Jumat, 19 Juni 2009

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN

OTITIS MEDIA


 

Pendahuluan


 

Otitis media adalah peradangan sebagian atau seluruh mukosa telinga tengah, tuba eustacheus, antrum mastoid, dan sel-sel mastoid.Otitis media terbagi atas otitis media supuratif dan non supuratif, dimana masing-masing memiliki bentuk akut dan kronis.Otitis media akut termasuk kedalam jenis supuratif. Selain itu juga ada jenis yang spesifik, yaitu otitis tuberculosa, otitis media sifilitik, dan otitis media adhesive.

Pada beberapa penelitian infeksi ini diperkirakan terjadi pada 25 % anak. Lebih sering pada anak-anak indian amerika dan eskimo dibandingkan dengan anak kulit putih dan paling jarang pada anak kulit hitam.Infeksi umumnya terjadi pada kehidupan dua tahun pertama , sedangkan insiden puncak kedua terjadi pada tahun pertama masa sekolah. Anak-anak yang telah enam kali mengalami serangan otitis media atau lebih dengan istilah cenderung otitis. Suatu penelitian oleh howie menunjukan bahwa suatu periode infeksi s, pneumonia dalam tahun pertama kehidupan telah dihubungkan dengan berlanjutnya insiden otitis media akut berulang. Keadaan ini lebih sering ditemukan pada anak laki-laki dibandingkan anak wanita. Insiden kondisi alergi tidak meningkat pada anak-anak ini. Delapan stereotipe s. pneumoniae bertanggungjawab atas lebih dai 75 % episode otitis media akut . Dengan demikian pengembangan suatu vaksin pneumokok dapat merupakan suatu langkah penting dalam mengendalikan episode berulang ini.

Pengobatan anak-anak dengan kecenderungan mengalami otitis media ini dapat bersifat medis ataupun pembedahan. Penatalaksanaan medis termasuk pemberian antibiotik dosis rendah dalam jangka waktu hingga 3 bulan .Alternatif lain adalah pemasangan tuba ventilasi. Keputusan untuk melakukan miringotomi umumnya berdasarkan kegagalan profilaksis secara medis , atau timbul reaksi alergi terhadap antimikroba yang lazim dipakai, baik golongan sulfa atau penisillin.

Anak lebih mudah diserang otitis media oleh karena :

  1. Sistem kekebalan tubuh anak masih dalam perkembangan.
  2. Saluran tuba eustacheus pada anak lebih lurus secara horizontal dan lebih pendek sehingga ISPA lebih mudah menyebar ke telinga tengah.
  3. Adenoid ( adenoid : salah satu organ ditenggorokan bagian atas yang berperan dalam kekebalan tubuh ) masa anak relatif lebih besar dibanding orang dewasa. Posisi adenoid berdekatan dengan muara saluran tuba eustachius sehingga adenoid yang besar dapat mengganggu terbukanya saluran eustachius. Selain itu adenoid


 


 

sendiri dapat terinfeksi dimana infeksi tersebut kemudian menyebar ke telinga tengah lewat saluran eustacheus.


 

Resiko kekambuhan otitis media terjadi pada beberapa faktor , antara lain usia usia kurang 5 tahun, otitis prone ( pasien yang mengalami otitis pertama kali pada usia kurang 6 tahun, 3 kali dalam 6 bulan terakhir), infeksi pernapasan, perokok, laki-laki.

Kasus yang akan dibahas di bawah ini adalah otitis media akut akibat komplikasi dari rhinitis alergi yang dialami anak usia 6 tahun.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

Tinjauan teori

  1. Anatomi dan fiosiologi

Telinga tengah tersusun atas membran timpani ( gendang telinga ) di sebelah lateral dan kapsul otik disebelah medial celah telinga tengah terletak diantara kedua membrana timpani terletak pada akhiran kanalis aurius eksternus dan menandai batas lateral telinga,membran ini sekitar 1 cm dan selaput tipis normalnya berwarna kelabu mutiara dan translulen.

Telinga tengah merupakan rongga berisi udara merupakan rumah bagi osikuli ( tulang telinga tengah ) dihubungkan dengan tuba eustachii ke nasofaring berhubungan dengan beberapa sel berisi udara di bagian mastoid tulang temporal.tulang telinga tengah mengandung tulang terkecil ( osikuli ) yaitu malleus, inkus stapes. Osikuli dipertahankan pada tempatnya oleh sendi, ligamen dan otot yang membantu hantaran suara.

Ada dua jendela kecil ( jendela oval dan dinding medial telinga tengah, yang memisahkan telinga tengah dengan telinga dalam. Bagian dataran kaki menjejak pada jendela oval, dimana suara dihantar ke telinga tengah. Jendela bulat memberikan jalan ke getaran suara.Jendela bulat ditutupi oleh membrana sangat tipis, dan dataran kaki stapes ditahan oleh yang agak tipis atau struktur berbentuk cincin, anulus jendela bulat maupun jendela oval mudah mengalami robekan. Bila ini terjadi, cairan dari dalam dapat mengalami kebocoran ke telinga tengah kondisi ini dinamakan fistula perilimfe.Tuba eustachii yang lebarnya sekitar 1 mm panjangnya sekitar 35 mm, menghubungkan telinga tengah ke nasofaring. Normalnya tuba eustachii tertutup, namun dapat terbuka akibat kontraksi otot palatum ketika melakukan manuver atau menguap atau menelan.

Tuba berfungsi sebagai drainase untuk sekresi dan menyeimbangkan tekanan dalam telinga tengah dengan tekanan atmosfir.

Guna tuba eustacheus adalah :

  • Menjaga keseimbangan tekanan udara di dalam telinga dan menyesuaikannya dengan tekanan udara di luar.


 

  • Mengalirkan sedikit lendir yang dihasilkan oleh sel-sel yang melapisi telinga tengah kebagian belakang hidung.


 

2.Definisi


 

Otitis berarti peradangan dari telinga, dan media berarti tengah. Jadi otitis media berarti peradangan dari telinga tengah.

Otitis media adalah peradangan sebagian atau seluruh mukosa telinga tengah, tuba eustacheus, antrum mastoid, dan sel-sel mastoid/( soepardi, iskandar ,1990)

Otitis media adalah infeksi atau inflamasi pada telinga tengah ( mediastore, 2009 ).

Otitis media akut adalah infeksi yang disebabkan oleh bakteri pada ruang udara pada tulang temporal (CMDT, edisi 3 , 2004 )

Otitis media akut adalah dari yang timbulnya cepat dan berdurasi pendek, otitis media akut biasanya berhubungan dengan akumulasi cairan di telinga tengah bersama dengan tanda-tanda atau gejala-gejala dari infeksi telinga, gendang telinga, yang menonjol biasanya disertai nyeri, atau gendang telinga yang berlubang, seringkali dengan aliran dengan materi yang bernanah. Demam dapat hadir


 

Otitis media koronik adalah perforasi pada gendang telinga ( warmasif, 2009)

Otitis media kronis adalah peradangan teliga tengah yang gigih, secara khas untuk sedikitnya satu bulan.

Orang awam biasanya menyebut congek (Alfatih, 2007)


 


 

3.Etiologi


 

Sumbatan pada tuba eustachius merupakan penyebab utama dari otitis media.Pertahanan tubuh pada silia mukosa tuba eustachius terganggu, sehingga pencegahan invasi kuman ke dalam telinga tengah terganggu juga. Selain itu ISPA juga merupakan salah satu faktor penyebab paling sering.


 


 


 


 


 


 


 


 

Kuman penyebabnya adalah

Streptococcus.

stapilococcus.

Diplococcus pneumonie.

Hemopilus influens.

moraxela


 

Pada anak makin sering terkena ISPA makin besar kemungkinan terjadinya otitis media akut ( OMA ). Pada bayi OMA dipermudah karena tuba eustachiusnya pendek, lebar, letaknya agak horizontal

Menurut Mediastore (2009) otitis media kronis terjadi akibat adanya lubang pada gendang telinga ( perforasi ).


 


 

4 Patofisiologi

Otitis media sering diawali infeksi pada saluran napas seperti radang tenggorokan atau pilek yang menyebar ke saluran tengah lewat tuba eustacheus. Saat bakteri melalui saluran eustacheus , mereka dapat menyebabkan infeksi disaluran tersebut sehingga terjadi pembengkakan disekitar saluran, tersumbatnya saluran dan datangnya dari sel-sel darah putih untuk melawan bakteri. Terbentuklah pus / nanah dalam telinga tengah. Selain itu pembengkakan jaringan disekitar tuba eustacheus menyebabkan lendir yang dihasilkan sel-sel ditelinga tengah terkumpul dibelakang gendang telinga ( Wikipedia , 2009).

Jika lendir dan nanah bertambah banyak ,pendengaran dapat terganggu karena gendang telinga dan tulang-tulang kecil penghubung telinga dengan organ pendengaran ditelinga dalam tidak dapat bergerak bebas. Kehilangan pendengaran yang dialami pada umumnya sekitar 24 desibel ( kisaran pembicaraan normal ) selain itu juga akan terasa nyeri . dan yang paling berat, dauran yang terlalu banyak tersebut akhirnya dapat merobek gendang telinga karena tekanannya.( Wikipedia, 2009 )

Sebagaimana dengan kejadian infeksi saluran napas atas ( ISPA ) , otitis media juga merupakan salah satu penyakit langganan anak.


 


 

5 Pathway ( terlampir )


 


 


 


 


 

6. Penatalaksanaan medis

Menurut AAFP pemberian 40 mg/kg BB/hari pada anak resiko rendah dan 60 mg /kg BB untuk anak dengan resiko tinggi ( kurang 2 tahun) dirawat di daycare dan ada riwayat pemberian antibiotic tiga bulan terakhir.

WHO menganjurkan 15 mg/kg bb/ hari dengan maksimumnya 500 mg.

AAP menganjurkan dosis 80-90 mg/kg bb/hari.antibiotik pada OMA menghasilkan perbaikan gejala dalam 48-72 jam. 24 jam pertama terjadi stabilisasi, sedang 24 jam kedua terjadi perbaikan. Jika tidak ada perbaikan dalam 48-72 jam, kemungkinan ada penyakit lain. Ini perlu dipertimbangkan pemberian antibiotik kedua. Jika pasien alergi ringan amoksilin dapat diberikan sefdinir, sefpodoxim, cefurosim

Jika alergi berat amoksilin diberikan asitromisin , claritomisin.


 

Analgesik /pereda nyeri

Selain antibiotik disertai pereda nyeri seperti paracetamol atau ibuprofen.namun jika dengan ibuprofen harus dipastikan anak tidak mengalami gangguan pencernaan seprti mual, muntah atau diare .

Lain-lain

  • Pemberian obat-obatan lain seperti antihistamin ( antialergi ) atau dekongestan tidak memberikan manfaat bagi anak .
  • Pemberian kortikosteroid tidak dianjurkan
  • Miriongotomi hanya dilakukan pada kasus gejala sangat berat.
  • Pemberian antibiotik sebagai profilaksis untuk mencegah berulangnya OMA tidak memiliki bukti yang cukup


 

Pencegahan

Beberapa hal yang dapat mengurangi resiko adalah ;

  • Pencegahan ISPA pada bayi dan anak-anak
  • Pemberian ASI minimal selama 6 bulan
  • Penghindaran pemberian susu di botol pada saat anak berbaring
  • Penghindaran pajanan terhadap asap rokok.


 


 


 

7.Penatalaksaan keperawatan


 

Perawatan otitis media akut bervariasi tergantung pada umur dan gejala-gejala dari anak.The American Academy of Pediatric (AAP) dan the American Academy of family Physician 9AAFP ) sebagai berikut :


 

Rekomendasi dari AAP dan AAFP 

umur 

Diagnosa pasti 

Diagnosa tidak pasti

< 6 bulan 

Antibiotik-antibiotik

Antibiotik-antibiotik

6bln-2 thn 

Antibiotik-antibiotik

Antibiotik-antibiotik jika parah * observasi tanpa pilihan antibiotik jika tidak parah

≥ 2 tahun

Antibiotik-antibiotik jika parah.* pilihan observasi jika penyakit tidak parah

* pilihan observasi tanpa antibiotik-antibiotik


 

Merawat otitis media kronik, antibiotik-antibiotik mungkin menghilangkan infeksi. Jika perlubangan gendang telinga juga hadir, obat-obat tetes antibiotik topical mungkin digunakan. Jika luka parut gendang telinga atau ossicle telah terjadi ,itu tidak akan dikembalikan dengan antibiotik-antibiotik saja. Tetapi sudah indikasi untuk operasi.


 

8.Pengkajian:

  1. Anamnesis

    Keluhan utama dapat berupa :

    1. Gangguan pendengaran / pekak.

      Bila ada keluhan gangguan pendengaran, perlu ditanyakan :

      1. Apakah keluhan tsb. pada satu telinga atau kedua


         

        telinga, timbul tiba-tiba atau bertambah secara bertahap dan sudah berapa lamanya.

      2. Apakah ada riwayat trauma kepala, telinga tertampar, trauma akustik atau pemakaian obat ototoksik sebelumnya.
      3. Apakah sebelumnya pernah menderita penyakit infeksi virus seperti parotitis, influensa berat dan meningitis.
      4. Apakah gangguan pendengaran ini diderita sejak bayi ,


       

      1. atau pada tempat yang bising atau pada tempat yang tenang.
    2. Suara berdenging / berdengung (tinitus)
      1. Keluhan telinga berbunyi dapat berupa suara berdengung atau berdenging yang dirasakan di kepala atau di telinga, pada satu sisi atau kedua telinga.
      2. Apakah tinitus ini menyertai gangguan pendengaran.
    3. Rasa pusing yang berputar (vertigo).

      Dapat sebagai keluhan gangguan keseimbangan dan rasa ingin jatuh.

      1. Apakah keluhan ini timbul pada posisi kepala tertentu dan berkurang bila pasien berbaring dan timbul lagi bila bangun dnegan gerakan cepat.
      2. Apakah keluhan vertigo ini disertai mual, muntah, rasa penuh di telinga dan telinga berdenging yang mungkin kelainannya terdapat di labirin atau disertai keluhan neurologis seperti
        disentri, gangguan penglihatan yang mungkin letak kelainannya di sentral. Kadang-kadang keluhan vertigo akan timbul bila ada kekakuan pergerakan otot-oto leher. Penyakit DM, hipertensi, arteriosklerosis, penyakit jantung, anemia, kanker, sifilis, dapat menimbulkan keluhan vertigo dan tinitus.
    4. Rasa nyeri di dalam telinga (Otalgia)
      1. Apakah pada telinga kiri /kanan dan sudah berapa lama.
      2. Nyeri alihan ke telinga dapat berasal dari rasa nyeri gigi, sendi mulut, tonsil, atau tulang servikal karena telinga di sarafi oleh saraf sensoris yang berasal dari organ-organ tersebut.
    5. Keluar cairan dari telinga (otore)
      1. Apakah sekret keluar dari satu atau kedua telinga, disertai rasa sakit atau tidak dan sudah berapa lama.
      2. Sekret yang sedikit biasanya berasal dari infeksi telinga


       

luar dan sekret yang banyak dan bersifat mukoid

umumnya berasal dari telinga tengah. Bila berbau busuk menandakan adanya kolesteatom. Bila bercampur darah harus dicurigai adanya infeksi akut yang berat atau tumor. Bila cairan yang keluar seperti air jernih harus waspada adanya cairan liquor serebrospinal.


 

  1. Tes audiometrik.

    Merupakan pemeriksaan fungsi untuk mengetahui sensitivitas (mampu mendengar suara) dan perbedaan kata-kata (kemampuan membedakan bunyi kata-kata), dilaksanakan dengan bantuan audiometrik.


     

    Tujuan :

    Menentukan apakah seseorang tidak mendengar.

    Untuk mengetahui tingkatan kehilangan pendengaran.

    Tingkat kemampuan menangkap pembicaraan.

    Mengetahui sumber penyebab gangguan pada telinga media (gangguan konduktif) dari telinga tengah (sistem neurologi).

    Pendengaran dapat diidentifikasikan pada saat nol desibel naik sebelum seseorang mendengar suara frekuensi yang spesifik. Bunyi pada titik nol terdengar oleh orang yang pendengarannya normal. Sampai ke-20 db dianggap dalam tingkat normal.


     


     


 

iI. Tindakan Pembedahan

Timpanoplasti dengan pendekatan Ganda (Combined Approach Tympanoplasty)

Operasi ini merupakan teknik operasi timpanoplasti yang dikerjakan pada kasus OMSK tipe maligna atau OMSK tipe benigna dengan jaringan granulasi yang luas.

Tujuan operasi ini untuk menyembuhkan penyakit serta memperbaiki pendengaran tanpa melakukan teknik mastoidektomi radikal (tanpa meruntuhkan dinding posterior liang telinga).


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

  1. Diagnosa Keperawatan
    1. Nyeri berhubungan dengan proses peradangan
      1. Resiko penyebaran infeksi berhubungan dengan komplikasi proses pembedahan / penyakit

        3. Resiko cidera / injury berhubungan dengan penurunan persepsi / sensori.

      2. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan nyeri.
      3. Ansietas berhubungan kurangnya pengetahuan mengenai pengobatan dan pencegahan komplikasi
      4. Isolasi sosial berhubungan dengan nyeri , otore berbau busuk.
      5. Kurangnya pengetahuan mengenai pengobatan dan pencegahan kekambuhan


         


       

      10 Intervensi keperawatan

      Menurut Nining ( 2009 ) intervensi keperawatan yang dapat dilakukan untuk mengatasi diagnosa keperawatan yang muncul pada anak dengan otitis media antara lain ;

    1. Nyeri berhubungan dengan proses peradangan pada telinga tengah

    Tujuan ; Nyeri berkurang atau hilang

    Kriteria hasil ; Nyeri berkurang atau hilang

    Intervensi :

    1. Beri posisi nyaman

      Rasionalisasi ; dengan posisi nyaman dapat mengurangi nyeri

    2. Kompres panas ditelinga bagian luar

      Rasionalisasi : untuk mengurangi nyeri

    3. Kompres dingin

      Rasionalisasi ; untuk mengurangi tekanan telinga / edema

    4. Kolaborasi pemberian analgetik dan antibiotic

      Rasionalisasi ; untuk mencegah adanya penyebaran infeksi ke daerah lain


       


       


       

    2. Resiko infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pengobatan

    Tujuan : infeksi tidak terjadi


     

    Kriteria hasil : tidak ditemukan tanda-tanda infeksi

    Intervensi :


     

    1. Kaji tanda-tanda perluasan infeksi, mastoiditis, vertigo

      Rasionalisasi : untuk mengantisipasi perluasan lebih lanjut.

    2. Jaga kebersihan pada daerah liang telinga

      Rasionalisasi : untuk mengurangi pertumbuhan mikroorganisme

    3. Hindari mengeluarkan ingus dengan paksa / terlalu keras ( sisi )

      Rasionalisasi : untuk menghindari transfer organisme dari tuba eustachius ke telinga tengah

    4. Kolaborasi pemberian antibiotik

      Rasionalisasi : untuk membunuh bakteri dan menghambat perkembangbiakan bakteri sehingga tidak terjadi penyebara n infeksi ke daerah lain


     


     

    3. Resiko cidera / trauma berhubungan dengan penurunan persepsi / sensorik

    Tujuan : anak terhindar dari injury / perlukaan

    Kriteria hasil : tidak terjadi injury / perlukaan

    Intervensi :

    1. pegangi anak atau dudukan anak di pangkuan saat makan
    2. pasang restraint pada sisi tempat tidur
    3. jaga anak saat beraktifitas
    4. tempatkan perabot teratur
    1. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan nyeri

      Tujuan : anak dapat melakukan aktifitas harian dengan bantuan minimal dari perawat dan orang tua

      Kriteria hasil : anak bisa beraktifitas sendiri


       


       

      Intervensi :

      1. Kaji tingkat kemampuan anak dalam melakukan aktifitas, misalnya makan, bermain


         


         

        Rasionalisasi ; pengkajian tentang kemampuan anak dapat dijadikan baha untuk menentukan intervensi yang tepat

      2. Bantu anak dalam melakukan aktifitas sesuai batas kemampuan

        Rasionalisasi : dapat menghemat penggunaan energi serta dapat mengurangi rasa pusing dan nyeri.

      3. Latih anak melakukan aktifitas secara bertahap

        Rasionalisasi : latihan bertahap akan dapat meningkatkan kemampuan anak melakukan aktifitas secara terstruktur tanpa menimbulkan nyeri dan pusing.

      4. Kaji ulang adanya rasa nyeri dan pusing saat beraktifitas

        Rasionalisasi : perasaan pusing dan rasa nyeri dapat mengganggu anak dalam melakukan aktifitas.

    2. Ansietas berhubungan dengan berkurangnya pengetahuan mengenai pengobatan dan pencegahan komplikasi

      Tujuan : anak tidak cemas dan dapat berpartisipasi selama proses pengobatan.

      Kriteria hasil : anak terlibat dalam proses pengobatan / penyembuhan

      Intervensi :

      1. Catat status pendengaran

        Rasionalisasi : penurunan pendengaran yang dialami anak dapat menimbulkan kecemasan anak.

      2. Ingatkan klien bahwa vertigo dan nausea dapat terjadi setelah radikal mastoidectomi karena gangguan telinga dalam. Berikan tindakan pengamanan.

        Rasionalisasi : ketidakahuan anak tentang keluhan yang dapat timbul akibat adanya cairan dalam gendang telinga dapat menyebabkan anak mengalami kecemasan.

      3. Perhatikan droping wajah unilateral atau mati rasa karena perlukaan ( injury ) saraf wajah.


         


         


         

        Rasionalisasi; adanya droping wajah unilateral dapat mendorong anak menjadi cemas dan memerlukan penangaan segera.

    3. Isolasi sosial berhubungan dengan perubahan body image, otoroe, menurun ingatan

      Tujuan : klien tetap mengembangkan hubungan dengan anak lain dan orang tua


     


     

    Intervensi :


     

    1. Bina hubungan saling percaya

      Rasionalisasi : hubungan saling percaya dapat menjadi dasar terjadinya hubungan sosial.


       

      1. Yakinkan anak bahwa setelah dilakukan pengoabatan / pembedahan cairan akan keluar dan bau busuk akan hilang

        Rasionalisasi : anak akan kooperatif / berpartisipasi dalam persiapan pembedahan ( tympanoplasti ) dan akan mulai mengajak bicara dengan perawat dan orang tua / saudara

      2. Yakinkan bahwa anak lain juga dapat menderita penyakit yang sama.

        Rasionalisasi : anak akan dapat meningkatkan harga dirinya ketika bermain dengan anak lain.

    2. Kurangnya pengetahuan mengenai pengobatan dan pencegahan kekambuhan.

      Tujuan : orang tua anak akan mempunyai pemahaman yang baik tentang pengobatan dan cara pencegahan kekambuhan.

      Intervensi :

      1. Ajarkan kleinn mengganti balutan dan menggunakan antibiotik secara kontinyu sesuai aturan.

        Rasionalisasi : pendidikan kesehatan tenyang cara mengganti balutan dapat meingkatkan pemahaman anak dan orangtua sehingga dapat berpartisipasi dalam pencegahan kekambuhan.

      2. Beritahu komplikasi yang mungkin timbul dan bagaimana cara melaporkannya

        Rasionalisasi : pemahaman tentang komplikasi yang dapat terjadi pada anak dapat membantu orang tua dan anak untuk


         

        melaporkan ke tenaga kesehatan sehingga dapat dengan cepat ditangani.

      3. Tekankan hal-hal yang penting yang perlu ditindak lanjuti / evaluasi pendengaran.

        Rasionalisasi : follow up sangat penting dilakukan oleh anak karena dapat mengetahui perkembangan penyakit dan mencegah terjadinya kekambuhan.


 

11. Issue kasus di masyarakat

Penyakit ini tidak pandang harta sehingga dapat ditemukan di setiap lapisan masyarakat, bahka di Negara maju. Hanya saja di Negara maju tersbut penyakit ini tidak sampai menimbulkan tuli berat, tuli total atau tuli komplikasi yang berakibat kematian

Menurut A. Djaafar Guru Besar Ilmu Penyakit THT FK UI, hal itu disebabkan kesadaran masyarakat tentang kesehatan telinga sudah tinggi ditambah fasilitas dan memperoleh penanganan yang tepat

Seringkali congek berobatnya terlambat. Penyebabnya anatara lain malu, menganggap penyakit tidak berbahaya dan apalagi jika tak ada nyeri dianggap sudah sembuh sendiri.


Kronisitas penyakit congek ini di masyarakat dipengaruhi beberapa faktor antara lain:

  • Pengetahuan masyarakat tentang penyakit ini masih kurang
  • Daya tahan tubuh yang rendah akibat penyakit seperti kekurangan gizi, kekurangan darah, dan gangguan pada sistem kekebalan tubuh.
  • Infeksi saluran nafas atas berulang
  • Radang akut telinga tengah yang tidak mendapatkan pengobatan yang cepat dan tepat
  • Kekuatan atau virulensi kuman
  • Kebiasaan yang salah seperti mengeluarkan ingus dengan memencet kedua hidung, mandi atau berenang atau menyelam pada penderita dengan gendang berlubang tanpa menggunakan pelindung telinga dan kebiasaan mengorek telinga, serta
  • Lingkungan dan sosial ekonomi masyarakat.


Untuk mencegah penyakit ini dan timbulnya komplikasi, diperlukan diagnosis dan penanganan yang cepat dan tepat. Dalam


 

era antibiotika saat ini, angka kejadian penyakit ini sudah dapat ditekan.

Kendala yang dihadapi dalam penanggulangan penyakit congek antara lain:

  • Jumlah dokter spesialis THT masih kurang, penyebarannya tidak merata, dan kebanyakan mengumpul di kota-kota besar.
  • Sarana alat-alat THT yang masih terbatas
  • Standar penanganan
  • Penatalaksanaan baku di lapangan untuk dokter umum dan tenaga kesehatan lainnya belum disosialisasikan.

Upaya pengobatan bisa dilakukan mulai dari yang paling sederhana seperti menggunakan tetes telinga. Tetapi perlu juga diperhatikan aturan pakai obat tetes ini, karena kalau salah bisa mengakibatkan keracunan pada organ pendengaran di telinga dalam.

Ini justru bisa berefek timbulnya ketulian yang menetap. Penggunaan dekongestan hidung sangat membantu karena dapat membuka saluran telinga tengah yang tersumbat. Upaya terakhir yang bisa dilakukan jika pengobatan ini tidak berhasil antara lain :

  • Jika gendang telinga berlubang kurang dari 30%, dilakukan pemasangan paper patch dengan bahan dari kertas yang diolesi salep yang mengandung zat perangsang tumbuhnya jaringan pada gendang telinga yang berlubang sehingga lubang tadi dapat menutup kembali.
  • Jika gendang telinga berlubang lebih dari 30%, dilakukan operasi timpanoplasti. Pada operasi ini, bahan untuk menutup gendang telinga yang berlubang diambil dari lapisan pembungkus otot di belakang telinga yang kemudian ditempelkan pada genderang telinga yang berlubang.
  • Fungsi jaringan otot yang ditempelkan adalah sebagai jembatan dan memberikan zat-zat makanan untuk genderang telinga yang asli agar dapat tumbuh asli seperti semula, menghentikan keluhan telinga berair, mencegah infeksi berulang serta mencegah terjadinya komplikasi, dan memperbaiki pendengaran menjadi normal


 


 


 

13. Pembahasan


 

Laporan kasus

Identitas pasien

Nama        : An. S

Umur        ; 6 Tahun

Jenis Kelamin    : Laki-Laki

Pekerjaa        : Siswa SD

Alamat        : Narmada

Mrs            ; 08 Agustus 2008

No. Rm        : 87 77 95


 

Anamnesis

  • Keluhan utama ; keluar cairan putih dari telinga kiri setelah beberapa hari batuk dan pilek
  • Riwayat penyakit sekarang : pasien mengalami batuk dan pilek keluar caira bening dari telinga kiri dengan konsistensi kenyal, tidak bau dan disertai nyeri telinga. Pasien tidak mengalami demam dan pusing.
  • Riwayat penyakit dahulu ; pasien tidak pernah mengalami penyakit yang sama sebelumnya.


 


 

Pemeriksaan fisik

Keadaan umum ; baik

Status lokalis ;

telinga

    

 

Telinga kanan 

Telinga kiri 

aurikula 

Edema (- ), massa (-) 

Edema ( - ), massa ( - ) 

preaurikula 

Edema (-) , hiperemi (-) -,massa (-) , fistula (-) ,abses (-)

Edema (-), hiperemi (-), massa (-), abses (-)

retroaurikula

Edema (-), hiperemi (-), massa (-), fistula (-),abses (-)

Edema (-), hiperemi (-), massa (-), fistula (-), abses (-)

palpasi

Nyeri pergerakan aurikula (-), nyeri tean tragus (-)

Nyeri pergerakan aurikula (-), nyeri tekan tragus (-)

MAF

Edema (-), hiperemi (-), serumen (+),, furunkel (-)

Edem (+), heperemi (-), serumen (+) kental, furunkel (-)

Membrane timpani

Intake, berwarna putih, reflek cahaya (+)

Perforasi (+) sentral, aktif, reflek cahaya (-)


 

Hidung


 

Rinoskopi anterior

Cavum nasi kanan

Cavum nasi kiri

Mukosa hidung

Hiperemi (+), secret (+), mukusa puruln (+), massa (-)

Hiperemi (+), secret (+), mukosa perulen, masaa (-)

Septum konka inferior dan media

Deviasi (-), dislokasi (-), edema (+), hiperemi (+)

Deviasi (-), dislokasi (-), edema (+), hiperemi (+)

Meatus inferior dan media

Secret (+), polip (-0

Secret (+), polip (-)


 

Tenggorokan


KeteranganMukosa tonsilHiperemi (+), edema (-), TI-TIPembesaran kelenjar limfe (-)


Diagnosis
otitis media akut stadium perforasi aurikuler sinistra et causa rhinitis kronis

Penatalaksanaan
Belamox syrup ( antibiotic )
 

  1. Somerol ( kortikosteroid)

  1. Salbutamol (antihistamin)
  2. Lapifed ( dekongestan )


 

Diskusi

Otitis media merupakan suatu peradangan pada telinga tengah. Otitis dapat disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya yang paling sering adalah sumbatan tuba eustachius akibat infeksi. Selain itu otitis media juga dapat merupakan suatu komplikasi akibat penyakit lain misalnya rhinitis kronis, faringitis, otitis eksterna, dan lain-lain.


 

Gejala yang sering timbul pada otitis media biasanya ialah rasa nyeri, pendengaran berkurang, demam, pusing juga kadang disertai mendengar suara berdengung ( tinitus )


 

Pada kasus di atas, pasien mengalami gejala nyeri pada telinga kiri sejak 1 hari, yang disertai dengan batuk pilek berulang sejak lama. Pasien juga mengeluhkan adanya keluar cairan jernih dari telinga kirinya. Untuk menegakkan diagnosa otitis media, perlu dilakukan pemeriksaan otoskopi. Ditemukan adanya perforasi sentral pada


 

membrane telinga kiri disertai adanya pengeluaran cairan. Kemungkinan stadium otitis medianya ialah stadium perforasi

Penyebab yang mungkin sebagai pencetus otitis media pada pasien diatas ialah rhinitis kronis. Pasien mengalami batuk pilek sudah lama. Dari pemeriksaan rinoskopi anterior didapatkan konka nasalis inferior mengalami edema dan hiperemi yang disertai adanya mukos purulen. Kemungknan pasien mengalami rhinitis kronis. Sehingga bisa disimpulkan bahwa penyebab otitis medianya adalah komplikasi dari rhinitis kronis.


 

Pengobatan yang diberikann pada pasien diatas adalah pemberian antibiotik ( belamox syrup ), kortikosteroid ( somerol), analgesik, antihistamin ( salbutamol), dan dekongestan ( lapifed).kemudian pasien diminta kontrol lagi 1 minggu jika gejala tidak hilang


 


 

DAFTAR PUSTAKA


 

Geocities, (2007), Otitis Media Supuratif Kronis, http>//www.geocities.com/kpskap3sakti/lain2/tarakan/tht/omsk.doc

Diakses tanggal 16 April 2009


 

http://www.totalkesehatananda.com/otitis media

diakses tanggal 27 April 2009


 

Wikipedia, (2009). Otitis Media .http://id.wikipedia.org/wiki/otitis.

Diakses tanggal 3 April 2009


 

Efiaty,dr, Penatalaksanaan Penyakit Dan Kelainan Telinga-Hidung-Tenggorok,Fakultas Kedokteran UGM


 


 

Lawrence,(2004), CMDT, edisi 43,medical publishing division


 

Adam, Buku Ajar Penyakit Tht (BOIES Fundamental Of Otolaryngilogy , edisi 6, Kedokteran EGC


 

Mediastore, (2009), Otitis Media Kronik

http://mediastore.com/penyakit/53/otitis_media_kronis.html.

Diakses tanggal 10 April 2009


 

Warmasif, (2009).otitis media kronik

http://www.warmasif.co.id/kesehatanonline/mod.php.

Diakses tanggal 10 April 2009


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

Lampiran Pathway


 


 

Infeksi saluran nafas atas sumbatan tuba eustachius


 


 

Masuknya kuman penyebab

( kedalam liang telinga tengah )


 


 

Peradangan


 


 

Tekanan negative dalam telinga tengah

((akibat absorbsi udara)


 


 

Retraksi membrane timpani

Membrane timpani hipremesis & edema


 


 

membrane timpani menonjol (Bulging)


 

Tekanan kapiler & nekrosis membrane timpani


 


 

Rupture membrane

Keluar nanah/secret


 

Perubahan pendengaran


 


 


 


 

Daya tahan tubuh baik Daya tahan tubuh tidak baik


 


 

Resolusi Skret keluar terus

( sembuh) ( kakambuhan/ kronis)


 


 


 


 


 

Gbr. 1. Pathways Otitis media acuta dikembangkan dari Soepardi & Iskandar (1990)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar