan yang dapat dilakukan untuk mengatasi diagnosa keperawatan yang muncul pada anak dengan otitis media antara lain ;

    1. Nyeri berhubungan dengan proses peradangan pada telinga tengah

    Tujuan ; Nyeri berkurang atau hilang

    Kriteria hasil ; Nyeri berkurang atau hilang

    Intervensi :

    1. Beri posisi nyaman

      Rasionalisasi ; dengan posisi nyaman dapat mengurangi nyeri

    2. Kompres panas ditelinga bagian luar

      Rasionalisasi : untuk mengurangi nyeri

    3. Kompres dingin

      Rasionalisasi ; untuk mengurangi tekanan telinga / edema

    4. Kolaborasi pemberian analgetik dan antibiotic

      Rasionalisasi ; untuk mencegah adanya penyebaran infeksi ke daerah lain


       


       


       

    2. Resiko infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pengobatan

    Tujuan : infeksi tidak terjadi


     

    Kriteria hasil : tidak ditemukan tanda-tanda infeksi

    Intervensi :


     

    1. Kaji tanda-tanda perluasan infeksi, mastoiditis, vertigo

      Rasionalisasi : untuk mengantisipasi perluasan lebih lanjut.

    2. Jaga kebersihan pada daerah liang telinga

      Rasionalisasi : untuk mengurangi pertumbuhan mikroorganisme

    3. Hindari mengeluarkan ingus dengan paksa / terlalu keras ( sisi )

      Rasionalisasi : untuk menghindari transfer organisme dari tuba eustachius ke telinga tengah

    4. Kolaborasi pemberian antibiotik

      Rasionalisasi : untuk membunuh bakteri dan menghambat perkembangbiakan bakteri sehingga tidak terjadi penyebara n infeksi ke daerah lain


     


     

    3. Resiko cidera / trauma berhubungan dengan penurunan persepsi / sensorik

    Tujuan : anak terhindar dari injury / perlukaan

    Kriteria hasil : tidak terjadi injury / perlukaan

    Intervensi :

    1. pegangi anak atau dudukan anak di pangkuan saat makan
    2. pasang restraint pada sisi tempat tidur
    3. jaga anak saat beraktifitas
    4. tempatkan perabot teratur
    1. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan nyeri

      Tujuan : anak dapat melakukan aktifitas harian dengan bantuan minimal dari perawat dan orang tua

      Kriteria hasil : anak bisa beraktifitas sendiri


       


       

      Intervensi :

      1. Kaji tingkat kemampuan anak dalam melakukan aktifitas, misalnya makan, bermain


         


         

        Rasionalisasi ; pengkajian tentang kemampuan anak dapat dijadikan baha untuk menentukan intervensi yang tepat

      2. Bantu anak dalam melakukan aktifitas sesuai batas kemampuan

        Rasionalisasi : dapat menghemat penggunaan energi serta dapat mengurangi rasa pusing dan nyeri.

      3. Latih anak melakukan aktifitas secara bertahap

        Rasionalisasi : latihan bertahap akan dapat meningkatkan kemampuan anak melakukan aktifitas secara terstruktur tanpa menimbulkan nyeri dan pusing.

      4. Kaji ulang adanya rasa nyeri dan pusing saat beraktifitas

        Rasionalisasi : perasaan pusing dan rasa nyeri dapat mengganggu anak dalam melakukan aktifitas.

    2. Ansietas berhubungan dengan berkurangnya pengetahuan mengenai pengobatan dan pencegahan komplikasi

      Tujuan : anak tidak cemas dan dapat berpartisipasi selama proses pengobatan.

      Kriteria hasil : anak terlibat dalam proses pengobatan / penyembuhan

      Intervensi :

      1. Catat status pendengaran

        Rasionalisasi : penurunan pendengaran yang dialami anak dapat menimbulkan kecemasan anak.

      2. Ingatkan klien bahwa vertigo dan nausea dapat terjadi setelah radikal mastoidectomi karena gangguan telinga dalam. Berikan tindakan pengamanan.

        Rasionalisasi : ketidakahuan anak tentang keluhan yang dapat timbul akibat adanya cairan dalam gendang telinga dapat menyebabkan anak mengalami kecemasan.

      3. Perhatikan droping wajah unilateral atau mati rasa karena perlukaan ( injury ) saraf wajah.


         


         


         

        Rasionalisasi; adanya droping wajah unilateral dapat mendorong anak menjadi cemas dan memerlukan penangaan segera.

    3. Isolasi sosial berhubungan dengan perubahan body image, otoroe, menurun ingatan

      Tujuan : klien tetap mengembangkan hubungan dengan anak lain dan orang tua


     


     

    Intervensi :


     

    1. Bina hubungan saling percaya

      Rasionalisasi : hubungan saling percaya dapat menjadi dasar terjadinya hubungan sosial.


       

      1. Yakinkan anak bahwa setelah dilakukan pengoabatan / pembedahan cairan akan keluar dan bau busuk akan hilang

        Rasionalisasi : anak akan kooperatif / berpartisipasi dalam persiapan pembedahan ( tympanoplasti ) dan akan mulai mengajak bicara dengan perawat dan orang tua / saudara

      2. Yakinkan bahwa anak lain juga dapat menderita penyakit yang sama.

        Rasionalisasi : anak akan dapat meningkatkan harga dirinya ketika bermain dengan anak lain.

    2. Kurangnya pengetahuan mengenai pengobatan dan pencegahan kekambuhan.

      Tujuan : orang tua anak akan mempunyai pemahaman yang baik tentang pengobatan dan cara pencegahan kekambuhan.

      Intervensi :

      1. Ajarkan kleinn mengganti balutan dan menggunakan antibiotik secara kontinyu sesuai aturan.

        Rasionalisasi : pendidikan kesehatan tenyang cara mengganti balutan dapat meingkatkan pemahaman anak dan orangtua sehingga dapat berpartisipasi dalam pencegahan kekambuhan.

      2. Beritahu komplikasi yang mungkin timbul dan bagaimana cara melaporkannya

        Rasionalisasi : pemahaman tentang komplikasi yang dapat terjadi pada anak dapat membantu orang tua dan anak untuk


         

        melaporkan ke tenaga kesehatan sehingga dapat dengan cepat ditangani.

      3. Tekankan hal-hal yang penting yang perlu ditindak lanjuti / evaluasi pendengaran.

        Rasionalisasi : follow up sangat penting dilakukan oleh anak karena dapat mengetahui perkembangan penyakit dan mencegah terjadinya kekambuhan.


 

11. Issue kasus di masyarakat

Penyakit ini tidak pandang harta sehingga dapat ditemukan di setiap lapisan masyarakat, bahka di Negara maju. Hanya saja di Negara maju tersbut penyakit ini tidak sampai menimbulkan tuli berat, tuli total atau tuli komplikasi yang berakibat kematian

Menurut A. Djaafar Guru Besar Ilmu Penyakit THT FK UI, hal itu disebabkan kesadaran masyarakat tentang kesehatan telinga sudah tinggi ditambah fasilitas dan memperoleh penanganan yang tepat

Seringkali congek berobatnya terlambat. Penyebabnya anatara lain malu, menganggap penyakit tidak berbahaya dan apalagi jika tak ada nyeri dianggap sudah sembuh sendiri.


Kronisitas penyakit congek ini di masyarakat dipengaruhi beberapa faktor antara lain:

  • Pengetahuan masyarakat tentang penyakit ini masih kurang
  • Daya tahan tubuh yang rendah akibat penyakit seperti kekurangan gizi, kekurangan darah, dan gangguan pada sistem kekebalan tubuh.
  • Infeksi saluran nafas atas berulang
  • Radang akut telinga tengah yang tidak mendapatkan pengobatan yang cepat dan tepat
  • Kekuatan atau virulensi kuman
  • Kebiasaan yang salah seperti mengeluarkan ingus dengan memencet kedua hidung, mandi atau berenang atau menyelam pada penderita dengan gendang berlubang tanpa menggunakan pelindung telinga dan kebiasaan mengorek telinga, serta
  • Lingkungan dan sosial ekonomi masyarakat.


Untuk mencegah penyakit ini dan timbulnya komplikasi, diperlukan diagnosis dan penanganan yang cepat dan tepat. Dalam


 

era antibiotika saat ini, angka kejadian penyakit ini sudah dapat ditekan.

Kendala yang dihadapi dalam penanggulangan penyakit congek antara lain:

  • Jumlah dokter spesialis THT masih kurang, penyebarannya tidak merata, dan kebanyakan mengumpul di kota-kota besar.
  • Sarana alat-alat THT yang masih terbatas
  • Standar penanganan
  • Penatalaksanaan baku di lapangan untuk dokter umum dan tenaga kesehatan lainnya belum disosialisasikan.

Upaya pengobatan bisa dilakukan mulai dari yang paling sederhana seperti menggunakan tetes telinga. Tetapi perlu juga diperhatikan aturan pakai obat tetes ini, karena kalau salah bisa mengakibatkan keracunan pada organ pendengaran di telinga dalam.

Ini justru bisa berefek timbulnya ketulian yang menetap. Penggunaan dekongestan hidung sangat membantu karena dapat membuka saluran telinga tengah yang tersumbat. Upaya terakhir yang bisa dilakukan jika pengobatan ini tidak berhasil antara lain :

  • Jika gendang telinga berlubang kurang dari 30%, dilakukan pemasangan paper patch dengan bahan dari kertas yang diolesi salep yang mengandung zat perangsang tumbuhnya jaringan pada gendang telinga yang berlubang sehingga lubang tadi dapat menutup kembali.
  • Jika gendang telinga berlubang lebih dari 30%, dilakukan operasi timpanoplasti. Pada operasi ini, bahan untuk menutup gendang telinga yang berlubang diambil dari lapisan pembungkus otot di belakang telinga yang kemudian ditempelkan pada genderang telinga yang berlubang.
  • Fungsi jaringan otot yang ditempelkan adalah sebagai jembatan dan memberikan zat-zat makanan untuk genderang telinga yang asli agar dapat tumbuh asli seperti semula, menghentikan keluhan telinga berair, mencegah infeksi berulang serta mencegah terjadinya komplikasi, dan memperbaiki pendengaran menjadi normal


 


 


 

13. Pembahasan


 

Laporan kasus

Identitas pasien

Nama        : An. S

Umur        ; 6 Tahun

Jenis Kelamin    : Laki-Laki

Pekerjaa        : Siswa SD

Alamat        : Narmada

Mrs            ; 08 Agustus 2008

No. Rm        : 87 77 95


 

Anamnesis

  • Keluhan utama ; keluar cairan putih dari telinga kiri setelah beberapa hari batuk dan pilek
  • Riwayat penyakit sekarang : pasien mengalami batuk dan pilek keluar caira bening dari telinga kiri dengan konsistensi kenyal, tidak bau dan disertai nyeri telinga. Pasien tidak mengalami demam dan pusing.
  • Riwayat penyakit dahulu ; pasien tidak pernah mengalami penyakit yang sama sebelumnya.


 


 

Pemeriksaan fisik

Keadaan umum ; baik

Status lokalis ;

telinga

    

 

Telinga kanan 

Telinga kiri 

aurikula 

Edema (- ), massa (-) 

Edema ( - ), massa ( - ) 

preaurikula 

Edema (-) , hiperemi (-) -,massa (-) , fistula (-) ,abses (-)

Edema (-), hiperemi (-), massa (-), abses (-)

retroaurikula

Edema (-), hiperemi (-), massa (-), fistula (-),abses (-)

Edema (-), hiperemi (-), massa (-), fistula (-), abses (-)

palpasi

Nyeri pergerakan aurikula (-), nyeri tean tragus (-)

Nyeri pergerakan aurikula (-), nyeri tekan tragus (-)

MAF

Edema (-), hiperemi (-), serumen (+),, furunkel (-)

Edem (+), heperemi (-), serumen (+) kental, furunkel (-)

Membrane timpani

Intake, berwarna putih, reflek cahaya (+)

Perforasi (+) sentral, aktif, reflek cahaya (-)


 

Hidung


 

Rinoskopi anterior

Cavum nasi kanan

Cavum nasi kiri

Mukosa hidung

Hiperemi (+), secret (+), mukusa puruln (+), massa (-)

Hiperemi (+), secret (+), mukosa perulen, masaa (-)

Septum konka inferior dan media

Deviasi (-), dislokasi (-), edema (+), hiperemi (+)

Deviasi (-), dislokasi (-), edema (+), hiperemi (+)

Meatus inferior dan media

Secret (+), polip (-0

Secret (+), polip (-)


 

Tenggorokan


KeteranganMukosa tonsilHiperemi (+), edema (-), TI-TIPembesaran kelenjar limfe (-)


Diagnosis
otitis media akut stadium perforasi aurikuler sinistra et causa rhinitis kronis

Penatalaksanaan
Belamox syrup ( antibiotic )
 

  1. Somerol ( kortikosteroid)

  1. Salbutamol (antihistamin)
  2. Lapifed ( dekongestan )


 

Diskusi

Otitis media merupakan suatu peradangan pada telinga tengah. Otitis dapat disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya yang paling sering adalah sumbatan tuba eustachius akibat infeksi. Selain itu otitis media juga dapat merupakan suatu komplikasi akibat penyakit lain misalnya rhinitis kronis, faringitis, otitis eksterna, dan lain-lain.


 

Gejala yang sering timbul pada otitis media biasanya ialah rasa nyeri, pendengaran berkurang, demam, pusing juga kadang disertai mendengar suara berdengung ( tinitus )


 

Pada kasus di atas, pasien mengalami gejala nyeri pada telinga kiri sejak 1 hari, yang disertai dengan batuk pilek berulang sejak lama. Pasien juga mengeluhkan adanya keluar cairan jernih dari telinga kirinya. Untuk menegakkan diagnosa otitis media, perlu dilakukan pemeriksaan otoskopi. Ditemukan adanya perforasi sentral pada


 

membrane telinga kiri disertai adanya pengeluaran cairan. Kemungkinan stadium otitis medianya ialah stadium perforasi

Penyebab yang mungkin sebagai pencetus otitis media pada pasien diatas ialah rhinitis kronis. Pasien mengalami batuk pilek sudah lama. Dari pemeriksaan rinoskopi anterior didapatkan konka nasalis inferior mengalami edema dan hiperemi yang disertai adanya mukos purulen. Kemungknan pasien mengalami rhinitis kronis. Sehingga bisa disimpulkan bahwa penyebab otitis medianya adalah komplikasi dari rhinitis kronis.


 

Pengobatan yang diberikann pada pasien diatas adalah pemberian antibiotik ( belamox syrup ), kortikosteroid ( somerol), analgesik, antihistamin ( salbutamol), dan dekongestan ( lapifed).kemudian pasien diminta kontrol lagi 1 minggu jika gejala tidak hilang


 


 

DAFTAR PUSTAKA


 

Geocities, (2007), Otitis Media Supuratif Kronis, http>//www.geocities.com/kpskap3sakti/lain2/tarakan/tht/omsk.doc

Diakses tanggal 16 April 2009


 

http://www.totalkesehatananda.com/otitis media

diakses tanggal 27 April 2009


 

Wikipedia, (2009). Otitis Media .http://id.wikipedia.org/wiki/otitis.

Diakses tanggal 3 April 2009


 

Efiaty,dr, Penatalaksanaan Penyakit Dan Kelainan Telinga-Hidung-Tenggorok,Fakultas Kedokteran UGM


 


 

Lawrence,(2004), CMDT, edisi 43,medical publishing division


 

Adam, Buku Ajar Penyakit Tht (BOIES Fundamental Of Otolaryngilogy , edisi 6, Kedokteran EGC


 

Mediastore, (2009), Otitis Media Kronik

http://mediastore.com/penyakit/53/otitis_media_kronis.html.

Diakses tanggal 10 April 2009


 

Warmasif, (2009).otitis media kronik

http://www.warmasif.co.id/kesehatanonline/mod.php.

Diakses tanggal 10 April 2009


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

Lampiran Pathway


 


 

Infeksi saluran nafas atas sumbatan tuba eustachius


 


 

Masuknya kuman penyebab

( kedalam liang telinga tengah )


 


 

Peradangan


 


 

Tekanan negative dalam telinga tengah

((akibat absorbsi udara)


 


 

Retraksi membrane timpani

Membrane timpani hipremesis & edema


 


 

membrane timpani menonjol (Bulging)


 

Tekanan kapiler & nekrosis membrane timpani


 


 

Rupture membrane

Keluar nanah/secret


 

Perubahan pendengaran


 


 


 


 

Daya tahan tubuh baik Daya tahan tubuh tidak baik


 


 

Resolusi Skret keluar terus

( sembuh) ( kakambuhan/ kronis)


 


 


 


 


 

Gbr. 1. Pathways Otitis media acuta dikembangkan dari Soepardi & Iskandar (1990)