ASUHAN KEPERAWATAN ANAK DGN TETANUS
- PENDAHULUAN
Pada tahun 2001 Indonesia merupakan negara kelima dengan angka kematian akibat tetanus tertinggi di dunia (Garna,2001). Sejalan dengan waktu seperti yang dilangsir menteri kesehatan RI, ibu Fadilah Supari SPJp (K) angka tersebut mulai turun dari angka 20 % menjadi 9,8 % dari 184.000 kelahiran bayi di Indonesia pada tahun 2004 (Tempointeraktif, April 2004).
Angka kejadian tetanus sendiri memang lebih tinggi di negara berkembang dibanding negara maju. Hal ini dikarenakan tetanus memang berkaitan dengan sanitasi dan kebersihan lingkungan maupun proses perawatan luka dimana di negara maju lebih baik. Data dari WHO sendiri menyebutkan bahwa kematian akibat tetanus di negara berkembang 135x lebih tinggi dibanding negara maju.
Negara Indonesia sendiri sudah mulai mencanangkan imunisasi TT wajib bagi pasangan usia subur dalam rangka menurunkan angka kematian akibat tetanus. Selain itu peningkatan kualitas pelayanan terutama menyangkut kehigienisan proses perawatan luka dan proses kelahiran juga berperan dalam proses ini.
- TINJAUAN TEORI
- ANATOMI FISIOLOGI
- SISTEM SARAF PUSAT
Sistem saraf pusat yang merupakan bagian dari system saraf terdiri dari otak dan medulla spinalis. Umumnya digambarkan seperti semua jaringan system saraf yang dilindungi oleh tulang oada ruas ruas tulang belakang atau tengkorak.Nervus kranialis ( otak ) terdiri dari :
- Nervus olfaktorius
Memberikan saraf untuk hidung, fungsinya sebagai saraf pembau.
- Nervus optikus
Memberikan saraf untuk bola mata, fungsinya untuk penglihatan.
- Nervus okulomotoris
Sebagai saraf penggerak bola mata dan mengangkat kelopak mata.
- Nervus toklearis
Memberikan saraf untuk mata, fungsinya untuk memutar mata dan penggerak mata.
- Nervus trigeminus
Sebagai saraf kulit kepala, kelopak mta atas,rahang atas, palatum, dan hidung, rahang bawah, dan lidah.
- Nervus abdusen
Sebagai saraf mata untuk menggoyangkan sisi mata.
- Nervus Fasialis
Memberikan saraf otot lidah untuk menggerakan lidah dan selaput lendir mulut.
- Nervus auditorius
Mempersarafi telinga sebagai rangsangan pendengar
- Nervus glosofaringeus
Memberikan saraf pada faring, tonsil,lidah untuk rangsangan cita rasa.
- Nervus vagus
Mempersarafi faring, laring, paru paru dan esophagus.
- Nervus asesorius
Mempersarafi leher dan otot leher.
- Nervus hipoglasus
Mempersarafi lidah, untuk cita rasa dan otot lidah.
Selain otak, sistem saraf pusat juga terdiri dari medula spinalis. Adapun fungsi medula spinalis antara lain :
- Pusat gerakan otot tubuh terbesar.
b. Pusat reflek spinalis serta lutut.
c. Menghantar rangsangan koordinasi dari otot dan sendi.
d. Mengadakan komunikasi antara otak dan semua bagian tubuh.
- SISTEM PEREDARAN DARAH
Sistem peredaran darah terdiri dari tiga komponen yaitu :
- Jantung, berfungsi sebagai pompa yang melakukan tekanan terhadap darah untuk menimbulkan gradien tekanan yang diperlukan agar darah dapat mengalir ke jaringan
- Pembuluh darah, berfungsi sebagai saluran untuk mengarahkan dan mendistribusikan darah dari jantung ke semua bagian tubuh dan kemudian mengembalikan ke jantung.
- Darah, berfungsi sebagai medium transportasi tempat bahan bahan yang akan disalurkan, dilarutkan, atau diendapkan.
Darah dari dalam tubuh ( otak, saluran pencernaan, ginjal, otot ) yang miskin akan oksigen masuk kedalam jantung melalui vena kava lalu masuk ke atrium kanan lalu masuk ventrikel kanan. Dari ventrikel kanan melalui arteri pulmonalis masuk kedalam paru paru. Dari paru paru melalui vena pulmonalis darah masuk atrium kiri kemudian masuk ventrikel kiri dan akhirnya darah yang banyak mengandung oksigen tersebut diedarkan ke seluruh tubuh.
- DEFINISI PENYAKIT
Tetanus / rahang terkunci / lockjaw adalah penyakit akut yang dicirikan dengan adanya kontraksi otot yang terasa nyeri. ( Lyana Setiawan, 2001 )
- ETIOLOGI
Tetanus disebabkan oleh tetanospasmin,neurotoksin yang dihasilkan oleh Clostridium Tetani. Clostridium tetani adalah organisme pembentuk spora, bergerak dan mempunyai habitat alamiah di seluruh dunia yaitu di tanah, debu,saluran pencernaan berbagai binatang.Spora tetanus dapat hidup di air mendidih tapi tidak dalam autoklaf. Selain itu antibotik tertentu dan desinfektan juga dapat mematikan spora tersebut (Richard Behrman, 1999).
- MANIFESTASI KLINIS
Menurut Ngastiyah (2005), masa inkubasi 5-14 hari tetapi dapat juga sampai beberapa minggu pada infeksi yang ringan.penyakit ini biasanya timbul mendadak dengan ketegangan otot ynag makin bertambah terutama pada rahang dan leher. Dalam 48 jam penyakit menjadi nyata dengan terlihat :
- Trismus, karena spasme otot masitkatoris (otot pengunyah )
- Kuduk kaku sampai opistotonus (karena ketegangan otot erector tungki)
- Ketegangan otot dinding perut (perut kaku seperti papan)
- Kejang otot terutama bila dirangsang karena toksin yang terdapat di kornu anterior
- Risus sardonikus karena spasme otot muka (alis tertarik ke atas,sudut mulut tertarik keluar dan kebawah, ,bibir tertekan kuat pada gigi)
- Kesukaran menelan,gelisah,mudah terangsang, nyeri kepala, nyeri anggota badan merupakan gejala dini.
- Spasme yang khas yaitu badan kaku dengan opistotonus,ekstremitas dalam keadaan ekstensi, lengan kaku dan tangan mengepal kuat. Anak tetap sadar. Spasme mula mula intermiten diselingi periode relaksasi. Kemudian serangan lebih sering dan disertai nyeri.
- Asfiksia dan sianosis terjadi akibat serangan pada otot pernafasan dan laring. Retensi urine dapat terjadi karena spasme otot uretral. Dapat juga terjadi fraktur kolumna vertebralis karena kontraksi otot yang sangat kuat pada waktu kejang.
- Panas biasanya tidak tinggi, Jika timbul demam tinggi biasanya terjadi pada stadium akhir dan merupakan prognosis yang buruk.
- Biasanya terjadi leukositosis ringan dan kadang peninggian cairan otak
Untuk menduga seorang anak menderita tetanus biasanya tidak sukar yaitu dengan melihat adanya risus sardonikus ynag merupakan gejala khas pasien tetanus.
- PATOFISIOLOGI
Clostridim tetani masuk kedalam tubuh manusia melalui luka. Semua jenis luka dapat terinfeksi oleh kuman tetanus seperti luka laserasi, tusuk,luka baker, luka tembak, luka suntikan dll. 60 % dari kasus tetanus Port d"entrée (pintu masuk ) terdapat di daerah kaki. Selain itu luka akibat pemotongan tali pusat yang tidak higienis, OMP,bahkan gigi berlubang juga dapat memungkinkan masuknya spora Clostridium Tetani.Spora tersebut jika sudah masuk lalu tumbuh, memperbanyak diri lalu menghasilkan tetanospasmin (Richard Behrman, 1999). Ada dua hipotesis tentang cara bekerja toksin tersebut :
- Toksin diabsorpsi oleh ujung saraf motorik lalu dibawa ke kornu anterior susunan saraf pusat
- Toksin diabsorpsi oleh susunan limfatik lalu masuk ke sirkulasi darah kemudian masuk system saraf pusat
- PATHWAY
Port d'entree Imunisasi TT tak lengkap
Clostridium Tetani
Eksotosin ( Tetanospasmin )
S. limfatik,hematologi Mioneural Junction
Sistem saraf pusat
Otot laring dan bronkus Otot pengunyah Otot erektor trunki General
spasme spasme spasme spasme
Hipersekresi mukus trismus opistotonus konvulsi
Batuk tak efektif Sulit menelan,muntah
Tdk efektif jalan nafas Resiko injury
Resiko kekurangan cairan Perub. Nutrisi kurang dari kebutuhan
PATHWAYS BERHUBUNGAN DGN HOSPITALISASI
Anak sakit / kejang
Kurang penget ortu Hospitalisasi Kehilangan kendali
Perpisahan Lingkungan asing Prosedur tindakan
Cemas
- PENATALAKSANAAN MEDIS
Menurut Dr Kingkin Ritarwan (2004) obat –obatan yang diberikan :
- Antibiotika
Pada kasus anak dapat diberikan Penicilinne dosis 50.000 unit /KgBB/12 jam secara IM diberikan selama 7-10 hari. Apabila sensitife terhadap penicilline obat dapat diganti dengan tetrasiklin.Antibiotika ini hanya bertujuan membunh spora dari C. Tetani bukan menetralisir toksinnya.
- Antitoksin
Antitoksin dapat digunakan Human Tetanus Immunoglobulin (TIG) dengan dosis 3000-6000 U, satu kali pemberian saja ,secara IM, tidak boleh diberikan secara intravena karena TIG mengandung "anti complementary aggregates of Globulin " yang mana dapat menimbulkan reaksi alergi yang serius.Bila TIG tidak ada dianjurkan untuk menggunakan tetanus antitoksin yang berasal dari hewan dengan dosis 40.000 U dengan cara pemberiannya adalah : 20.000 dari antitiksin dimasukan kedalam 200cc caiaran NaCl fisiologis dan diberikan secara intravena, pemberian harus diselesaikan dalam waktu 30-40 menit. Setengah dosis yang tersisa diberikan secara IM.
- Tetanus toxoid
Pemberian Tetanus Toxoid (TT) yang pertama, dilakukan bersamaan dengan pemberian antitoksin tetapi pada sisi yang berbeda dengan alat suntik yang berbeda pula. Pemberian dilakukan secara IM.
- Antikonvulsan dan penenang
Bila kejang berat dapat diberikan fenobarbital denga dosis awal untuk anak umur kurang dari 1 tahun adalah 50mg dan untuk anak umur 1 tahun atau lebih diberikan 75 mg, dilanjutkan dosis 5 mg/kgBB/hari dibagi menjadi 6 dosis. Diazepam dengan dosis 4 mg/kgBB/hari dibagi 6 dosis dan bila perlu diberikan IV.Largatil dengan dosis 4mg/kgBB/hari dibagi 6 dosis. Bila kejang sukar diatasi diberikan klorhidrat 5 % dengan dosis 50mg/kgBB/hari dibagi dalam 3-4 dosis perrektal.
Pengobatan lain yang diberikan menurut Ngastiyah, 2005 :
a. Bila perlu diberikan oksigen dan kadang diperlukan tindakan trakestomi untuk menghindari obstruksi jalan nafas.
b. Pasien dianjurkan dirawat di unit perawatan khusus jika ;
- Kejang sukar diatasi dengan obat antikonvulsan biasa
- Spasme laring
- Komplikasi yang memerlukan perawatan khusus seperti sumbatan jalan nafas, kegagalan pernafasan dan hipertensi.
- PENATALAKSANAAN KEPERAWATAN
Penatalaksanaan perawatan pada pasien tetanus menurut Dr Kingkin Ritarwan,2004 antara lain :
a. Merawat dan membersihkan luka sebaik baiknya, berupa membersihkan luka, irigasi luka, debridement luka, membuang benda asing dalam luka, serta pemberian H2O2.
b. Diet cukup kalori dan protein, bentuk makanan tergantung kemampuan membuka mulutdan menelan. Bila ada trismus makanan dapat diberikan personde atau parenteral.
c. Isolasi untuk menghindari rangsangan dari luar.
d. Oksigen, pernafasan buatan, perawatan trakeostmi jika ada.
e. Mengatur keseimbangan cairan dan elektrolit.
- PENGKAJIAN
Pengkajian pada kasus tetanus meliputi ;
a. Identitas
b. Keluhan utama /alasan masuk rumah sakit
adanya luka, port d'entrée yang dicurigai, kejang, kaku disekitar luka,adanya trismus, opistotonus, ketegangan dinding otot perut, risus sardonikus, kesukaran menelan.
c. Riwayat kesehatan
ante natal care,natal,post natal
d. Riwayat imunisasi
e. Riwayat nutrisi
f. Psikososial
g. spiritual
h. Reaksi hospitalisasi
i. Aktifitas sehari hari
nutrisi, cairan, aktifitas/ mobilitas fisik
j. Pemeriksaan fisik
system saraf
k. Pemeriksaan tingkat perkembangan
l. Pemeriksaan diagnostic
m Terapi
- DIAGNOSA KEPERAWATAN
Diagnosa keperawatan ( Suriadi dan Yuliani, 2001) yang mungkin muncul antara lain :
a. Tidak efektifnya bersihan jalan nafas behubungan dengan meningkatnya sekresi atau produksi kukus.
b. Resiko injury berhubungan dengan aktifitas kejang
c. Resiko kurangnya volume cairan berhubungan dengan intake cairan tidak adekuat
d. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan ketegangan dan spasme otot mastikatoris, kesukaran membuka mulut dan menelan dan adanya aktifitas kejang.
Diagnosa keperawatan terkait proses hospitalisasi
e. Cemas/ takut berhubungan dengan perpisahan dengan orangtua, lingkungan yang asing, prosedur tindakan.
f. Kehilangan kendali sehubungan dengan dirawat
g Kurang pengetahuan ortu berhubungan dengan hospitalisasi
- PERENCANAAN
Perencanaan keperawatan berdasar diagnosa keperawatan yang dapat diberikan untuk mengatasi masalah keperawatan diatas adalah :
a. Tidak efektifnya bersihan jalan nafas behubungan dengan meningkatnya sekresi atau produksi kukus.
- Tujuan : Meningkatkan kepatenan jalan nafas dan mencegah aspirasi
- Kriteria hasil : anak memperlihatkan kepatenan jalan nafas dan tidak terjadi aspirasi yang ditandai dengan jalan nafas bersih dan tidak ada sekresi
- Intervensi :
- Kaji status pernafasan, frekwensi, irama setiap 2-4 jam
- Lakukan pengisapan lender dengan hait hati dan pasti
- Gunakan sudip lidah saat kejang
- Miringkan oasien untuk drainase
- Observasi oksigen sesuai program
- Pemberian sedative sesuai program
- Pertahankan kepatenan jalan nafas dan bersihan mulut
b. Resiko injury berhubungan dengan aktifitas kejang
- Tujuan : cedera tidak terjadi,
- Kriteria hasil : anak terbebas dari injury yang ditandai dengan tidak ada cedera selama kejang.
- Intervensi :
1) Identifikasi dan hindari faktor pencetus
2) Tempatkan anak pada tempat tidur yang memakai pengaman
3) Sediakan tongue spatel disamping tempat tidur
4) Lindungi pasien saat kejang
5) Catat penyebab mulai terjadinya kejang
c. Resiko kurangnya volume cairan berhubungan dengan intake cairan tidak adekuat
- Tujuan : Meningkatkan status hidrasi pada anak
- Kriteria hasil : Anak tidak memper;ihatkan kekurangan volume cairan yang ditandai dengan membrane mukosa lembab dan turgor kulit baik.
- Intervensi :
1) Kaji intake dan output cairan
Rasional : Memberikan informasi tentang status cairan atau volume sirkulasi dan kebutuhan penggantian.
2) Kaji tanda dehidrasi
Rasional : Indikator keadekuatan sirkulasi perifer dan hidrasi seluler.
3) Berikan dan pertahankan intake cairan oral / perparenteral sesuai dengan indikasi
Rasional : Mempertahan kan kebutuhan cairan tubuh
4) Monitor berat jenis urine
Penurunan keluaran urin pekat dan peningkatan berat jenis urin diduga karena dehidrasi /peningkatan kebutuhan cairan.
5) Pertahankan kepatenan NGT
Mempertahankan kebutuhan cairan tubuh.
d. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan ketegangan dan spasme otot mastikatoris, kesukaran membuka mulut dan menelan dan adanya aktifitas kejang.
- Tujuan : Status nutrisi terpenuhi
- Kriteria hasil : Berat badan sesuai stabil atau usia, makanan 90% dapat dikonsumsi, jenis makanan yang dikonsumsi sesuai dengan kebutuhan gizi anak.
- Intervensi :
- Pertahankan NGT untuk intake makanan
Rasional : Intake nutrisi yang seimbang dan adekuat akan mempertahankan kebutuhan nutrisi tubuh.
- Kaji bising usus bila perlu dan hati-hati karena sentuhan dapat merangsang kejang.
Rasional : Bising usus akan membantu dalam menentukan respon untuk makan atau mengetahui kemungkinan komplikasi dan mengetahui penurunan absorpsi air.
- Berikan nutrisi yang tinggi kalori dan protein
Rasional : Suplai kalori dan protein yang adekuat mempertahankan metabolisme tubuh.
- Berikan nutrisi parenteral sesuai program
Rasional : Mendukung intake nutrisi yang adekuat
- Timbang berat badan sesuai protocol
Rasional : Mengevaluasi keefektifan atau kebutuhan mengubah pemberian nutrisi
Rencana keperawatan terkait proses hospitalisasi
Rencana keperawatan yang efektif pada anak yang dirawat haruslah berdasarkan kepada identifikasi kebutuhan anak dan keluarga. Anggota keluarga dan anak harus berperab aktif dalam mengembangkan suatu rencana keperawatan.Tujuan dari asuhan keperawatan adalah sebagai berikut :
- Menyiapkan anak untuk hospitalisasi
- Mencegah dan meminimalkan dampak dari perpisahan
Intervensi untuk tujuan a,b :
- Rooming in
- Partisipasi orangtua
- Membuat ruang perawatan seperti sesuai situasi di rumah.
- Meminimalkan perasaan kehilangan kendali.
- Mengusahakan kebebasan bergerak
- Mempertahankan kegiatan rutin anak
- Dorongan anak untuk independen
- Mencegah /meminimalkan perlukaan tubuh.
- Mempersiapkan anak terhadap prosedur.
- Memanipulasi prosedur
- Penanganan nyeri.
- Untuk mengatasi nyari dapat dilkukan dengan dan tanpa obat misalnya dengan distraksi.
- Memenuhi kebutuhan bermain
Memfasilitasi keluarga agar membawa mainan kesukaan anak
- Memaksimalkan manfaat dari hospitalisasi
- Membantu perkembangan hubungan orangtua dan anak
- Memberikan kesempatan untuk pendidikan
- Meningkatkan pengandalian diri.
- Memberikan kesempatan untuk soialisasi.
12. DISCHARGE PLANNING
Setelah pasin diperbolehkan pulang, sebaiknya orangtua pasien diberi penjelasan cara perawatan anak di rumah, menurut Ngastiyah (2005)
a. Bantuan pemenuhan kebutuhan sehari hari
b. Penjelasan tentang pentingnya makanan tinggi kalori dan protein
c. Penjelasan tentang keadaan anak saat pulang biasanya masih kaku sehingga perlu diajarkan ROM dirumah.
d. Perlunya obat agar diminum sampai habis dan dipesan agar tidak lupa kontrol kurang lebih setelah 2 minggu.
e. Faktor-faktor yang dapat menyebabkan penyakit tetanus.
f. Pentingnya imunisasi tetanus pada anak.
13. ISSUE KASUS
Di Indonesia pada umumnya, apabila seseorang sudah terinfeksi tetanus maka akan datang ke fasilitas kesehatan atau tenaga medis dengan keadaan yang bisa dikatakan terlambat karena kebanyakan kasus pasien datang dengan keadaan kaku, bahkan kejang sehingga bisa dikatakan hampir terlambat.Hal ini dikarenakan salah satunya karena sebagian masyarakat masih menganggap itu adalah karena guna-guna.Oleh karena itu pengetahuan masyarakat tentang penyakit ini masih perlu diperluas.
Apalagi seorang penderita yang terkena tetanus tidak imun terhadap serangan ulang artinya dia mempunyai kesempatan yang sama untuk mendapat tetanus bila terjadi luka sama seperti orang lainnya yang tidak pernah diimunisasi.Tidak terbentuknya kekebalan pada penderita setelah ia sembuh dikarenakan toksin yang masuk ke dalam tubuh tidak sanggup untuk merangsang pembentukan antitoksin.
Sampai saat ini pemberian imunisasi dengan tetanus toksoid merupakan cara dalam pencegahan terjadinya tetanus selain [erawatan luka yang adekuat. Pencegahan dengan pemberian tetanus telah dapat dimulai sejak anak berusia 2 bulan , dengan cara pemberian imunisasi aktif DPT/ DT (Dr Kingkin Ritarwan, 2004)
14. PEMBAHASAN ISSUE KASUS
Clostridium Tetani adalah bakteri yang paling bertanggung jawab pada seseorang yang terserang tetanus Cara masuk bakteri ini ke dalam tubuh bisa melalui luka tusuk, potong, ataupun jenis luka lain. Umumnya bakteri ini ada pada tanah dan juga besi berkarat. Habitat bakteri inilah yang menjadi salah satu faktor mengapa individu beresiko menderita tetanus selain karena memang adanya port d'entree yang ada pada individu tsb, seringnya masyarakat kurang memahami hal ini.Maka kita sebagai perawat sangatlah berperan pada situasi ini.salah satu caranya adalah dengan memberikan pendidikan kesehatan dengan berbagi pengetahuan tentang penyakit ini Dengan demikian diharapkan dengan adanya peran tenaga kesehatan terutama perawat maka angka kematian akibat penyakit tetanus di Indonesia dapat turun. .Hal hal yang sebaiknya disampaikan pada masyarakat terkait penyakit tetanus antara lain :
- Pencegahan penyakit : Imunisasi TT lengkap baik pada PUS, bayi, maupun pada anak-anak. Menjaga kebersihan lingkungan sekitar.
- Menjelaskan bahwa penyakit tetanus bukan karena guna-guna tetapi disebabkan karena bakteri.
- Menjelaskan gejala penyakit tetanus, antara lain :luka yng tak sembuh-sembuh disertai bengkak dan kaku serta rasa sakit.Terjadi kaku pada otot rahang, leher,dada dan perut.Pasien tetap sadar tapi sangat kesulitan untuk membuka mulut,dan menelan karena leher kaku dan perut kaku seperti papan. Gejala lain yaitu kaku otot, kejang bahkan kematian.
- Hal hal yang harus dilakukan jika ada yang terluka antara lain :
- Luka harus dibersihkan dan dipertahankan supaya tetap bersih dan bersihkan luka dengan antiseptik. Kalau diyakini ada kotoran atau karat yang ikut masuk dan tertinggal dalam luka segeralah ke rumah sakit untuk mendapat pertolongan.
- Bila lukanya dalam dan kotor atau jenis luka terpotong lainnya maka segeralah konsultasi dengan dokter.
- Ganti pembalut secara teratur.
Bila sesorang sudah terkena tetanus walaupun sudah menjalani pengobatan masih beresiko untuk meninggal , bahkan masih beresiko untuk terulang. Oleh karena itu maka pencegahan akan lebih baik daripada pengobatan.Pencegahan infeksi tetanus adalah dengan pemberian vaksinasi tetanus. Pada anak, imunisasi diberikan pada usia 2 bulan, 4 bulan, 6 bulan, 15-18 bulan,4-6 tahun,dan booster pada dewasa setiap 10 tahun sekali.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar