Asuhan Keperawatan Depresi pada Anak
(Childhood Depression)
- Pendahuluan
Mungkin banyak dari masyarakat atau bahkan kita sendiri sebagai seorang tenaga kesehatan yang tidak menyadari bahwa anak-anak dan remaja juga bisa mengalami depresi. Selama ini kita cenderung berpikir bahwa depresi hanyalah masalah yang dihadapi oleh orang dewasa. Kehidupan keluarga yang tidak harmonis, kesulitan membangun hubungan dengan orang lain, tuntutan akademik yang semakin hari semakin berat adalah sedikit contoh masalah yang bisa menjadi predisposisi dari depresi pada anak-anak dan remaja.
Secara epedemiologik prevalensi depresi pada anak dan remaja
adalah 5% dari populasi anak-anak dan remaja menderita depresi. Anak-anak dibawah stress, mempunyai pengalaman kehilangan, kurang perhatian, kesulitan belajar atau gangguan cemas (anxiety disorder) berada pada risiko tertinggi mengalami depresi. Penelitian lain yang dilakukan di Amerika Serikat menyebutkan prevalensi depresi mayor adalah 1% pada usia prasekolah, 2% pada usia sekolah dan kira-kira 5-8% pada remaja. Prevalensi depresi ini cenderung meningkat dari generasi sebelumnya. Rasio jenis kelamin pada penderita depresi sama saja pada masa prapubertas dan meningkat menjadi 2 banding 1 antara perempuan dan laki-laki pada masa remaja.Mengingat bahwa anak-anak adalah aset bagi masa depan sebuah keluarga bahkan bagi sebuah bangsa dan angka prevalensi yang tinggi maka penting bagi kita untuk lebih peka dan lebih banyak memberi perhatian pada kasus ini. Salah satunya dengan penemuan kasus depresi pada anak-anak sedini mungkin. Deteksi dini dan diagnosis yang akurat tentu akan memberikan hasil yang lebih baik dalam penatalaksaannya.
- Tinjauan Teori
- Definisi
Depresi adalah suatu gangguan keadaan tonus perasaan yang secara umum ditandai oleh rasa kesedihan, apatis, pesimisme, dan kesepian. Keadaan ini sering disebutkan dengan istilah kesedihan (sadness), murung (blue), dan kesengsaraan.
- Klasifikasi
Klasifikasi gangguan depresi sangat bervariasi. Dahl dan Brent membagi gangguan depresi dalam 3 kategori, yaitu :
- Gangguan depresi berat (major depressive disorder) yaitu perasaan sedih selama 2 minggu, jemu atau lekas marah (irritable) dan tlisertai 4 gejala lain menurut kriteria DSM-IV.
- Gangguan distemik (dysthymic), yaitu bentuk depresi yang lebih kronis tanpa ada bukti episode depresi berat. Dahulu disebut depresi neurosis.
- Gangguan efektif bipolar alau siklotiraik (bipolar affective illness or cyclothymic disorder).
- Etiologi
Depresi merupakan salah satu dari sekelompok penyakit gangguan alam perasaan dengan dasar penyebab yang sama. Beberapa faktor yang diduga berpengaruh terhadap etiologi depresi, khususnya pada anak dan remaja adalah:
- Faktor genetik
Meskipun penyebab depresi secara pasti tidak dapat ditentukan, faktor genetik mempunyai peran terbesar. Gangguan alam perasaan cenderung terdapat dalam suatu keluarga tertentu. Bila suatu keluarga salah satu orangtuanya menderita depresi, maka anaknya berisiko dua kali lipat dan apabila kedua orangtuanya menderita depresi maka risiko untuk mendapat gangguan alam perasaan sebelum usia 18 tahun menjadi empat kali lipat.
Pada kembar monozigot, 76% akan mengalami gangguan afektif sedangkan bila kembar dizigot hanya 19%. Bagaimana proses gen diwariskan, belum diketahui secara pasti. Bahwa kembar monozigot tidak 100% menunjukkan gangguan afektif, kemungkinan ada faktor non-genetik yang turut berperan.
- Faktor Sosial
Dilaporkan bahwa orangtua dengan gangguan afektif cenderung akan selalu menganiaya atau menelantarkan anaknya dan tidak mengetahui bahwa anaknya menderita depresi sehingga tidak berusaha untuk mengobatinya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa status perkawinan orangtua, jumlah sanak saudara, status sosial keluarga, perpisahan orangtua, perceraian, fungsi perkawinan, atau struktur keluarga banyak berperan dalam terjadinya gangguan depresi pada anak. Ibu yang menderita depresi lebih besar pengaruhnya terhadap kemungkinan gangguan psikopatologi anak dibandingkan ayah yang mengalami depresi. Levitan et al (1998) dan Weiss et al (1999) melaporkan adanya hubungan yang signifikan antara riwayat penganiayaan fisik atau seksual dengan depresi, tetapi mekanismenya belum diketahui secara pasti.
Diyakini bahwa faktor non-genetik seperti fisik maupun lingkungan merupakan pencetus kemungkinan terjadinya depresi pada anak dengan riwayat genetik.
- Faktor Biologis lainnya
Dua hipotesis yang menonjol mengenai mekanisme gangguan alam perasaan terfokus pada: terganggunya regulator sistem monoamin-neurotransmiter, termasuk norepinefrin dan serotonin (5-hidroxytriptamine). Hipotesis lain menyatakan bahwa depresi yang terjadi erat hubungannya dengan perubahan keseimbangan adrenergik-asetilkolin yang ditandai dengan meningkatnya kolnergik, sementara dopamin secara fungsional
- Gambaran Klinis
Gambaran klinis yang tampak pada anak dipengaruhi oleh usia dan pengalaman psikologis anak. Hingga usia 7 tahun, umumnya anak belum dapat mengekspresikan perasaannya dengan kata-kata, tetapi hanya dengan tingkah laku. Komunikasi verbal anak yang belum berkembang akan mempersulit diagnosis depresi pada anak sebelum usia 7 tahun. Komunikasi non-verbal seperti ekspresi wajah dan postur tubuh dapat membantu menegakkan diagnosis depresi pada anak yang lebih muda. Anak yang lebih muda akan menunjukkan fobia, gangguan cemas perpisahan, keluhan somatik, dan perubahan tingkah laku.
Tanda eksternal depresi pada anak dan remaja:
- Pada batita
Nampak kurang motivasi, menolak makan, tangis terus menerus dan meningkatknya kemarahan.
- Usia prasekolah atau awal sekolah dasar
Anak kelihatan seperti sakit serius, tidak bersemangat, lekas marah (irritable), bersedih seperti sedang mengalami frustrasi, bahkan dapat sampai mencederai dirinya sendiri.
- Usia akhir SD hingga remaja
Anak memperlihatkan gangguan tingkah laku, bermasalah dengan teman, dan penurunan prestasi belajar. Kadang-kadang bertingkah laku agresif, lekas marah (irritable), dan berbicara tentang bunuh diri.
Kriteria diagnostik berdasarkan DSM-IV (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders 1994 fourth edition) dikatakan gangguan depresi berat bila sedikitnya ada 5 gejala selama priode dua minggu pegamatan yang disertai perubahan fungsi berupa:
- Alam perasaan terdepresi atau mudah tersinggung, atau
- Hilangnya minat atau kesenangan, desertai sedikitnya 4 gejala berikut:
- Anak gagal mencapai BB yang diharapkan;
- Insomnia atau hipersomnia tiap hari;
- Retardasi psikomotor atau agitasi;
- Kelelahan atau kehilangan tenaga setiap hari;
- Rasa tidak berdaya atau rasa bersalah yang tidak wajar;
- Tidak mampu berfikir atau berkonsentrasi;
- Pikiran akan kematian yang berulang (recurrent).
Gejala tersebut harus menimbulkan ganggauan sosial atau akademik dan bukan efek langsung alkohol atau kondisi medis umum, misalnya hipotiroidisme. Diagnosis depresi berat tidak dapat ditegakkan dalam dua bulan setelah kehilangan seseorang yang dicintai, kecuali jika ditemukan gangguan fungsional yang nyata, rasa tidak berharga, ingin bunuh diri, gejala psikotik, atau retardasi prikomotor.
Sementara Shives tanda klinis dan kriteia diagnostik depresi pada anaka dan remaja adalah sebagai berikut:
- Tanda klinis depresi pada anak
- Kesedihan yang dirasakan setiap saat
- Menarik diri
- Irritable, menunjukkan perilaku negative; destruktif
- Harga diri rendah
- Perasaan sangat berdosa, khusunya setelah terjadi insiden kecil atau situasi yang sebenarnya bukan karena kesalahan anak
- Gangguan tidur seperti insomnia, night terrors, atau tidur hanya sebentar-sebentar
- Perilaku melarikan diri
- Perubahan selera makan seperti penurunan atau tidak ada nafsu makan atau justru berlebihan
- keluhan somatic atau fisik seperti nyeri kepala, nyeri perut atau nyeri telinga
- Kesulitan dalam belajar yang terlihat dengan kurang perhatian, kecemasan (school anxiety) atau perubahan penampilan yang mendadak, dan peringkat yang buruk
- Preokupasi terhadap kematian, misalnya tidak ada perhatian sama sekali dengan kesehatan orang tua, kesedihan yang lama karena kematian hewan kesayangan atau ide untuk bunuh diri.
- Tanda klinis depresi pada remaja
- kesedihan
- Fluktuasi antar apatis dan banyak bicara
- Marah; sarkasme verbal atau menyerang
- Sering mengkritik
- Merasa berdosa
- Perasaan tak akan mampu mencapai ideal diri
- Harga diri rendah
- Kehilangan kepercayaan diri
- Merasa putus asa dan tak berdaya
- Sangat ambivalen antara mandiri atau tergantung
- Merasakan kekosongan dalam hidupnya
- Agitasi dan tidak mampu beristirahat
- Pesimis akan masa depan
- Keinginan untuk mati; ide untuk bunuh diri, merencakan atau melakukan percobaan bunuh diri
- Menolak untuk malakukan tugas di kelas atau bekerjasam dengan orang lain
- Gangguan tidur
- Peningkatan atau penurunan selera makan, sehingga terjadi penurunan atau peningkatan berat badan
- Pathways
- Penatalaksanaan medis
- Penatalaksanaan umum
Tujuan dari penatalaksanaan primer adalah untuk memperpendek episode depresi (remission), mencegah kekambuhan dan untuk mengurangi konsekuensi negatif dari episode depresi. Untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut, intervensi yang dapat dilakukan adalah psikoterapi individual, terapi keluarga/pendidikan serta terapi famakologi.
- Psikoterapi
Pada anak yang menagalami depresi, pengembangan kognitif dan emosi merupakan intervensi psikoterapetik yang harus dibangun. Beberapa pendekatan psikoterapi berbeda yang digunakan telah menunjukkan hasil positif antara lain:
- Psikoterapi perorangan (individual psychotherapy)
- Terapi bermain (play therapy)
- Terapi berorientasi kesadaran (insight-oriented therapy)
- Terapi tingkah laku (behavioral therapy)
- Model stres hidup (life stress model)
- Psikoterapi kognitif (cognitive psychotherapy)
- Lain-lain, seperti terapi kelompok (group therapy), latihan orangtua (parent training), terapi keluarga (family training)25, pendidikan remedial (remedial education), dan penempatan di luar rumah (out of homeplacement).
- Terapi psikofarmaka
Sampai saat ini penggunaan oabt-obat psikofarmaka pada kasus depresi pada anak-anak dan remaja masih banyak diperdebatkan oleh para ahli. Beberapa pertimbangannya adalah obat-obat antidepresan yang biasa diberikan pada penderita dewasa ternyata tidak memberikan hasil yang sama ketika diberikan pada anak-anak. Belum lagi timbulnya efek yang tidak diinginkan pada pemberian obat antidepresan tersebut. Beberapa terapi psikofarmaka yang bisa dijadikan alternatif antara lain:
- Golongan antidepresi trisiklik: Amitriptilin, Imipramin, dan Desipramin.
Berbeda dengan orang dewasa, pada anak tidak menunjukkan perbedaan yang berarti antara antidepresi golongan trisiklik dengan plasebo. Obat ini bersifat kardiotoksik dan cenderung berakibat fatal bila melampaui dosis.
- Golongan obat yang bekerja spesifik menghambat ambilan serotinin: fluoksetin dan sertralin.
Obat ini memberikan harapan yang cerah dalam pengobatan depresi pada anak dan remaja. Merupakan obat pilihan pertama pada anak dan remaja karena dapat ditoleransi dengan baik dan efek yang merugikan lebih sedikit dibandingkan dengan antidepresi golongan trisiklik. Sayangnya, sedikit sekali penelitian tentang pengobatan rumatan (maintenance) pada anak dan remaja. Dibandingkan dengan usia dewasa, pada masa remaja cenderung berkembang untuk agitasi atau menjadi mania bila meraka mendapat SSRIs (Selective serotinine reuptake inhibitors). Obat ini juga dapat menurunkan libido.
- Litium karbonat
Obat ini telah digunakan untuk pengobatan anak dan remaja yang mengalami agresi, mania, depresi, dan masalah tingkah laku, tetapi lebih berguna pada kasus yang berisiko menjadi bipolar.
- Penatalaksanaan keperawatan
- Pengkajian
- Faktor predisposisi
- Faktor presipitasi
- Aktifitas/istirahat
Fatigue, malaise, penurunan energi dan letargi.
Gangguan tidur (misal insomnia) terjadi dalam 90% kasus salah satunya anxiety insomnia (kesulitan untuk tidur) atau depressive insomnia (bagun lebih awal dan tidak bisa tidur kembali), atau hipersomnia.
- Integritas ego
Perasaan tak mampu untuk marah (worthlessness): pernyataan yang menghina diri sendiri, perasaan berdosa, membesar-besarkan ketidak berdayaan, mungkin mengalami waham berdosa.
Kesedihan yang berlebihan: kehilangan yang aktual atau stressor yang pahami sebagai suatu kehilangan (misal kehilangan pekerjaan, perceraian sakit, menjadi tua, dll) namun kadang tidak bisa diketahui hubungan antara kehilangan tersebut dengan onset depresi.
Perasaan tidak akan ada pertolongan, tidak ada harapan, ketidakberdayaan, pesimis, iritabel dan marah yang berlebihan.
- Nutrisi dan cairan
Penurunan atau justru peningkatan nafsu makan yang berhubungan dengan perubahan berat badan secara signifikan.
- Eliminasi
Mungkin ditemukan kontipasi atau retensi urine.
- Personal hygiene
Tidak ada perhatian pada kebutuhan diri serta penampilan, bau badan tak sedap.
- Neurosensori
Kehilangan interest terhadap suatu aktivitas yang biasa dilakukan. Mengekspresikan kesedihan, tidak ada kepedulian dengan apapun, tidak mampu melihat masa depan diri.
Iritabel dan kadang mengeluh nyeri kepala.
Mungkin mengalami delusi atau halusinasi.
Retardasi psikomotor: gerakan badan lambat, bicara pelan.
Karakteristik kognitif: sulit untuk berkonsentrasi, penurunan daya ingat, dan ide bunuh diri.
- Keamanan
Keinginan untuk mengakhiri hidup atau percobaan bunuh diri.
- Seksualitas
Tidak ada ketertarikan pada aktifitas seksual.
- Interaksi social
Memperlihatkan perilaku menarik diri.
- Pola asuh
Riwayat keluarga dengan depresi, penyalahgunaan alcohol dan zat.
- Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul
- Risiko terhadap membahayakan diri sendiri berhubungan dengan perasaan keputusasaan dan kesepian
- Harga diri rendah berhubungan dengan perasaan tidak berharga skunder terhadap (uraikan)
- Kurang perawatan diri berhubungan dengan penurunan minat pada tubuh, ketidakmampuan untuk membuat keputusan, dan perasaan ketidakbergunaan.
- Perubahan proses pikir berhubungan dengan tatanan kognitif negatif.
- Kerusakan interaksi sosial berhubungan dengan ketidakmampuan memulai interaksi sosial.
- Risiko terhadap perubahan pertumbuhan dan perkembangan berhubungan dengan hospitalisasi.
- Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan penurunan keinginan untuk makan sekunder terhadap depresi
- Perubahan persepsi sensori berhubungan dengan panik, menarik diri, stres berat yang mengancam ego yang lemah.
- Perencanaan dan rasionalisasi
- Risiko terhadap membahayakan diri sendiri
Intervensi | Rasional |
Ciptakan lingkungan yang aman | Jika klien telah memverbalkan keinginan untuk mati maka prioritas utama adalah |
Persiapkan support system misalnya guru klien, pelatih atau orang tua | Klien mungkin akan merasa lebih nyaman mendiskusikan perasaannya dengan individu yang mengenal klien dan mungkin temannya. |
Gali perasaan dan penyebab perasaan ingin bunuh diri | Mengenali faktor penyebab keinginan untuk bunuh diri membantu pemilihan pendekatan pada klien yang paling tepat. |
Konsultasi dengan psikiater mengenai lingkungan yang paling tepat untuk pengobatan klien | Tempat yang sesuai untuk terapi klien ikut menentukan keberhasilan dari pengobatan. Terkadang rumah sakit justru menambah intensitas depresi klien |
- Harga diri rendah
Intervensi | Rasional |
Jangan biarkan klien berfikir terus tentang masa lalu | Klien mungkin mempunyai perasaan bersalah akan kejadian di masa lalunya. |
Berikan umpan balik yang realistik tentang kejadian traumatic klien | Klien mungkin tidak mempunyai perasaan yang realistik tentang suatu kajadian. Umpan balik yang realistik bisa meningkatkan rasa penghargaan diri klien |
Berikan kesempatan untuk anak berhasil dan merasa diperlukan. | Penghargaan atas keberhasilan klien dan perasaan diperlukan oleh orang lain akan meningkatkan kepercayaan dan harga diri. |
Berikan waktu bermain terstruktur dan tidak terstruktur bagi anak. | Bermain dapat mengembangkan interaksi social dan peran diri serta meningkatkan harga diri anak. |
Jamin kontinuitas pengalaman akademik baik di rumah sakit maupun dirumah | Memperkecil isolasi sosial klien. |
- Kurang perawatan diri
Intervensi | Rasional |
Kaji faktor yang berperan; kurang motivasi, regresi atau penurunan energi. | Diperlukan untuk menentukan pilihan intervensi. |
Tingkatkan partisipasi optimal klien pada perawatan dirinya. | Partipasi menumbuhkan kemandirian dan mengembangkan minat tehadap perawatan diri |
Beri dorongan untuk tidak tergantung dan meningkatkan keterlibatan. Hargai setiap keterlibatan yang dilakukan klien. | Penghargaan pada keterlibatan klien sekaligus akan meningkatkan harga diri klien. |
Berikan bantuan dalam aktivitas perawatan diri namun hindari sikap tergantung. | Bantuan diperlukan klien untuk pemenuhan perawatan diri diberikan secara minimal. |
Berikan jadwal rutin untuk pemenuhan perawatan diri klien seperti makan, mandi dan berpakaian. | Jadwal akan membantu klien untuk terlibat dalam perawatan dirinya. |
- Perubahan proses pikir
Intervensi | Rasional |
Tunjukkan bahwa anda menerima keyakinan pasien yang salah tersebut, sementara itu biarkan pasien tahu bahwa anda tidak mendukung keyakinan tersebut. | Penting untuk dikomunikasikan kepada pasien bahwa anda tidak menerima delusi sebagai suatu realita |
Jangan membantah atau menyangkal keyakinan pasien. Gunakan teknik KERAGUAN YANG BERALASAN sebagai teknik terapeutik : "Saya merasa sukar untuk mempercayai hal tersebut". | Membantah pasien atau menyangkal keyakinannya tidak akan bermanfaat apa-apa, ide-ide waham tidak dapat dikurangi dengan pendekatan ini, dan mungkin akan menghalangi perkembangan hubungan saling percaya. |
Bantu pasien untuk mencoba menghubungkan keyakinan-keyakinan yang salah tersebut dengan peningkatan ansietas yang dirasakan oleh pasien. Diskusikan teknik-teknik yang dapat digunakan untuk mengontrol ansietas (misal : latihan nafas dalam, latihan-latihan relaksasi yang lain, teknik berhenti berpikir). | Jika pasien dapat belajar untuk menghentikan ansietas yang meningkat, pikiran wahamnya mungkin dapat dicegah. |
Fokus dan kuatkan pada realita. Kurangi lama ingatan tentang pikiran irasional. Bicara kejadian dan orang yang nyata. | Diskusi yang berfokus pada ide-ide yang salah tidak akan berguna dan mencapai tujuan, dan mungkin membuat psikosinya menjadi lebih buruk. |
Bantu dan dukung pasien dalam usahanya untuk mengungkapkan secara verbal perasaan ansietas, takut atau tidak aman | Ungkapan perasaan secara verbal dalam lingkungan yang tidak mengancam akan menolong pasien mengungkapkan perasaannya yang mungkin sudah terpendam cukup lama. |
- Kerusakan interaksi sosial
Intevensi | Rasional |
Berikan klien hubungan yang suportif | Kehadiran, penerimaan dan penyampaian penghargaan positif anda meningkatkan rasa harga diri pasien. |
Setelah pasien nyaman dalam hubungan individual, dorong klien untuk hadir dalam terapi kelompok. | Terapi kelompok dapat membantu klien mengembangkan interkasi sosialnya. |
Ajarkan kepada orangtua untuk: Menghindari kritik kasar Jangan tidak setuju didepan anak Tetapkan kontak mata sebelum memberikan instruksi dan meminta anak mengulangi apa yang dikatakannya. | Perilaku mengkritik orang tua akan menekan kepercayaan diri anak. Kontak mata menujukkan kehadiran fisik dan atusiaame dalam berinteraksi. |
Bila ada perilaku antisocial, abntu untuk: Menggambarkan perilaku yang mempengaruhi sosialisasi Bermain peran sesuai respon Munculkan umpan balik sebaya untuk perilaku positif dan negative | Memberikan gambaran pada anak perilaku-perilaku yang menghambat atau membantu interaksi soial. |
- Risiko terhadap perubahan pertumbuhan dan perkembangan
Intervensi | Rasional |
Ajarkan pada orang tua tentang tugas perkembangan sesuai kelompok usia. | Pengetahuan orang tua tentang tugas perkembangan diperlukan agar orang tua mampu memberikan tindakan yang sesuai tingkat perkembangan klien. |
Lakukan tindakan keperawatan sesuai dengan kelompok usia tumbuh kembang seperti di bawah ini :
| |
- Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh
Intervensi | Rasional |
Kolaborasi ahli gizi, tentukan jumlah kalori yang dibutuhkan untuk memberikan nutrisi yang adekuat dan pertambahan berat badan yang realistis (menurut struktur dan tinggi tubuh). | Pemberian diet harus sesuai dengan kebutuhan nutria klien. |
Pastikan bahwa dietnya meliputi makanan yang mengandung tinggi serat untuk mencegah konstipasi. Dorong pasien untuk meningkatkan konsumsi cairan dan latihan fisik untuk meningkatkan fungsi defekasi normal. | Pasien-pasien depresi khususnya mudah untuk mengalami konstipasi sehubungan retardasi psikomotor. Konstipasi juga merupakan efek samping yang umum untuk banyak obat-obatan antidepresan. |
Dokumentasi ketat tentang masukan, haluaran, dan jumlah kalori. | Informasi ini penting untuk membuat suatu pengkajian nutrisi yang akurat dan mempertahankan keamanan pasien. |
Timbang berat badan pasien setiap hari. | Penurunan atau pertambahan berat badan merupakan informasi pengkajian yang penting. |
Tentukan makanan yang disukai dan tidak disukai pasien dan kolaborasi ahli diet untuk menyediakan makanan kesukaan pasien. | Pasien lebih suka makan makanan yang disukainya. |
Pastikan bahwa pasien menerima makanan dengan porsi sedikit tapi sering termasuk makanan kecil sebelum tidur, daripada makan 3 kali sehari dalam porsi yang lebih besar. | Jumlah makanan yang besar mungkin tidak disetujui atau tetap tidak dapat ditoleransi pasien. |
Berikan suplemen vitamin dan mineral dan pelunak feses atau bulk tambahan, sesuai pesanan dokter | Mengurangi risiko kontipasi dan defisiensi nutrient. |
Temani pasien selama makan | Untuk membantu sesuai kebutuhan dan untuk memberikan dukungan dan dorongan. |
Pantau hasil laboratorium, dan laporkan perubahan-perubahan yang bermakna kepada dokter | Hasil laboratorium memberikan data objektif berkenaan dengan status nutrisi. |
Jelaskan pentingnya nutrisi dan masukan cairan yang adekuat. | Pasien mungkin tidak memiliki pengetahuan adekuat dan akurat berkenaan peran nutrisi yang baik untuk kesehatan menyeluruh. |
- Perubahan persepsi sensori
Intervensi | Rasional |
Observasi pasien dari tanda-tanda halusinasi (sikap seperti mendengarkan sesuatu, bicara atau tertawa sendiri, terdiam, ditengah-tengah pembicaraan). | Intervensi awal akan mencegah respons agresif yang diperintah dari halusinasinya. |
Hindari menyentuh pasien sebelum anda mengisyaratkan kepadanya bahwa anda juga tidak apa-apa bila diperlakukan seperti itu. | Pasien dapat saja mengartikan sentuhan sebagai suatu ancaman dan berespons dengan cara yang agresif. |
Sikap menerima akan mendorong pasien untuk menceritakan isi halusinasinya dengan anda. | Hal ini penting untuk mencegah kemungkinan terjadinya cedera terhadap pasien atau orang lain karena adanya perintah dari halusinasi. |
Jangan dukung halusinasi. Gunakan kata-kata "suara tersebut" dari pada kata-kata "mereka" yang secara tidak langsung akan memvalidasi hal tersebut. Biarkan pasien tahu bahwa anda tidak sedang membagikan persepsi anda. Katakan "Meskipun saya menyadari bahwa suara-suara tersebut nyata untuk anda, saya sendiri tidak mendengarkan suara-suara yang berbicara apapun". | Perawat harus jujur kepada pasien sehingga pasien menyadari bahwa halusinasi tersebut adalah tidak nyata. |
Coba menghubungkan waktu terjadinya halusinasi dengan waktu meningkatnya ansietas. Bantu pasien untuk mengerti hubungan ini. | Jika pasien dapat belajar untuk menghentikan peningkatan ansietas, halusinasi dapat dicegah. |
Coba untuk mengalihkan pasien dari halusinasinya. | Keterlibatan pasien dalam kegiatan-kegiatan interpersonal dan jelaskan tentang situasi kegiatan tersebut, hal ini akan menolong pasien untuk kembali kepada realita. |
- Issue Kontemporer tentang Depresi pada Anak
Bagi kebanyakan orang, masa yang paling indah adalah masa remaja. Namun mungkin tidak demikian bagi anak dan remaja lain yang kebetulan mengalami tekanan berat dan berujung pada depresi. Tuntutan akademik disekolah yang semakin berat, waktu bermain yang tergusur oleh kegiatan yang padat, makin renggangnya hubungan orang tua dan dan anak, dan banyak lagi fenomena yang berkembang di masyarakat.
Banyak orang tua mengeluh anak remajanya menjadi pemurung, prestasi disekolahnya turun, jarang berbicara, atau mungkin mulai terlibat pada penyalahgunaan zat berbahaya. Tetapi mungkin tidak banyak orang tua yang menyadari bahwa mungkin anak-anaknya tengah mengalami depresi yang jika tidak ditangani dengan baik dapat menimbulkan efek yang tidak baik. Bahkan sampai ada yang mencoba untuk mengakhiri hidupnya karena depresi yang berkepanjangan.
Berbagai surat kabar atau televisi sudah sering menayangkan praktek dan percobaan bunuh-diri yang dilakukan remaja. Terkadang sebabnya sepele menurut kita. Mungkin, karena sudah mengakumulasi, akhirnya hal-hal yang sepele itu menjadi besar yang tidak disadari akibatnya. Di Jawa Timur misalnya ada remaja yang bunuh diri karena diputus pacar. Di Jawa tengah seorang remaja melakukan percobaan bunuh diri karena menghabiskan uang SPP. Di Bali, seorang remaja mau gantung diri karena nilai UN-nya jeblok dan takut dimarahi orangtua. Motif mereka ada yang karena sudah buntu dan ada yang karena mencari perhatian. Apa yang sebenarnya ada dibalik fenomena ini?
- Pembahasan
Seseorang tentu akan mengalami masa remaja sebagai konsekuensi dari proses pertumbuhan dan perkembangannya. Masa remaja yang merupakan masa peralihan dari masa anak-anak ke masa dewasa, masa transisi dimana remaja rawan mengalami masalah psikologis. Sebenarnya tugas perkembanagan (masalah) yang dialami remaja adalah satu hal yang biasa dan tidak bisa dihindarkan, tetapi tidak semua remaja mampu melewatinya dengan baik sehingga menimbulkan dampak psikologis baginya. Masalah yang tidak bisa dihindarkan tetapi tidak terpecahkan itulah yang bisa membuat remaja tenggelam dalam depresi.
Sesuai dengan tahap perkembangannya tentu masalah yang sering mengakibatkan depresi pada remaja kebanyakan tidaklah sama dengan usia sebelum pubertas. Beberapa hal yang banyak menjadi faktor pencetus depresi pada remaja adalah:
- Panggilan menemukan jati diri
Remaja adalah masa transisi perkembangan fisik dan mental yang terjadi antara masa anak-anak dan masa dewasa. Kalau kembali lagi ke teori Erik Erikson, masalah yang paling dekat dengan para remaja adalah search for identity (dorongan untuk unjuk diri, pencarian identitas) dan role confusion (menghadapi kebingungan peran). Remaja di sini, menurut Erikson, adalah anak yang sudah mulai masuk umur 12 sampai 18 tahun.
Satu sisi, mereka punya dorongan untuk menunjukkan siapa dirinya, tetapi di sisi lain, mereka belum memiliki kemampuan untuk membuktikan siapa dirinya. Mereka ingin dipandang, tetapi orangtua belum memiliki alasan untuk memandangnya. Mereka ingin dibebaskan, tetapi orangtua masih meragukan konsistensinya. Inilah yang kerap memicu bentrokan dalam keluarga. Bentrokan ini yang memicu stress yang dialami remaja. Jikalau persoalan ini berlarut-larut dan tidak ada jalan keluar yang tepat, tidak tertutup kemungkinan remaja itu bisa mengalami depresi.
- Urusan cinta
Masalah lainnya adalah urusan cinta (puberty). Banyak istilah mengenai hal ini seperti cinta monyet dan sebagainya, mereka berhadapan dengan persoalan ini. Namun perlu diingat tidak semua remaja dibekali persiapan menghadapinya. Banyak kaum ibu yang dibuat pusing tujuh keliling karena memikirkan anaknya yang jatuh cinta, sms tengah malam, bolos sekolah, atau membengkaknya tagihan telepon rumah. Lebih-lebih jika si anak jatuh cintanya pada teman yang menurut orang tua "kurang baik". Dan masalahnya akan lebih rumit jika ternyat mereka telah menjalin hubungan yang sangat jauh dari perkiraan kita. Dan diakui atau tidak masalah percintaan adalah salah satu sumber masalah.
Secara psikologis, munculnya cinta pada remaja bisa berarti ganda, positif atau negatif. Positif misalnya: mereka bisa merasakan sensasinya cinta, cinta menyemangati pertumbuhannya, memunculkan kemerdekaan dalam hidupnya, menghadirkan dukungan, dorongan, dan perlakuan yang menyenangkan, dan yang lebih penting lagi, cinta membuat mereka merasa menjadi orang penting dan spesial. Sedangkan yang negatif antara lain: cinta memunculkan cemburu, dendam, posesivitas, dorongan ingin mengendalikan kebebasan pasangan, depresi, dan mengundang potensi bunuh diri karena ketakutan atau kekhawatiran akan kehilangan orang tersayang.
- Tuntutan prestasi
Hal lain yang juga ikut menjadi sumber masalah remaja adalah standar prestasi yang terlalu tinggi dan terlalu mengancam dirinya, entah itu yang ditetapkan orangtua, lembaga atau lingkungan. Jika standar yang tinggi itu kita maksudkan untuk menyemangati tekad dan visinya dalam berprestasi, kita sesuaikan dengan kelebihan, perkembangan, dan keadaan (anak dan orangtua), sekaligus disediakan ruang untuk melatih kemandirian, tanggung jawab, dan kebebasannya, ini sangat bagus. Orangtua mempunyai posisi kuat untuk menegaskan arahan, namun tetap memberikan ruang kreativitas untuk si anak agar meng-eksplorasi potensinya.
Masalah timbul ketika standar prestasi tinggi tersebut justru menjadi sesuatu yang sangat menekan. Misalnya ketika remaja dihadapakan pada Ujian Nasional dengan standar nilai kelulusan tertentu. Untuk menghadapi ujian tersebut saja seorang remaja mungkin sudah berada pada keadaan cemas yang luar biasa. Apalagi jika orang tua atau sekolah terus membuat target-target yang sangat sulit dicapai. Belum lagi jika ternyata hasil yang diterima tidak sesuai harapan. Akumulasi perasaan tertekan dan cemas seperti inilah yang menjadi pintu masuk bagi seorang remaja mengalami depresi.
Perawat sebagai salah satu unsur dari sistem pelayanan kesehatan tentu mempunyai peran yang strategis dalam pengelolaan depresi pada anak dan remaja. Jika kita bekerja di unit pelayanan kesehatan (misalnya rumah sakit) tentu perawat akan menempatkan diri dalam mengelola asuhan keperawatan bagi penderita tersebut. Namun di masyarakat (komunitas) perawat juga bisa dalam upaya preventif agar masyarakat terhindar dari masalah ini. Salah satunya dengan deteksi dini depresi pada anak-anak dan remaja karena semakin cepat diketahui, semakin cepat mendapat penanganan, semakin baik pula keberhasilan terapi.
Peran lain dari seorang perawat dalam upaya prevensi adalah memberikan pendidikan kesehatan bagi masyarakat (komunitas). Hal-hal apa yang perlu diwaspadai, bagaimana cara orang tua menunjukkan kepedulian bagi remaja sehingga remaja tidak merasa sendiri ketika ia merasa cemas, takut dan tertekan dan bagaimana cara memberi penguatan kemampuan menghadapi realitas kehidupan adalah beberapa contoh pendidikan kesehatan yang bisa diberikan oleh perawat.
Daftar Pustaka
American Academy of Chlid and Adolescent Psychiatry, The depressed Child, http://www.aacap.org/cs/root/facts_for_families/the_depressed_chlid diakses tanggal 11 Maret 2009
Anonym, Nursing Care Plan: NCP Major Depression/Dysthymic Disorder, http://www.nursingcareplan.blogspot.com/2006/12/ncp_major_depression_dysthymic.html diakses 12 Maret 2009
Carpernito, Lynda Juall, Buku Saku Diagnosa Keperawatan, Edisi 8, EGC, Jakarta, 2000
Emslie, Graham J., M.D dan Mayer, Taryn L., M.S, New Advances in The Psychopharmacological Treatment of Mood Disorder, http://www.aacap.org/cs/root/developmentor/new_advances_in_the_psychopharmacological_treatment_ of_mood_disorder diakses tanggal 11 Maret 2009
Kaplan, H.I. dan Sadock, B.J., Buku Saku Psikiatri Klinik (Terjemahan), Binarupa Aksara, Jakarta, 1994
Maslim Rusdi, Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa, EGC, Jakarta. 1998.
Rambe, Abdul Muthalib, Depresi pada Anak, http://www.tempo.co.id/medika/arsip/042001/pus-3.htm diakses tanggal 13 Maret 2009
Shives, Louise Rebraca, Basic Concepts of Psychiatric-Mental Health Nursing, 6th Edition, Lippincott Williams & Wilkins, florida, 2005
Son, Sung E. dan Kirchnes, Jeffrey T., Depression in Chlidren and Adolescent, http://www.aafp.org/afp/20001115/2297.html diakses tanggal 16 Maret 2009
Ubaydillah, Menangani Depresi para ABG, http://www.e-psikologi.com/epsi/klinis.asp diakses tanggal 16 Maret 2009
Tidak ada komentar:
Posting Komentar