HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN MOTIVASI PASIEN MELAKUKAN KEGIATAN SEHARI – HARI SELAMA RAWAT INAP DI BANGSAL P6 RUMAH SAKIT JIWA PROF. DR. SOEROJO MAGELANG
BAB I
PENDAHULUAN
A.LATAR BELAKANG MASALAH
B.
ASUHAN KEPERAWATAN ANAK
DENGAN AUTISME
BAB I
PENDAHULUAN
Setiap tahun di seluruh dunia, kasus autisme mengalami peningkatan. Dalam penelitian yang dirangkum Synopsis of Psychiatry awal 1990-an, kasus autisme masih berkisar pada perbandingan 1 : 2.000. Angka ini meningkat di tahun 2000 dalam catatan Sutism Research Institute di Amerika Serikat sebanyak 1 dari 150 anak punya kecenderungan menderita autis. Di Inggris, datanya lebih mengkhawatirkan. Di sana berdasarkan data International Congress on Autism tahun 2006 tercatat 1 dari 130 anak punya kecenderungan autis.
Bagaimana dengan Indonesia? Dr SASANTI YUNIAR, SpKJ (K) dari Ilmu Kedoktera Jiwa RSU dr Soetomo, Surabaya saat berbicara dalam sesi seminar Surabaya Peduli Autisme yang digelar Surabaya City Guide-Mossaik Media Communication, Sabtu (13/12) di Empire Palace mengatakan cukup sulit untuk mendapatkan data penderita autis di Indonesia.
Ini karena orangtua anak yang dicurigai mengidap autisme seringkali tidak menyadari gejala-gejala autisme pada anak. Akibatnya, mereka merujuknya ke pintu lain di RS. Misalnya ke bagian THT karena menduga anaknya mengalami gangguan pendengaran dan ke Poli Tumbuh Kembang Anak karena mengira anaknya mengalami masalah dengan perkembangan fisik.
"Tapi kita memang merasakan makin banyak kasus autisme ini di Indonesia dari tahun ke tahun," papar dia.
SASANTI dalam bagian lain tidak bisa menjelaskan apa penyebab makin banyaknya kasus autisme di Indonesia. Yang bisa dilacak adalah faktor yang terkait dengan autisme, misalnya genetis dan biologis. Secara biologis, ada kemungkinan autisme berkaitan dengan gangguan pencernaan, alergi, gangguan kandungan, maupun polusi.(edy).( suarasurabaya.net. 13 desember 2008)
Mahasiswa mampu menerapkan konsep keperawatan pada anak dengan autisme
TINJAUAN TEORI
Autisme menurut Rutter 1970 adalah Gangguan yang melibatkan kegagalan untuk mengembangkan hubungan antar pribadi (umur 30 bulan), hambatan dalam pembicaraan, perkembangan bahasa, fenomena ritualistik dan konvulsif.(Sacharin, R, M, 1996: 305)
Autisme masa kanak-kanak dini adalah penarikan diri dan kehilangan kontak dengan realitas atau orang lain. Pada bayi tidak terlihat tanda dan gejala. (Sacharin, R, M, 1996 : 305)
Autisme Infantil adalah Gangguan kualitatif pada komunikasi verbal dan non verbal, aktifitas imajinatif dan interaksi sosial timbal balik yang terjadi sebelum usia 30 bulan.(Behrman, 1999: 120)
Menurut Isaac, A (2005) autisme merupakan gangguan perkembangan pervasive dengan masalah awal tiga area perkembangan utama yaitu perilaku, interaksi sosial dan komunikasi. Gangguan ini dicirikan dengan gangguan yang nyata dalam interaksi sosial dan komunikasi, serta aktivitas dan minat yang terbatas. Autisme adalah kelainan yang mempunyai dampak besar terhadap kehidupan penderita, keluarga dan masyarakat sekitarnya. Kadang keadaan ini membuat kebingungan dan sangat menyakitkan hati orang tua penderita. Definisi Autisme adalah kelainan neuropsikiatrik yang menyebabkan kurangnya kemampuan berinteraksi sosial dan komunikasi, minat yang terbatas, perilaku tidak wajar dan adanya gerakan stereotipik, dimana kelainan ini muncul sebelum anak berusia 3 tahun (Teramihardja, J, 2007).
Suatu gangguan perkembangan yang sangat kompleks, yang secara klinis ditandai oleh adanya 3 gejala utama berupa : kualitas yang kurang dalam kemampuan interaksi sosial dan emosional, kualitas yang kurang dalam kemampuan komunikasi timbal balik, dan minat yang terbatas, perilaku tak wajar, disertai gerakan-gerakan berulang tanpa tujuan (stereotipik). Selain itu tampak pula adanya respon tak wajar terhadap pengalaman sensorik, yang terlihat sebelum usia 3 tahun.
Sepuluh tahun yang lalu penyebab autisme belum banyak diketahui dan hanya terbatas pada faktor psikologis saja. Tetapi sekarang ini penelitian mengenai autisme semakin maju dan menunjukkan bahwa autisme mempunyai penyebab neurobiologist yang sangat kompleks. Gangguan neurobiologist ini dapat disebabkan oleh interaksi faktor genetik dan lingkungan seperti pengaruh negatif selama masa perkembangan otak. Banyak faktor yang menyebabkan pengaruh negatif selama masa perkembangan otak, antara lain; penyakit infeksi yang mengenai susunan saraf pusat, trauma, keracunan logam berat dan zat kimia lain baik selama masa dalam kandungan maupun setelah dilahirkan, gangguan imunologis, gangguan absorpsi protein tertentu akibat kelainan di usus (Suriviana, 2005).
Menurut Dewo (2006) gangguan perkembangan pervasive autisme dapat disebabkan karena beberapa hal antara lain:
Sel saraf otak (neuron) terdiri atas badan sel dan serabut untuk mengalirkan impuls listrik (akson) serta serabut untuk menerima impuls listrik (dendrit). Sel saraf terdapat di lapisan luar otak yang berwarna kelabu (korteks). Akson dibungkus selaput bernama mielin, terletak di bagian otak berwarna putih. Sel saraf berhubungan satu sama lain lewat sinaps.
Sel saraf terbentuk saat usia kandungan tiga sampai tujuh bulan. Pada trimester ketiga, pembentukan sel saraf berhenti dan dimulai pembentukan akson, dendrit, dan sinaps yang berlanjut sampai anak berusia sekitar dua tahun.
Setelah anak lahir, terjadi proses pengaturan pertumbuhan otak berupa bertambah dan berkurangnya struktur akson, dendrit, dan sinaps. Proses ini dipengaruhi secara genetik melalui sejumlah zat kimia yang dikenal sebagai brain growth factors dan proses belajar anak.
Makin banyak sinaps terbentuk, anak makin cerdas. Pembentukan akson, dendrit, dan sinaps sangat tergantung pada stimulasi dari lingkungan. Bagian otak yang digunakan dalam belajar menunjukkan pertambahan akson, dendrit, dan sinaps. Sedangkan bagian otak yang tak digunakan menunjukkan kematian sel, berkurangnya akson, dendrit, dan sinaps.
kelainan genetis, keracunan logam berat, dan nutrisi yang tidak adekuat dapat menyebabkan terjadinya gangguan pada proses – proses tersebut. Sehingga akan menyebabkan abnormalitas pertumbuhan sel saraf.
Pada pemeriksaan darah bayi-bayi yang baru lahir, diketahui pertumbuhan abnormal pada penderita autis dipicu oleh berlebihnya neurotropin dan neuropeptida otak (brain-derived neurotrophic factor, neurotrophin-4, vasoactive intestinal peptide, calcitonin-related gene peptide) yang merupakan zat kimia otak yang bertanggung jawab untuk mengatur penambahan sel saraf, migrasi, diferensiasi, pertumbuhan, dan perkembangan jalinan sel saraf. Brain growth factors ini penting bagi pertumbuhan otak.
Peningkatan neurokimia otak secara abnormal menyebabkan pertumbuhan abnormal pada daerah tertentu. Pada gangguan autistik terjadi kondisi growth without guidance, di mana bagian-bagian otak tumbuh dan mati secara tak beraturan.
Pertumbuhan abnormal bagian otak tertentu menekan pertumbuhan sel saraf lain. Hampir semua peneliti melaporkan berkurangnya sel Purkinye (sel saraf tempat keluar hasil pemrosesan indera dan impuls saraf) di otak kecil pada autisme. Berkurangnya sel Purkinye diduga merangsang pertumbuhan akson, glia (jaringan penunjang pada sistem saraf pusat), dan mielin sehingga terjadi pertumbuhan otak secara abnormal atau sebaliknya, pertumbuhan akson secara abnormal mematikan sel Purkinye. Yang jelas, peningkatan brain derived neurotrophic factor dan neurotrophin-4 menyebabkan kematian sel Purkinye.
Gangguan pada sel Purkinye dapat terjadi secara primer atau sekunder. Bila autisme disebabkan faktor genetik, gangguan sel Purkinye merupakan gangguan primer yang terjadi sejak awal masa kehamilan.
Degenerasi sekunder terjadi bila sel Purkinye sudah berkembang, kemudian terjadi gangguan yang menyebabkan kerusakan sel Purkinye. Kerusakan terjadi jika dalam masa kehamilan ibu minum alkohol berlebihan atau obat seperti thalidomide.
Penelitian dengan MRI menunjukkan, otak kecil anak normal mengalami aktivasi selama melakukan gerakan motorik, belajar sensori-motor, atensi, proses mengingat, serta kegiatan bahasa. Gangguan pada otak kecil menyebabkan reaksi atensi lebih lambat, kesulitan memproses persepsi atau membedakan target, overselektivitas, dan kegagalan mengeksplorasi lingkungan.
Pembesaran otak secara abnormal juga terjadi pada otak besar bagian depan yang dikenal sebagai lobus frontalis. Kemper dan Bauman menemukan berkurangnya ukuran sel neuron di hipokampus (bagian depan otak besar yang berperan dalam fungsi luhur dan proses memori) dan amigdala (bagian samping depan otak besar yang berperan dalam proses memori).
Penelitian pada monyet dengan merusak hipokampus dan amigdala mengakibatkan bayi monyet berusia dua bulan menunjukkan perilaku pasif-agresif. Mereka tidak memulai kontak sosial, tetapi tidak menolaknya. Namun, pada usia enam bulan perilaku berubah. Mereka menolak pendekatan sosial monyet lain, menarik diri, mulai menunjukkan gerakan stereotipik dan hiperaktivitas mirip penyandang autisme. Selain itu, mereka memperlihatkan gangguan kognitif.
Faktor lingkungan yang menentukan perkembangan otak antara lain kecukupan oksigen, protein, energi, serta zat gizi mikro seperti zat besi, seng, yodium, hormon tiroid, asam lemak esensial, serta asam folat.
Adapun hal yang merusak atau mengganggu perkembangan otak antara lain alkohol, keracunan timah hitam, aluminium serta metilmerkuri, infeksi yang diderita ibu pada masa kehamilan, radiasi, serta ko kain.
Keterlambatan atau fungsi abnormal pada ketrampilan berikut, muncul sebelum umur 3 tahun.
Diagnosis harus memenuhi kriteria DSM IV (Diagnostic And Statistical Of Manual Disorders 1992 Fourth Edition). Diagnosis autisme bisa ditegakkan apabila terdapat enam atau lebih gejala dari (1), (2) dan (3) dengan paling sedikit 2 dari (1) dan 1 dari masing-masing (2) dan (3).
Kimia otak yang kadarnya abnormal pada penyandang autis adalah serotonin 5-hydroxytryptamine (5-HT), yaitu neurotransmiter atau penghantar sinyal di sel-sel saraf. Sekitar 30-50 persen penyandang autis mempunyai kadar serotonin tinggi dalam darah.
Kadar norepinefrin, dopamin, dan serotonin 5-HT pada anak normal dalam keadaan stabil dan saling berhubungan. Akan tetapi, tidak demikian pada penyandang autis.
Terapi psikofarmakologi tidak mengubah riwayat keadaan atau perjalanan gangguan autistik, tetapi efektif mengurangi perilaku autistik seperti hiperaktivitas, penarikan diri, stereotipik, menyakiti diri sendiri, agresivitas dan gangguan tidur.
Sejumlah observasi menyatakan, manipulasi terhadap sistem dopamin dan serotonin dapat bermanfaat bagi pasien autis. Antipsikotik generasi baru, yaitu antipsikotik atipikal, merupakan antagonis kuat terhadap reseptor serotonin 5-HT dan dopamin tipe 2 (D2).
Risperidone bisa digunakan sebagai antagonis reseptor dopamin D2 dan serotonin 5-HT untuk mengurangi agresivitas, hiperaktivitas, dan tingkah laku menyakiti diri sendiri.
Olanzapine, digunakan karena mampu menghambat secara luas pelbagai reseptor, olanzapine bisa mengurangi hiperaktivitas, gangguan bersosialisasi, gangguan reaksi afektual (alam perasaan), gangguan respons sensori, gangguan penggunaan bahasa, perilaku menyakiti diri sendiri, agresi, iritabilitas emosi atau kemarahan, serta keadaan cemas dan depresi.
Untuk meningkatkan keterampilan sosial serta kegiatan sehari-hari, penyandang autis perlu diterapi secara nonmedikamentosa yang melibatkan pelbagai disiplin ilmu. Menurut dr Ika Widyawati SpKJ dari Bagian Ilmu Penyakit Jiwa FKUI, antara lain terapi edukasi untuk meningkatkan interaksi sosial dan komunikasi, terapi perilaku untuk mengendalikan perilaku yang mengganggu/membahayakan, terapi wicara, terapi okupasi/fisik, sensori-integrasi yaitu pengorganisasian informasi lewat semua indera, latihan integrasi pendengaran (AIT) untuk mengurangi hipersensitivitas terhadap suara, intervensi keluarga, dan sebagainya.
Untuk memperbaiki gangguan saluran pencernaan yang bisa memperburuk kondisi dan gejala autis, dilakukan terapi biomedis. Terapi itu meliputi pengaturan diet dengan menghindari zat-zat yang menimbulkan alergi (kasein dan gluten), pemberian suplemen vitamin dan mineral, serta pengobatan terhadap jamur dan bakteri yang berada di dinding usus.
Dengan pelbagai terapi itu, diharapkan penyandang autis bisa menjalani hidup sebagaimana anak-anak lain dan tumbuh menjadi orang dewasa yang mandiri dan berprestasi.
Penatalaksanaan pada autisme bertujuan untuk:
Terapi perilaku dengan memanfaatkan keadaan yang terjadi dapat meningkatkan kemahiran berbicara. menagement perilaku dapat mengubah perilaku destruktif dan agresif.
Latihan dan pendidikan dengan menggunakan pendidikan (operant conditioning yaitu dukungan positif (hadiah) dan dukungan negatif (hukuman).
Mengembangkan ketrampilan sosial dan ketrampilan praktis.
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
Pengkajian data focus pada anak dengan gangguan perkembangan pervasive menurut Isaac, A (2005) dan Townsend, M.C (1998) antara lain:
Menurut Townsend, M.C (1998) diagnosa keperawatan yang dapat dirumuskan pada pasien/anak dengan gangguan perkembangan pervasive autisme antara lain:
Menurut Townsend, M.C (1998) perencanaan dan rasionalisasi untuk mengatasi masalah keperawatan pada anak dengan gangguan perkembangan pervasife autisme antara lain:
BAB IV
PEMBAHASAN
Semakin hari istilah autis semakin banyak diperbincangkan di mana-mana. Hal ini mengindikasikan bahwa perkembangan autis semakin lama semakin meningkat. Namun, yang disayangkan tingkat penyangkalan (denial) orang tua terhadap autis ini masih cukup tinggi. Oleh sebab itu, tidak heran banyak kasus autis menjadi terlambat untuk ditangani. Padahal deteksi dini autis sangat penting untuk membantu tahapan perkembangan anak-anak autis.
Salah satu masalah keterlambatan penanganan autis ada beberapa hal, salah satunya adalah banyak orang tua yang belum memahami gejala-geala awal autis. "Penyebab autis sebenarnya ada banyak tapi belum ada yang bersifat konklusif. Beberapa penyebab autis antara lain, karena dari makanan yang mengandung zat-zat kimia, pengaruh polusi air, udara, dan sebagainya, serta faktor keturunan atau kelainan gen", tutur Danny Tania, Programme Manger Linguistic Council.
Autis tidak dapat dikategorikan sebagai penyakit. Sebab, autis belum dapat disembuhkan, tetapi dapat dibantu dengan terapi, bantuan guru khusus, dan peran serta orang tua yang turut aktif membantu.
Bagi para orang tua, gejala autis pada anak sebenarnya sudah dapat terdeteksi mulai dari usia 16 bulan. Salah satu ciri-cirinya adalah tidak adanya kontak mata dan respon berupa senyuman atau gerakan dari si anak ketika orang tua mengajak berinteraksi.
Selain itu, perhatikanlah apakah pada usia 18 hingga 36 bulan si anak sudah siap dapat meniru gerakan atau kebiasaan orang tua atau disebut juga pretend-play? Pada usia seperti ini, biasanya anak perempuan akan meniru gerakan ibunya dengan berpura-pura memasak atau bagi anak laki-laki meniru kebiasaan ayahnya dengan membaca Koran atau menggunakan sepatu ayahnya. Nah, jika anak anda tidak dapat melakukan kedua hal di atas, maka ada kemungkinan dia autis.
Gejala yang lainnya adalah anak suka melakukan kegiatan yang serupa secara berulang-ulang. Contohnya adalah kebiasaan seorang anak membangun bangunan dari balok-balok yang kemudian dihancurkan. Lalu dia membangun kembali balok-balok tersebut ke dalam bentuk dan urutan yang sama persis. Hal ini dilakukan secara berulang-ulang dengan urutan dan bentuk bangunan balok yang sama persis seperti di awal. Ini merupakan salah satu kelebihan anak autis. Sebab, mereka mempunyai kelebihan dalam fotografik memori. Kelebihan ini merupakan suatu anugerah yang dapat anda kembangkan melalui terapi yang tepat. Salah satu bentuk terapi yang dapat meningkatkan perilaku anak autis sekaligus mengurangi kesulitan-kesulitannya adalah melalui terapi perilaku atau metode ABA (Applied Behavioural Analysis). Metode ini melatih anak berkemampuan, social, akademis, dan kemampuan membantu diri sendiri. melalui peranan orang tua dan terapi yang tepat, anak autis dapat diarahkan sesuai dengan kelebihannya. Orang tua dapat membantu mengarahkan anak autis untuk mengembangkan kelebihan-kelebihan mereka seperti, kemampuan focus dan konsentrasi yang luar biasa serta melatih mereka untuk mengurangi berbagai kesulitan-kesulitannya. Terbukti, banyak penderita autis yang akhirnya berfungsi dan mampu berkarya dalam kehidupannya. Banyak di antara mereka yang akhirnya menjadi pakar di bidang sains, matematika, computer, dan lain sebagainya. Hal ini tentunya akan membuat mereka tumbuh menjadi anak yang special dengan kelebihan yang special pula.
Pengkajian yang dilakukan perawat adalah untuk mendapatkan data tentang adanya perilaku yang membahayakan, gejala – gejala yang mengganggu perkembangan dan pertumbuhan penderita, dan menentukan masalah –masalah yang masih bisa ditangani oleh perawat.
BAB V
PENUTUP
Autis suatu gangguan perkembangan yang sangat kompleks, yang secara klinis ditandai oleh gejala – gejala diantaranya kualitas yang kurang dalam kemampuan interaksi sosial dan emosional, kualitas yang kurang dalam kemampuan komunikasi timbal balik, dan minat yang terbatas, perilaku tak wajar, disertai gerakan-gerakan berulang tanpa tujuan (stereotipik). Selain itu tampak pula adanya respon tak wajar terhadap pengalaman sensorik, yang terlihat sebelum usia 3 tahun. Sampai saat ini penyebab pasti autis belum diketahui, tetapi beberapa hal yang dapat memicu adanya perubahan genetika dan kromosom, dianggap sebagai faktor yang berhubungan dengan kejadian autis pada anak, perkembangan otak yang tidak normal atau tidak seperti biasanya dapat menyebabkan terjadinya perubahan pada neurotransmitter, dan akhirnya dapat menyebabkan adanya perubahan perilaku pada penderita. Dalam kemampuan intelektual anak autis tidak mengalami keterbelakangan, tetapi pada hubungan sosial dan respon anak terhadap dunia luar, anak sangat kurang. Anak cenderung asik dengan dunianya sendiri. Dan cenderung suka mengamati hal – hal kecil yang bagi orang lain tidak menarik, tapi bagi anak autis menjadi sesuatu yang menarik.
Terapi perilaku sangat dibutuhkan untuk melatih anak bisa hidup dengan normal seperti anak pada umumnya, dan melatih anak untuk bisa bersosialisasi dengan lingkungan sekitar.
Makalah yang kami susun ini semoga dapat memberikan gambaran jelas tentang asuhan keperawatan pada anak dengan autisme, walaupun masih banyak yang harus dikaji dan ditambahkan agar benar – benar dapat diterapkan dalam asuhan keperawatan. Asuhan yang diberikan kepada anak autis sebaiknya mengacu pada proses tumbuh kembang anak, sehingga diharapkan anak dapat tetap bertumbuh dan berkembang sesuai tingkat usia, dan bisa meminimalisir akibat yang ditimbulkan oleh autisme
DAFTAR PUSTAKA
Isaac, A., (2005). Panduan Belajar Keperawatan Kesehatan Jiwa & Psikiatrik (terjemahan). Edisi 3. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC
Townsend, M.C., (1998). Buku Saku Diagnosa Keperawata Pada Keperawatan Psikiatri pedoman Untuk Pembuatan Rencana Perawatan (terjemahan). Edisi 3. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC
Eddy Prasetyo. 2008. Kasus Autisme di Seluruh Dunia Meningkat. Diakses 05 mei 2009 dari: http://www.suarasurabaya.net/v06/kelanakota/?id=c71ee08849735df9b3bd982e3c4e3a73200859667
Asuhan Keperawatan Anak diakses 05 mei 2009 dari http://asuhankeperawatananak.blogspot.com/2008/09/autisme.html
Irwanto,dkk, Gangguan Pemusatan Perhatian-Hiperaktivitas (GPPH). Diakses 05 mei 2009 dari: WWW.PEDIATRIK.COM
Tanggal: Wednesday, 30 April 2008. Mungkinkah Autisme bisa disembuhkan ?….. Diakses 05 mei 2009 dari: http://www.depsos.go.id/modules.php?name=News&file=article&sid=633
Kelainan Susunan Saraf Pusat dan Gangguan Autistik Diakses 05 mei 2009 dari: http://64.203.71.11/kompas-cetak/0307/06/foto/
ASUHAN KEPERAWATAN ANAK
DENGAN HEMOFILIA
Pada tahun 2000 hemofilia yang dilaporkan ada 314, pada tahun 2001kasus yang dilaporkan mencapai 530. Diantara 530 kasus ini , 183 kasus terdaftar di RSCM, sisanya terdaftar di Bali, Bangka, Lampung, Medan, Padang, Palembang, Papua, Samarinda, Semarang, Surabaya, Ujung Pandang dan Yogyakarta.Di antara 183 pasien hemofilia yang terdaftar di RSCM, 100 pasien telah diperiksa aktifitas factor VII dan IX. Hasilnya menunjukkan 93 orang adalah hemofilia A dan 7 pasien adalah hemofilia B. Sebagian besar pasien hemofilia A mendapat cryoprecipitate untuk terapi pengganti, dan pada tahun 2000 konsumsi cryoprecipitate mencapai 40.000 kantong setara dengan kira-kira 2 juta unit factor VIII.
Pada saat ini Tim Pelayanan terpadu juga mempunyai komunikasi yang baik dengan Tim Hemofilia dari Negara lain. Pada hari Hemofilia Sedunia tahun 2002, pusat Pelayanan terpadu Hemofilia Nasional.
Pada tahun 2002 pasien Hemofilia yang telah terdaftar di seluruh Indonesia mencapai 757, diantaranya 233 terdaftar di Jakarta, 144 di Sumatra Utara, 92 di Jawa Timur, 86 di Jawa Tengah dan sisanya tersebar dari Nanggroe Aceh Darussalam sampai Papua.
Hemofitia A maupun B dapat dibedakan menjadi 3:
Hemofilia (A dan B) adalah merupakan penyakit atau gangguan perdarahan yang diturunkan secara sex (x)-linked recessive dan gen untuk faktor VIII dan IX terletak pada ujung lengan panjang (q) kromosom x. Oleh karena itu perempuan biasanya sebagai pembawa (carier) dan laki-laki sebagai penderita. Pada penderita hemofili produksi faktor VIII atau IX berkurang / tidak ada. Akibat kekurangan faktor pembekuan tersebut saat terjadi pendarahan anyaman penutup luka tidak terbentuk sempurna sehingga darah tidak terhenti mengalir / terjadi pendarahan yang lama.
Pemeriksaan Lab. darah
HemofiLia A:
Hemofilia B:
Pemberian faktor VIII IX dalam bentuk rekombinan konsentrat maupun komponen darah
Faktor VIII dalam bentuk recombinate dan coginate.
Faktor IX dalam bentuk mononine
Aktivitas
Gejala : Kelelahan, malaise, ketidak mampuan untuk melakukan aktivitas
Tanda : Kelemahan otot
Sirkulasi
Gejala : Palpitasi
Tanda : Kulit dan membrane mukosa pucat, deficit saraf serebral/tanda perdarahan serebral
Eliminasi
Gejala : Hematuria
Integritas ego
Gejala : Perasaan tak ada harapan, tak berdaya
Tanda : Depresi menarik diri, ansietas
Nutrisi
Gejata : Anoreksia, penurunan BB
Nyeri
Gejala : Nyeri tulang, sendi, nyeri tekan sentral, kram otot
Tanda : Perilaku berhati-hati, gelisah, rewel
Keamanan
Gejala : Riwayat trauma ringan, perdaran spontan
Tanda : Hematoma
NOC:
NIC:
NOC:
Perkembangan keamanan permainan dan kebiasaan buruk di waktu luang
NIC:
NOC:
NIC:
NOC:
NIC:
NOC:
NIC:
NOC:
Hemofilia adalah penyakit gangguan pembekuan darah yang diturunkan melalui kromosom X. Penyakit ini lebih banyak menyerang laki-laki karena hanya mempunyai kromosom X, sedangkan wanita hanya sebagal pembawa atau carrier. Hemofitia dibedakan menjadi 2 yaltu hemofilia tipe A yang disebabkan karena kurangnya faktor pembekuan darah ke VIIl dan hemofilia tipe B yang disebabkan karena kurangnya faktor pembekuan darah ke IX. Salah satu tanda dan gejalanya ialah terjadinya perdarahan pada jaringan, karena dapat dengan mudah mengalami perdarahan jika terjadi trauma sedikit saja. Kurangnya faktor pembekuan darah tersebut dapat diatasi dengan melakukan transfusi dengan teknik vinisidal.
Sebagai perawat dituntut untuk dapat mengetahui secara detail teknik pencegahan terjadinya perdarahan ataupun meminimalkan terjadinya trauma.
DAFTAR PUSTAKA
http://anakku.net/
http://purnama87.blogspot.com/
http://hemofilia.or.id/
http://info-sehat.com/
http://kabrindonesia.com/
Ngastiyah. Keperawatan Anak Sakit. 2005. Jakarta: EGC. Jonhson, Marion ; Maas,
Manidean, Moorhead, Sue. 2000. Nursing Outcomes Classification (NOC). Phiadetphia : Mosby.
Mc Closkey dan Butechek, G. 2000 Nursing Interfention CLassification (NIC). PhiLadelphia : Mosby.
ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN
OTITIS MEDIA
Pendahuluan
Otitis media adalah peradangan sebagian atau seluruh mukosa telinga tengah, tuba eustacheus, antrum mastoid, dan sel-sel mastoid.Otitis media terbagi atas otitis media supuratif dan non supuratif, dimana masing-masing memiliki bentuk akut dan kronis.Otitis media akut termasuk kedalam jenis supuratif. Selain itu juga ada jenis yang spesifik, yaitu otitis tuberculosa, otitis media sifilitik, dan otitis media adhesive.
Pada beberapa penelitian infeksi ini diperkirakan terjadi pada 25 % anak. Lebih sering pada anak-anak indian amerika dan eskimo dibandingkan dengan anak kulit putih dan paling jarang pada anak kulit hitam.Infeksi umumnya terjadi pada kehidupan dua tahun pertama , sedangkan insiden puncak kedua terjadi pada tahun pertama masa sekolah. Anak-anak yang telah enam kali mengalami serangan otitis media atau lebih dengan istilah cenderung otitis. Suatu penelitian oleh howie menunjukan bahwa suatu periode infeksi s, pneumonia dalam tahun pertama kehidupan telah dihubungkan dengan berlanjutnya insiden otitis media akut berulang. Keadaan ini lebih sering ditemukan pada anak laki-laki dibandingkan anak wanita. Insiden kondisi alergi tidak meningkat pada anak-anak ini. Delapan stereotipe s. pneumoniae bertanggungjawab atas lebih dai 75 % episode otitis media akut . Dengan demikian pengembangan suatu vaksin pneumokok dapat merupakan suatu langkah penting dalam mengendalikan episode berulang ini.
Pengobatan anak-anak dengan kecenderungan mengalami otitis media ini dapat bersifat medis ataupun pembedahan. Penatalaksanaan medis termasuk pemberian antibiotik dosis rendah dalam jangka waktu hingga 3 bulan .Alternatif lain adalah pemasangan tuba ventilasi. Keputusan untuk melakukan miringotomi umumnya berdasarkan kegagalan profilaksis secara medis , atau timbul reaksi alergi terhadap antimikroba yang lazim dipakai, baik golongan sulfa atau penisillin.
Anak lebih mudah diserang otitis media oleh karena :
sendiri dapat terinfeksi dimana infeksi tersebut kemudian menyebar ke telinga tengah lewat saluran eustacheus.
Resiko kekambuhan otitis media terjadi pada beberapa faktor , antara lain usia usia kurang 5 tahun, otitis prone ( pasien yang mengalami otitis pertama kali pada usia kurang 6 tahun, 3 kali dalam 6 bulan terakhir), infeksi pernapasan, perokok, laki-laki.
Kasus yang akan dibahas di bawah ini adalah otitis media akut akibat komplikasi dari rhinitis alergi yang dialami anak usia 6 tahun.
Tinjauan teori
Telinga tengah tersusun atas membran timpani ( gendang telinga ) di sebelah lateral dan kapsul otik disebelah medial celah telinga tengah terletak diantara kedua membrana timpani terletak pada akhiran kanalis aurius eksternus dan menandai batas lateral telinga,membran ini sekitar 1 cm dan selaput tipis normalnya berwarna kelabu mutiara dan translulen.
Telinga tengah merupakan rongga berisi udara merupakan rumah bagi osikuli ( tulang telinga tengah ) dihubungkan dengan tuba eustachii ke nasofaring berhubungan dengan beberapa sel berisi udara di bagian mastoid tulang temporal.tulang telinga tengah mengandung tulang terkecil ( osikuli ) yaitu malleus, inkus stapes. Osikuli dipertahankan pada tempatnya oleh sendi, ligamen dan otot yang membantu hantaran suara.
Ada dua jendela kecil ( jendela oval dan dinding medial telinga tengah, yang memisahkan telinga tengah dengan telinga dalam. Bagian dataran kaki menjejak pada jendela oval, dimana suara dihantar ke telinga tengah. Jendela bulat memberikan jalan ke getaran suara.Jendela bulat ditutupi oleh membrana sangat tipis, dan dataran kaki stapes ditahan oleh yang agak tipis atau struktur berbentuk cincin, anulus jendela bulat maupun jendela oval mudah mengalami robekan. Bila ini terjadi, cairan dari dalam dapat mengalami kebocoran ke telinga tengah kondisi ini dinamakan fistula perilimfe.Tuba eustachii yang lebarnya sekitar 1 mm panjangnya sekitar 35 mm, menghubungkan telinga tengah ke nasofaring. Normalnya tuba eustachii tertutup, namun dapat terbuka akibat kontraksi otot palatum ketika melakukan manuver atau menguap atau menelan.
Tuba berfungsi sebagai drainase untuk sekresi dan menyeimbangkan tekanan dalam telinga tengah dengan tekanan atmosfir.
Guna tuba eustacheus adalah :
2.Definisi
Otitis berarti peradangan dari telinga, dan media berarti tengah. Jadi otitis media berarti peradangan dari telinga tengah.
Otitis media adalah peradangan sebagian atau seluruh mukosa telinga tengah, tuba eustacheus, antrum mastoid, dan sel-sel mastoid/( soepardi, iskandar ,1990)
Otitis media adalah infeksi atau inflamasi pada telinga tengah ( mediastore, 2009 ).
Otitis media akut adalah infeksi yang disebabkan oleh bakteri pada ruang udara pada tulang temporal (CMDT, edisi 3 , 2004 )
Otitis media akut adalah dari yang timbulnya cepat dan berdurasi pendek, otitis media akut biasanya berhubungan dengan akumulasi cairan di telinga tengah bersama dengan tanda-tanda atau gejala-gejala dari infeksi telinga, gendang telinga, yang menonjol biasanya disertai nyeri, atau gendang telinga yang berlubang, seringkali dengan aliran dengan materi yang bernanah. Demam dapat hadir
Otitis media koronik adalah perforasi pada gendang telinga ( warmasif, 2009)
Otitis media kronis adalah peradangan teliga tengah yang gigih, secara khas untuk sedikitnya satu bulan.
Orang awam biasanya menyebut congek (Alfatih, 2007)
3.Etiologi
Sumbatan pada tuba eustachius merupakan penyebab utama dari otitis media.Pertahanan tubuh pada silia mukosa tuba eustachius terganggu, sehingga pencegahan invasi kuman ke dalam telinga tengah terganggu juga. Selain itu ISPA juga merupakan salah satu faktor penyebab paling sering.
Kuman penyebabnya adalah
Streptococcus.
stapilococcus.
Diplococcus pneumonie.
Hemopilus influens.
moraxela
Pada anak makin sering terkena ISPA makin besar kemungkinan terjadinya otitis media akut ( OMA ). Pada bayi OMA dipermudah karena tuba eustachiusnya pendek, lebar, letaknya agak horizontal
Menurut Mediastore (2009) otitis media kronis terjadi akibat adanya lubang pada gendang telinga ( perforasi ).
4 Patofisiologi
Otitis media sering diawali infeksi pada saluran napas seperti radang tenggorokan atau pilek yang menyebar ke saluran tengah lewat tuba eustacheus. Saat bakteri melalui saluran eustacheus , mereka dapat menyebabkan infeksi disaluran tersebut sehingga terjadi pembengkakan disekitar saluran, tersumbatnya saluran dan datangnya dari sel-sel darah putih untuk melawan bakteri. Terbentuklah pus / nanah dalam telinga tengah. Selain itu pembengkakan jaringan disekitar tuba eustacheus menyebabkan lendir yang dihasilkan sel-sel ditelinga tengah terkumpul dibelakang gendang telinga ( Wikipedia , 2009).
Jika lendir dan nanah bertambah banyak ,pendengaran dapat terganggu karena gendang telinga dan tulang-tulang kecil penghubung telinga dengan organ pendengaran ditelinga dalam tidak dapat bergerak bebas. Kehilangan pendengaran yang dialami pada umumnya sekitar 24 desibel ( kisaran pembicaraan normal ) selain itu juga akan terasa nyeri . dan yang paling berat, dauran yang terlalu banyak tersebut akhirnya dapat merobek gendang telinga karena tekanannya.( Wikipedia, 2009 )
Sebagaimana dengan kejadian infeksi saluran napas atas ( ISPA ) , otitis media juga merupakan salah satu penyakit langganan anak.
5 Pathway ( terlampir )
6. Penatalaksanaan medis
Menurut AAFP pemberian 40 mg/kg BB/hari pada anak resiko rendah dan 60 mg /kg BB untuk anak dengan resiko tinggi ( kurang 2 tahun) dirawat di daycare dan ada riwayat pemberian antibiotic tiga bulan terakhir.
WHO menganjurkan 15 mg/kg bb/ hari dengan maksimumnya 500 mg.
AAP menganjurkan dosis 80-90 mg/kg bb/hari.antibiotik pada OMA menghasilkan perbaikan gejala dalam 48-72 jam. 24 jam pertama terjadi stabilisasi, sedang 24 jam kedua terjadi perbaikan. Jika tidak ada perbaikan dalam 48-72 jam, kemungkinan ada penyakit lain. Ini perlu dipertimbangkan pemberian antibiotik kedua. Jika pasien alergi ringan amoksilin dapat diberikan sefdinir, sefpodoxim, cefurosim
Jika alergi berat amoksilin diberikan asitromisin , claritomisin.
Analgesik /pereda nyeri
Selain antibiotik disertai pereda nyeri seperti paracetamol atau ibuprofen.namun jika dengan ibuprofen harus dipastikan anak tidak mengalami gangguan pencernaan seprti mual, muntah atau diare .
Lain-lain
Pencegahan
Beberapa hal yang dapat mengurangi resiko adalah ;
7.Penatalaksaan keperawatan
Perawatan otitis media akut bervariasi tergantung pada umur dan gejala-gejala dari anak.The American Academy of Pediatric (AAP) dan the American Academy of family Physician 9AAFP ) sebagai berikut :
Rekomendasi dari AAP dan AAFP | |||
umur | Diagnosa pasti | Diagnosa tidak pasti | |
< 6 bulan | Antibiotik-antibiotik | Antibiotik-antibiotik | |
6bln-2 thn | Antibiotik-antibiotik | Antibiotik-antibiotik jika parah * observasi tanpa pilihan antibiotik jika tidak parah | |
≥ 2 tahun | Antibiotik-antibiotik jika parah.* pilihan observasi jika penyakit tidak parah | * pilihan observasi tanpa antibiotik-antibiotik | |
Merawat otitis media kronik, antibiotik-antibiotik mungkin menghilangkan infeksi. Jika perlubangan gendang telinga juga hadir, obat-obat tetes antibiotik topical mungkin digunakan. Jika luka parut gendang telinga atau ossicle telah terjadi ,itu tidak akan dikembalikan dengan antibiotik-antibiotik saja. Tetapi sudah indikasi untuk operasi.
8.Pengkajian:
Keluhan utama dapat berupa :
Bila ada keluhan gangguan pendengaran, perlu ditanyakan :
telinga, timbul tiba-tiba atau bertambah secara bertahap dan sudah berapa lamanya.
Dapat sebagai keluhan gangguan keseimbangan dan rasa ingin jatuh.
luar dan sekret yang banyak dan bersifat mukoid
umumnya berasal dari telinga tengah. Bila berbau busuk menandakan adanya kolesteatom. Bila bercampur darah harus dicurigai adanya infeksi akut yang berat atau tumor. Bila cairan yang keluar seperti air jernih harus waspada adanya cairan liquor serebrospinal.
Merupakan pemeriksaan fungsi untuk mengetahui sensitivitas (mampu mendengar suara) dan perbedaan kata-kata (kemampuan membedakan bunyi kata-kata), dilaksanakan dengan bantuan audiometrik.
Tujuan :
Menentukan apakah seseorang tidak mendengar.
Untuk mengetahui tingkatan kehilangan pendengaran.
Tingkat kemampuan menangkap pembicaraan.
Mengetahui sumber penyebab gangguan pada telinga media (gangguan konduktif) dari telinga tengah (sistem neurologi).
Pendengaran dapat diidentifikasikan pada saat nol desibel naik sebelum seseorang mendengar suara frekuensi yang spesifik. Bunyi pada titik nol terdengar oleh orang yang pendengarannya normal. Sampai ke-20 db dianggap dalam tingkat normal.
iI. Tindakan Pembedahan
Timpanoplasti dengan pendekatan Ganda (Combined Approach Tympanoplasty)
Operasi ini merupakan teknik operasi timpanoplasti yang dikerjakan pada kasus OMSK tipe maligna atau OMSK tipe benigna dengan jaringan granulasi yang luas.
Tujuan operasi ini untuk menyembuhkan penyakit serta memperbaiki pendengaran tanpa melakukan teknik mastoidektomi radikal (tanpa meruntuhkan dinding posterior liang telinga).
3. Resiko cidera / injury berhubungan dengan penurunan persepsi / sensori.
10 Intervensi keperawatan
Menurut Nining ( 2009 ) intervensi keperawatan yang dapat dilakukan untuk mengatasi diagnosa keperawatan yang muncul pada anak dengan otitis media antara lain ;
1. Nyeri berhubungan dengan proses peradangan pada telinga tengah
Tujuan ; Nyeri berkurang atau hilang
Kriteria hasil ; Nyeri berkurang atau hilang
Intervensi :
Rasionalisasi ; dengan posisi nyaman dapat mengurangi nyeri
Rasionalisasi : untuk mengurangi nyeri
Rasionalisasi ; untuk mengurangi tekanan telinga / edema
Rasionalisasi ; untuk mencegah adanya penyebaran infeksi ke daerah lain
2. Resiko infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pengobatan
Tujuan : infeksi tidak terjadi
Kriteria hasil : tidak ditemukan tanda-tanda infeksi
Intervensi :
Rasionalisasi : untuk mengantisipasi perluasan lebih lanjut.
Rasionalisasi : untuk mengurangi pertumbuhan mikroorganisme
Rasionalisasi : untuk menghindari transfer organisme dari tuba eustachius ke telinga tengah
Rasionalisasi : untuk membunuh bakteri dan menghambat perkembangbiakan bakteri sehingga tidak terjadi penyebara n infeksi ke daerah lain
3. Resiko cidera / trauma berhubungan dengan penurunan persepsi / sensorik
Tujuan : anak terhindar dari injury / perlukaan
Kriteria hasil : tidak terjadi injury / perlukaan
Intervensi :
Tujuan : anak dapat melakukan aktifitas harian dengan bantuan minimal dari perawat dan orang tua
Kriteria hasil : anak bisa beraktifitas sendiri
Intervensi :
Rasionalisasi ; pengkajian tentang kemampuan anak dapat dijadikan baha untuk menentukan intervensi yang tepat
Rasionalisasi : dapat menghemat penggunaan energi serta dapat mengurangi rasa pusing dan nyeri.
Rasionalisasi : latihan bertahap akan dapat meningkatkan kemampuan anak melakukan aktifitas secara terstruktur tanpa menimbulkan nyeri dan pusing.
Rasionalisasi : perasaan pusing dan rasa nyeri dapat mengganggu anak dalam melakukan aktifitas.
Tujuan : anak tidak cemas dan dapat berpartisipasi selama proses pengobatan.
Kriteria hasil : anak terlibat dalam proses pengobatan / penyembuhan
Intervensi :
Rasionalisasi : penurunan pendengaran yang dialami anak dapat menimbulkan kecemasan anak.
Rasionalisasi : ketidakahuan anak tentang keluhan yang dapat timbul akibat adanya cairan dalam gendang telinga dapat menyebabkan anak mengalami kecemasan.
Rasionalisasi; adanya droping wajah unilateral dapat mendorong anak menjadi cemas dan memerlukan penangaan segera.
Tujuan : klien tetap mengembangkan hubungan dengan anak lain dan orang tua
Intervensi :
Rasionalisasi : hubungan saling percaya dapat menjadi dasar terjadinya hubungan sosial.
Rasionalisasi : anak akan kooperatif / berpartisipasi dalam persiapan pembedahan ( tympanoplasti ) dan akan mulai mengajak bicara dengan perawat dan orang tua / saudara
Rasionalisasi : anak akan dapat meningkatkan harga dirinya ketika bermain dengan anak lain.
Tujuan : orang tua anak akan mempunyai pemahaman yang baik tentang pengobatan dan cara pencegahan kekambuhan.
Intervensi :
Rasionalisasi : pendidikan kesehatan tenyang cara mengganti balutan dapat meingkatkan pemahaman anak dan orangtua sehingga dapat berpartisipasi dalam pencegahan kekambuhan.
Rasionalisasi : pemahaman tentang komplikasi yang dapat terjadi pada anak dapat membantu orang tua dan anak untuk
melaporkan ke tenaga kesehatan sehingga dapat dengan cepat ditangani.
Rasionalisasi : follow up sangat penting dilakukan oleh anak karena dapat mengetahui perkembangan penyakit dan mencegah terjadinya kekambuhan.
11. Issue kasus di masyarakat
Penyakit ini tidak pandang harta sehingga dapat ditemukan di setiap lapisan masyarakat, bahka di Negara maju. Hanya saja di Negara maju tersbut penyakit ini tidak sampai menimbulkan tuli berat, tuli total atau tuli komplikasi yang berakibat kematian
Menurut A. Djaafar Guru Besar Ilmu Penyakit THT FK UI, hal itu disebabkan kesadaran masyarakat tentang kesehatan telinga sudah tinggi ditambah fasilitas dan memperoleh penanganan yang tepat
Seringkali congek berobatnya terlambat. Penyebabnya anatara lain malu, menganggap penyakit tidak berbahaya dan apalagi jika tak ada nyeri dianggap sudah sembuh sendiri.
Kronisitas penyakit congek ini di masyarakat dipengaruhi beberapa faktor antara lain:
Untuk mencegah penyakit ini dan timbulnya komplikasi, diperlukan diagnosis dan penanganan yang cepat dan tepat. Dalam
era antibiotika saat ini, angka kejadian penyakit ini sudah dapat ditekan.
Kendala yang dihadapi dalam penanggulangan penyakit congek antara lain:
Upaya pengobatan bisa dilakukan mulai dari yang paling sederhana seperti menggunakan tetes telinga. Tetapi perlu juga diperhatikan aturan pakai obat tetes ini, karena kalau salah bisa mengakibatkan keracunan pada organ pendengaran di telinga dalam.
Ini justru bisa berefek timbulnya ketulian yang menetap. Penggunaan dekongestan hidung sangat membantu karena dapat membuka saluran telinga tengah yang tersumbat. Upaya terakhir yang bisa dilakukan jika pengobatan ini tidak berhasil antara lain :
13. Pembahasan
Laporan kasus
Identitas pasien
Nama : An. S
Umur ; 6 Tahun
Jenis Kelamin : Laki-Laki
Pekerjaa : Siswa SD
Alamat : Narmada
Mrs ; 08 Agustus 2008
No. Rm : 87 77 95
Anamnesis
Pemeriksaan fisik
Keadaan umum ; baik
Status lokalis ;
telinga
Telinga kanan Telinga kiri aurikula Edema (- ), massa (-) Edema ( - ), massa ( - ) preaurikula Edema (-) , hiperemi (-) -,massa (-) , fistula (-) ,abses (-) Edema (-), hiperemi (-), massa (-), abses (-) retroaurikula Edema (-), hiperemi (-), massa (-), fistula (-),abses (-) Edema (-), hiperemi (-), massa (-), fistula (-), abses (-) palpasi Nyeri pergerakan aurikula (-), nyeri tean tragus (-) Nyeri pergerakan aurikula (-), nyeri tekan tragus (-) MAF Edema (-), hiperemi (-), serumen (+),, furunkel (-) Edem (+), heperemi (-), serumen (+) kental, furunkel (-) Membrane timpani Intake, berwarna putih, reflek cahaya (+) Perforasi (+) sentral, aktif, reflek cahaya (-) Hidung Rinoskopi anterior Cavum nasi kanan Cavum nasi kiri Mukosa hidung Hiperemi (+), secret (+), mukusa puruln (+), massa (-) Hiperemi (+), secret (+), mukosa perulen, masaa (-) Septum konka inferior dan media Deviasi (-), dislokasi (-), edema (+), hiperemi (+) Deviasi (-), dislokasi (-), edema (+), hiperemi (+) Meatus inferior dan media Secret (+), polip (-0 Secret (+), polip (-) Tenggorokan
KeteranganMukosa tonsilHiperemi (+), edema (-), TI-TIPembesaran kelenjar limfe (-)
Diagnosis
otitis media akut stadium perforasi aurikuler sinistra et causa rhinitis kronis
Penatalaksanaan
Belamox syrup ( antibiotic )
Diskusi
Otitis media merupakan suatu peradangan pada telinga tengah. Otitis dapat disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya yang paling sering adalah sumbatan tuba eustachius akibat infeksi. Selain itu otitis media juga dapat merupakan suatu komplikasi akibat penyakit lain misalnya rhinitis kronis, faringitis, otitis eksterna, dan lain-lain.
Gejala yang sering timbul pada otitis media biasanya ialah rasa nyeri, pendengaran berkurang, demam, pusing juga kadang disertai mendengar suara berdengung ( tinitus )
Pada kasus di atas, pasien mengalami gejala nyeri pada telinga kiri sejak 1 hari, yang disertai dengan batuk pilek berulang sejak lama. Pasien juga mengeluhkan adanya keluar cairan jernih dari telinga kirinya. Untuk menegakkan diagnosa otitis media, perlu dilakukan pemeriksaan otoskopi. Ditemukan adanya perforasi sentral pada
membrane telinga kiri disertai adanya pengeluaran cairan. Kemungkinan stadium otitis medianya ialah stadium perforasi
Penyebab yang mungkin sebagai pencetus otitis media pada pasien diatas ialah rhinitis kronis. Pasien mengalami batuk pilek sudah lama. Dari pemeriksaan rinoskopi anterior didapatkan konka nasalis inferior mengalami edema dan hiperemi yang disertai adanya mukos purulen. Kemungknan pasien mengalami rhinitis kronis. Sehingga bisa disimpulkan bahwa penyebab otitis medianya adalah komplikasi dari rhinitis kronis.
Pengobatan yang diberikann pada pasien diatas adalah pemberian antibiotik ( belamox syrup ), kortikosteroid ( somerol), analgesik, antihistamin ( salbutamol), dan dekongestan ( lapifed).kemudian pasien diminta kontrol lagi 1 minggu jika gejala tidak hilang
DAFTAR PUSTAKA
Geocities, (2007), Otitis Media Supuratif Kronis, http>//www.geocities.com/kpskap3sakti/lain2/tarakan/tht/omsk.doc
Diakses tanggal 16 April 2009
http://www.totalkesehatananda.com/otitis media
diakses tanggal 27 April 2009
Wikipedia, (2009). Otitis Media .http://id.wikipedia.org/wiki/otitis.
Diakses tanggal 3 April 2009
Efiaty,dr, Penatalaksanaan Penyakit Dan Kelainan Telinga-Hidung-Tenggorok,Fakultas Kedokteran UGM
Lawrence,(2004), CMDT, edisi 43,medical publishing division
Adam, Buku Ajar Penyakit Tht (BOIES Fundamental Of Otolaryngilogy , edisi 6, Kedokteran EGC
Mediastore, (2009), Otitis Media Kronik
http://mediastore.com/penyakit/53/otitis_media_kronis.html.
Diakses tanggal 10 April 2009
Warmasif, (2009).otitis media kronik
http://www.warmasif.co.id/kesehatanonline/mod.php.
Diakses tanggal 10 April 2009
Lampiran Pathway
Infeksi saluran nafas atas sumbatan tuba eustachius
Masuknya kuman penyebab
( kedalam liang telinga tengah )
Peradangan
Tekanan negative dalam telinga tengah
((akibat absorbsi udara)
Retraksi membrane timpani
Membrane timpani hipremesis & edema
membrane timpani menonjol (Bulging)
Tekanan kapiler & nekrosis membrane timpani
Rupture membrane
Keluar nanah/secret
Perubahan pendengaran
Daya tahan tubuh baik Daya tahan tubuh tidak baik
Resolusi Skret keluar terus
( sembuh) ( kakambuhan/ kronis)
Gbr. 1. Pathways Otitis media acuta dikembangkan dari Soepardi & Iskandar (1990)