BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Teori
1. Tipe Kepribadian
a. Pengertian
Istilah kepribadian sering digunakan untuk menggambarkan tingkah laku seseorang dalam kehidupan sehari-hari. Tidak ada dua orang yang yang mempunyai sifat identik sama. Selalu saja ada yang membedakan manusia yang satu dengan yang lain dalam sistem-sistem dan fungsi jasmaniahnya. Juga ada ciri-ciri khas yang bersifat kurang lebih konstan dari seseorang yang dapat dibedakan dengan pola psikis orang lain. Jadi pribadi dari seorang individu itu sifatnya khas, tidak ada duanya, selalu unik, mencakup struktur psikis dan kejiwaannya. Oleh karena itu kepribadian adalah keseluruhan dari individu yang terorganisir dan terdiri dari disposisi-disposisi psikis serta fisik yang memberi kemungkinan untuk membedakan ciri-ciri yang umum dengan pribadi yang lain (Kartono,1990).
Eysenck cit Suryabrata (1998) mengemukakan bahwa kepribadian merupakan sejumlah pola tingkah laku yang aktual dan potensial yang ditentukan oleh bawaan dan lingkungan yang dihubungkan melalui interaksi fungsional dari aspek kognitif dan afektif ke dalam pola tingkah laku.
Sadli (1988) mengemukakan bahwa kepribadian adalah proses be coming, yaitu suatu proses dinamis yang berkelanjutan dimulai sejak individu dilahirkan sampai ia meninggal. Oleh karena itu setiap insan yang normal memiliki ciri-ciri kepribadian yang membedakan individu yang satu dengan yang lain. Walaupun perbedaan itu tampak jelas, namun tidak berarti berbeda peranan dalam aspek atau komponen yang terdapat pada pribadi yang bersangkutan.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa kepribadian adalah keseluruhan tingkah laku baik aktual maupun potensial dari individu yang bersifat khas, dinamis dalam hubungannya dengan lingkungan, yang diperoleh individu melalui interaksinya dengan dunia sekitar.
b. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kepribadian
Faktor-faktor atau karakteristik yang ada dalam kepribadian perlu diperhatikan guna mengetahui tipe-tipe kepribadiannya. Menurut Eysenck cit Suryabrata (1998) karakteristik dalam kepribadian ada tujuh faktor yaitu : 1) Aktivitas (Activity), 2) Kesukaan bergaul (Sociability), 3) Keberanian mengambil risiko (Risk taking), 4) Penurutan dorongan hati (Impulsiveness), 5) Penyataan perasaan (expressiveness), 6) Kedalaman berfikir (reflexiveness) dan 7) Tanggung jawab (responsibility).
Faktor-faktor yang ada dalam kepribadian di atas dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Aktivitas (activity)
Orang yang mempunyai nilai tinggi pada faktor ini pada umumnya aktif dan energik, mereka menyukai semua aktivitas fisik termasuk kerja keras dan latihan. Bergerak dengan cepat dari aktivitas yang satu ke aktivitas yang lain dan mengejar berbagai kepentingan dan minat berbeda-beda. Orang yang mempunyai nilai rendah pada faktor ini lebih santai dan lebih menyukai hari libur yang tenang dan penuh istirahat.
2. Kesukaan bergaul (Sociability)
Orang yang mempunyai nilai tinggi pada faktor ini cenderung suka mencari teman, menyukai kegiatan sosial, pesta-pesta dan dansa, cukup bergembira dan ramah-tamah. Sedangkan orang yang mempunyai nilai rendah pada faktor ini lebih suka teman khusus saja, suka kegiatan menyendiri, merasa sukar mencari hal-hal yang hendak dibicarakan dengan orang lain.
3. Keberanian mengambil risiko (Risk Taking)
Orang yang mempunyai nilai tinggi pada faktor ini cenderung senang dalam bahaya dan mencari pekerjaan yang memberikan imbalan yang baik dengan hanya sedikit menghiraukan konsekwensi-konsekwensi yang merugikan. Sedang orang yang memiliki nilai rendah pada karakteristik ini lebih menyukai keakraban, keamanan dan keselamatan. Faktor ini juga berkaitan dengan penilaian sensasi.
4. Penurutan dorongan hati (Impulsiveness)
Orang yang mempunyai nilai tinggi pada faktor ini sering bertindak secara mendadak tanpa pikir panjang lebih dahulu, membuat keputusan terburu-buru dan kadang gegabah, angin-anginan, tidak berpendirian tetap. Orang yang mempunyai nilai rendah cenderung mempertimbangkan berbagai masalah dengan hati-hati sebelum membuat keputusan, mempunyai sifat sistematis, teratur dan hati-hati dengan merencanakan segala sesuatu terlebih dahulu. Mereka berpikir sebelum bicara dan melihat sebelum bertindak.
5. Penyataan perasaan (Expressiveness)
Orang yang mempunyai nilai tinggi pada faktor ini cenderung sentimentil, simpatik, mudah berubah pendirian dan demonstratif. Orang yang mempunyai nilai rendah pada faktor ini sangat pandai menguasai diri, tidak memihak, terkontrol dalam menyatakan pendapat dan perasaan.
6. Kedalaman berfikir ( Reflexiveness)
Orang yang mempunyai nilai tinggi pada faktor ini cenderung tertarik pada ide-ide, abstraksi-abstraksi, masalah-masalah filsafat, diskusi-diskusi, suka berpikir dan introspektif. Orang yang mempunyai nilai rendah, mempunyai bakat untuk bekerja dan lebih tertarik untuk melakukan daripada memikirkan hal-hal tersebut dan cenderung tidak sabar dengan pembuatan teori.
7. Tanggung jawab (Responsibility)
Orang yang mempunyai nilai tinggi pada faktor ini cenderung berhati-hati, teliti, dapat dipercaya, dapat dijadikan andalan, sungguh-sungguh dan mempunyai sifat penolong. Orang yang mempunyai nilai rendah pada faktor ini tidak menyukai resmi-resmian, terlambat dalam menepati janji, berubah-ubah pendirian dan mungkin tidak bertanggung jawab secara sosial.
Terbentuknya kepribadian individu dipengaruhi oleh berbagai macam faktor. Salah satu faktor yang paling berpengaruh terhadap individu adalah hasil hubungan antara individu dan lingkungan atau pengalaman. Menurut Irwanto (2001) pengalaman yang mempengaruhi kepribadian manusia adalah :
1. Pengalaman umum (Common Experience)
Pengalaman ini dihayati oleh semua anggota masyarakat yang di dalamnya mengandung nilai-nilai, prinsip moral maupun cara-cara hidup yang dihayati semua anggota masyarakat.
2. Pengalaman Unik (Unique Experience)
Pengalaman-pengalaman ini hanya mempunyai ciri-ciri tertentu, akibatnya adalah reaksi yang timbul terhadap lingkungan atau individu bersifat khas, unik dan tidak ada duanya.
Menurut Lewin cit Suryabrata (1998) pribadi selalu ada dalam lingkungan, pribadi tidak dapat lepas dari lingkungan. Pribadi-pribadi yang berinteraksi dengan lingkungan akan saling mempengaruhi perilaku tertentu.
Freud cit Suryabrata (1998) menyatakan bahwa faktor yang mempengaruhi kepribadian adalah :
1. Das Es (The Id)
Realitas psikis (jiwa) yang sebenarnya (dunia batin atau subyektif manusia) dan tidak mempunyai hubungan langsung dengan dunia obyektif. Das Es berisi hal-hal yang dibawa sejak lahir, termasuk instink-instink.
2. Das Ich (The Ego)
Timbul karena kebutuhan organisme untuk berhubungan secara baik dengan dunia kenyataan (realita). Das Ich membedakan sesuatu yang ada di dalam dunia batin (subyektifitas).
3. Das Super Ich (The Super Ego)
Berisi nilai-nilai tradisional serta cita-cita masyarakat, dapat berupa perintah dan larangan, hadiah dan hubungan.
c. Pengertian Tipe Kepribadian Introvert dan Ekstrovert
Pembagian tipe kepribadian manusia dalam sifat introvert dan ekstrovert merupakan teori Jung yang sangat populer. Jung menyatakan bahwa kepribadian introvert dan ekstrovert terbentuk berdasarkan sikap jiwa. Sikap jiwa adalah arah energi psikis umum atau libido yang menjelma dan orientasi manusia terhadap dunianya. Arah aktivitas fisik ini dapat ke luar atau ke dalam dan demikian pula arah orientasi manusia dapat ke luar atau ke dalam.
Jung menyatakan bahwa ekstrovert diartikan sebagai keramahan, terus terang, cepat akrab, berakomodasi secara natural dan mudah menyesuikan diri dengan berbagai situasi, jarang was-was, sering berspekulasi dan sembrono pada situasi yang belum dikenal. Introvert sebalikanya, berhubungan dengan keragu-raguan, reflektif defensif, menarik dari obyek, dan senang bersembunyi di balik rasa ketidakpercayaan.
Eysenck menyatakan bahwa orang introvert cenderung mengembangkan gejala-gejala ketakutan dan depresi yang ditandai dengan kecenderungan obsesi, mudah tersinggung, apatis, syaraf otonom mereka labil, gampang terluka, mudah gugup, rendah diri, mudah melamun, sukar tidur. Sedangkan orang ekstrovert memperlihatkan kecenderungan untuk mengembangkan gejala-gejala histeris, sedikit energi, perhatian sempit, sejarah kerja yang kurang baik, hipokondriosis (Suryabrata, 1998).
Jung menyatakan apabila orientasi seseorang terhadap sesuatu itu sedemikian rupa sehingga keputusan-keputusan dan tindakannya tidak dikuasai oleh pendapat subyektifitas melainkan ditentukan oleh faktor-faktor obyektif atau faktor luar, maka orang yang demikian itu mempunyai orientasi ekstrovert. Apabila orientasi ini menjadi kebiasaan, maka orangnya dikatakan tipe ekstrovert. Sebaliknya apabila seseorang menghadapi sesuatu, faktor-faktor yanng berpengaruh adalah faktor subyektif atau yang berasal dari dunia batin sendiri, maka orang tersebut mempunyai orientasi introvert (Suryabrata, 1998).
Eysenck dan Wilson cit Atkinson (1999), menyatakan orang introvert biasanya kaku, suka menyendiri, hati-hati dan terkontrol. Orang dengan kepribadian ekstrovert biasanya impulsif, suka menuruti dorongan hati, mudah berubah, mudah dipengaruhi dan terangsang, agresif, mudah gelisah, tersinggung dan mudah marah.
Introvert dan ekstrovert dimaksudkan sebagai derajat mana orientasi seseorang ditujukan ke dalam, pada diri seseorang atau ditujukan keluar dunia luar. Pada ujung introvert pada skala terdapat individu yang pemalu dan lebih suka bekerja sendirian, mereka cenderung menarik diri ke dalam diri mereka sendiri terutama pada saat mereka mengalami stres, emosional atau konflik. Pada ujung ekstrovert terdapat individu yang peramah dan suka bergaul, menyukai pekerjaan yang memungkinkan mereka bekerja secara langsung dengan orang lain, pada saat stres mereka mencari kawan.
d. Penilaian Kepribadian Introvert dan Ekstrovert
Karakteristik komponen untuk menilai kepribadian introvert dan ekstrovert adalah activity, sociability, risk taking, impulsiveness, expresiveness, reflexiveness, dan responsibility. Ketujuh aspek ini digunakan oleh Eysenck sebagai tolak ukur tentang tingkat ekstrovert dan introvert dari penelitian. Tujuh aspek ini merupakan komponen obyek sikap yang dapat diukur.
Dalam activity diukur bagaimanakah subyek melakukan aktivitasnya, aktif dan energik atau sebaliknya, bagaimana mereka menikmati pekerjaannya dan jenis pekerjaan atau aktivitas apakah yang dipilih atau disukainya. Sociability mengukur bagaimana orang melakukan kontrak sosial, apakah orang tersebut memiliki banyak teman, suka bergaul, mudah beradaptasi dengan lingkungan baru dan mudah berbicara atau sebaliknya, merasa minder, tidak banyak teman, menyukai kesepian dan lain-lain.
Risk taking mengukur bagaimana keberanian orang mengambil resiko dalam hidupnya. Impulsiveness digunakan untuk melihat perbedaan antara orang introvert dan ekstrovert dari segi orang itu impulsif atau tidak. Orang impulsif akan terlihat tergesa-gesa dalam mengambil keputusan, mudah berubah dan tidak dapat diramalkan. Orang dengan kepribadian ekstrovert biasanya impulsif daripada orang introvert.
Selanjutnya impulsiveness berhubungan dengan aspek expresiveness. Dalam expresiveness diukur bagaimana orang memperlihatkan gejala perasaannya seperti marah, benci, cinta, simpati dan rasa suka. Orang introvert biasanya pandai menguasai perasaannya, dingin dan terkontrol dalam mengekspresikan pikiran dan perasaannya. Reflexiveness mengukur ketertarikan pada dunia dan ide abstrak dan pertanyaan filosofis yang akan mendorong orang introvert untuk menjadi orang pemikir dan introspektif. Sebaliknya orang ekstrovert, mereka tertarik dalam melakukan sesuatu daripada memikirkannya. Responsibility adalah komponen untuk mengukur bagaimana individu bertanggung jawab terhadap aktivitas dan pekerjaannya (Suryabrata, 1998).
2. Komunikasi Terapeutik
a. Pengertian
Menurut Nurjanah (2001) komunikasi merupakan suatu peoses pertukaran informasi yang menimbulkan makna dan arti. Komunikasi merupakan penyampaian informasi makna dan pemahaman pengirim pesan kepada penerima pesan. Definisi terapeutik merupakan kata sifat yang dihubungkan dengan seni penyembuhan atau segala sifat yang memfasilitasi proses penyembuhan. Dari dua konsep tersebut dapat diartikan bahwa komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang memberikan makna, arti atau pemahaman yang bertujuan untuk penyembuhan klien.
Komunikasi terapeutik merupakan komunikasi yang direncanakan secara sadar, memiliki tujuan dan kegiatan yang dipusatkan untuk kesembuhan klien. Pada dasarnya komunikasi terapeutik merupakan komunikasi profesional dengan adanya hubungan saling membutuhkan antara perawat dengan klien. Komunikasi terapeutik dapat dikategorikan dalam komunikasi pribadi antara perawat dan klien, dimana perawat memberi bantuan dan klien menerima bantuan tersebut (Purwanto, 1994).
Ada tiga hal mendasar yang memberi ciri komunikasi terapeutik (Arwani, 2002) yaitu keikhlasan, empati dan kehangatan. Keikhlasan adalah kesadaran tentang nilai, sikap dan perasaan yang memiliki terhadap klien. Empati merupakan perasaan pemahaman dan penerimaan perawat tehadap perasaan yang dialami klien dan kemampuan merasakan dunia pribadi klien. Menurut Hamid (1999) empati adalah kemampuan untuk memasuki kehidupan orang lain agar dapat mempersepsikan pikiran dan perasaan. Ciri ketiga adalah kehangatan. Dengan kehangatan, perawat akan mendorong klien untuk mengekspresikan ide-ide dan menuangkannya dalam bentuk perbuatan tanpa rasa takut dimaki atau dikonfrontasi.
b. Tujuan Komunikasi Terapeutik
Menurut Stuart dan Sundeen (1997), tujuan komunikasi terapeutik diarahkan pada pertumbuhan klien, meliputi :
- Realisasi diri, menerima diri dan rasa hormat terhadap diri sendiri
- Identitas diri yang jelas dan rasa integritas diri yang tinggi.
- Kemampuan untuk membina hubungan interpersonal yang intim, saling tergantung dan mencintai.
- Peningkatan fungsi dan kemampuan untuk memuaskan kebutuhan serta mencapai tunjuan personal yang realistis.
Tujuan terapeutik akan tercapai bila dalam melakukan helping relationship perawat memiliki karakteristik sebagai berikut :
- Kesadaran diri terhadap nilai yang dianut. Perawat harus mampu menjelaskan tentang dirinya, keyakinannya, apa yang menurutnya penting dalam kehidupannya, sehingga akan mampou menolong orang lain menjawab pertanyaan tentang hal-hal tersebut.
- Kemampuan untuk menganalisis perasaanya sendiri. Perawat secara bertahap belajar mengenal dan mengatasi perasaan yang dialaminya, seperti rasa malu, marah, kecewa dan putus asa.
- Kemampuan menjadi contoh peran. Perawat perlu mempunyai pola dan gaya hidup yanag sehat, termasuk kemampuan dalam menjaga kesehatannya agar dapat dicontoh oleh orang lain.
- Altruistik. Perawat merasakan kepuasan karena mampu menolong orang lain dengan cara manusiawi.
- Rasa tanggung jawab etik dan moral. Tiap keputusan yang dibuat selalu memperhatikan prinsip-prinsip yang menjunjung tinggi kesehatan kesejahteraan manusia.
- Tanggung jawab. Ada dua dimensi tanggung jawab yang perlu diperhatikan yaitu tanggung jawab terhadap diri sendiri dan berbagai tanggung jawab terhadap orang lain.
c. Komponen-Komponen Komunikasi
Komunikasi mempunyai 5 komponen, yaitu :
- Komunikator : penyampai informasi atau sumber informasi
- Komunikan : penerima informasi atau pemberi respons terhadap stimulus yang disampaikan oleh komunikator
- Pesan : gagasan, pendapat, fakta, informasi atau stimulus
- Media : saluran yang dipakai untuk menyampaikan pesan
- Umpan Balik : arus umpan balik dalam rangka proses berlangsungnya komunikasi
d. Sikap Komunikasi Terapeutik
Egan cit Helena dan Keliat (1998) mengidentifikasi lima sikap perawat untuk menghadirkan diri secara fisik yang dapat memfasilitasi dalam komunikasi terapeutik yaitu :
- Berhadapan, yang berarti perawat siap untuk klien.
- Mempertahankan kontak mata bertujuan menghargai klien dan menyatakan keinginan untuk tetap berkomunikasi.
- Membungkuk ke arah klien, sikap ini menunjukkan keinginan untuk mengatakan atau mendengar sesuatu.
- Mempertahankan sikap terbuka, tidak melipat kaki atau tangan untuk menunjukkan keterbukaan dalam komunikasi.
- Tetap rileks agar dapat mengontrol ketegangan dan relaksasi dalam memberi respons pada klien.
Menurut Keliat (1998), selain sikap-sikap tersebut di atas ada sikap atau perilaku nonverbal yang masuk dalam kategori sikap yaitu gerakan mata, ekspresi muka dan sentuhan.
e. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Komunikasi
Menurut Potter dan Perry (2005), faktor-faktor yang mempengaruhi proses komunikasi adalah sebagai berikut :
- Persepsi
Persepsi merupakan pantulan perasaan jiwa sesorang terhadap suatu stimulus tertentu yang terjadi di lingkunganya. perbedaan persepsi dapat menjadi batu sandungan untuk mencapai komunikasi yang efektif.
- Nilai-Nilai
Nilai-nilai yaitu keyakinan sesorang tentang nilai atau ide atau tingkah laku. Nilai-nilai seseorang sangat bervareasi dan akan berubah dan berkembang setiap saat. Konflik nilai akan terjadi bila nilai yang dimiliki seseorang berbeda dengan yang dimiliki orang lain.
- Emosi-Emosi
Emosi yang mempengaruhi jalannya komunikasi dimaknai sebagai perasaan obyektif seseorang tentang kejadian dan mempengaruhi bagaimana individu menggunakan kapasitas yang dimiliki dan bagaimana ia berhubungan dengan orang lain.
- Latar belakang sosial budaya
Budaya yang dimiliki seseorang akan membentuk pandangan umum dan persepsi yang dimilikinya tentang dunia tempat tinggal mereka.
- Pengetahuan
Perbedaan tingkat pengetahuan membuat proses komunikasi semakin sulit, sehingga pemakaian bahasa yang lazim digunakan sangat membantu dalam menjembatani perbedaan yang terjadi.
- Peran dan pola hubungan
Komunikasi yang efektif dapat diciptakan ketika perilaku komunikasi menyadari pola peran dan hubungan yang dimiliki masing-masing.
- Kondisi lingkungan
Proses komunikasi akan menjadi lebih efektif bila dilakukan dalam kondisi lingkungan yang nyaman dan kondusif.
Menurut Potter dan Perry (2005) pesan dapat disampaikan melalui dua cara yang paling mendasar yaitu verbal dan nonverbal. Komunikasi verbal yaitu komunikasi yang dilakukan melalui lisan, tulisan dan termasuk penggunaan tulisan. Sedangkan komunikasi non verbal dapat dilakukan melalui posisi tubuh tertentu, sentuhan tangan, pengaturan jarak, isyarat tertentu, ekspresi raut wajah, gerakan tubuh, pakaian, perlengkapan dan perhiasan yang dikenakan. Dua cara tersebut sering dilakukan bersamaan selama hubungan antar individu berlangsung.
f. Tehnik Komunikasi Terapeutik
Menurut Nurjanah (2001), tehnik komunikasi terapeutik antara lain sebagai berikut :
- Mendengarkan dengan aktif (Active Listening)
Mendengar akan menciptakan situasi interpersonal dari keterlibatan maksimal yang dianggap aman dan membuat klien merasa bebas. Mendengarkan aktif juga menunjukan kesan menghargai klien.
- Memberi kesempatan pada klien untuk memulai pembicaraan.
Hal ini memberi kesempatan pada klien untuk mengambil inisiatif dalam memilih topik pembicaraan.
- Memberi penghargaan (Reinforcement)
Menunjukkan sikap menghargai orang lain atau klien dan memberi respon serta meningkatkan motivasi klien.
- Mengulang kembali (Restarting)
Merupakan tehnik pengulangan pikiran utama yang diekspresikan klien. Tehnik ini menunjukkan bahwa perawat mendengarkan dan melakukan validasi.
- Refleksi
Merupakan teknik komunikasi yang mengulang kembali untuk menunjukkan bahwa perawat mendengar dan mengerti apa yang dibicarakan klien.
- Klarifikasi
Menjelaskan kembali ungkapan pikiran yang dikemukakan oleh klien yang kurang jelas bagi perawat agar tidak terjadi salah pengertian.
- Memusatkan arah pembicaraan (Focusing)
Perawat membantu klien untuk memfokuskan pembicaraan agar lebih spesifik dan terarah. Teknik ini diperlukan untuk mendapatkan informasi yang mendalam tentang suatu masalah.
- Membagi persepsi (Sharing Perseption)
Perawat mengungkapkan persepsi tentang kliennya dan minta umpan balik dari klien.
- Diam (Silent)
Diam yang positif penuh penerimaan bertujuan untuk mengorganisir pemikiran, memproses informasi, menunjukkan bahwa perawat bersedia untuk menunggu respons.
- Memberi informasi
Memberikan informasi yang belum diketahui klien sehingga akan menambah pengetahuan klien yang akan berguna untuk mengambil keputusan yang realistik.
- Memberi saran
Merupakan teknik komunikasi yang baik bila digunakan pada waktu yang tepat dan cara konstruktif sehingga klien bisa memilih.
- Open ended question ( pertanyaan terbuka )
Merupakan pertanyaan yang jawabannya luas sehingga klien dapat mengungkapkan perasaannya dengan kata-kata sendiri.
- Eksplorasi
Menggali lebih dalam ide-ide, pengalaman dan masalah klien yang perlu diketahui.
- Observasi
Merupakan kegiatan mengamati klien yang dilakukan apabila terdapat konflik antara verbal dan non verbal, observasi dilakukan sedemikian rupa sehingga klien tidak menjadi malu atau marah.
- Menawarkan diri (Offering Self )
Menyediakan diri perawat tanpa respons bersyarat atau respons yang diharapkan.
- Humor
Tertawa mengurangi rasa sakit akibat stress dan meningkatkan produksi katekolamin sehingga seseorang merasa sehat.
g. Tahap-Tahap Hubungan Terapeutik
Therapeutic intimacy merupakan hubungan saling menolong (helping relationship) antara perawat dan klien. Hubungan ini dibangun untuk kepentingan klien. Dalam membina hubungan terapeutik perawat memiliki empat tahap yang pada setiap tahapnya mempunyai tugas yang harus diselesaikan oleh perawat. Menurut Nurjanah (2001) keempat tahap ini adalah:
1. Tahap Preinteraksi
Merupakan tahap dimana perawat belum bertemu dengan klien, tugas perawat dalam tahap ini adalah :
a. Mendapat informasi tentang klien
b. Mencari literatur yang berkaitan dengan masalah klien
c. Mengeksplorasi perasaan, fantasi dan ketakutan diri
d. Menganalisis kekuatan dan kelemahan profesional diri
e. Membuat rencana pertemuan dengan klien
2. Tahap Orientasi atau Perkenalan
Merupakan tahap dimana perawat bertemu pertama kali dengan klien, membangun iklim percaya, memahami penerimaan dan komunikasi terbuka, memfokuskan kontrak dengan klien. Membangun kontrak adalah proses timbal balik dimana klien berpartisipasi sebisa yang dilakukan. Komponen kontrak meliputi nama perawat dan klien, peran yang diharapkan dari perawat dan klien, tanggung jawab dari perawat dan klien, tujuan, kerahasiaan, harapan, kegiatan, dan waktu dilakukan interaksi.
3. Tahap Kerja
Merupakan tahap dimana klien memulai kegiatan, tugas perawat pada fase ini adalah melakukan kegiatan yang telah direncanakan pada tahap preinteraksi. Perawat menolong klien untuk mengatasi cemas, meningkatkan kemandirian dan tanggung jawab terhadap diri dan mengembangkan mekanisme koping yang konstruktif. Perubahan perilaku klien yang nyata merupakan fokus fase ini.
4. Tahap Terminasi
Merupakan akhir dari pertemuan perawat dan klien. Tahap ini bisa merupakan terminasi sementara maupun terminasi akhir. Terminasi sementara adalah akhir dari tiap pertemuan perawat dan klien, setelah ini dilakukan, perawat dan klien masih akan bertemu kembali sesuai kontrak waktu yang disepakati bersama. Sedang terminasi akhir adalah terminasi yang dilakukan pada saat klien akan pulang setelah dirawat di rumah sakit. Tugas perawat pada fase ini adalah mengembangkan dan menyeriakan realitas perpisahan, bersama klien dan perawat mangulangi kemajuan yang dibuat selama penanganan dan tercapainya tujuan spesifik.
- Kerangka Pemikiran
Gambar 1 : Kerangka Pemikiran
C. Hipotesis Penelitian
Ada hubungan antara tipe kepribadian dengan pelaksanaan komunikasi terapeutik pada perawat di RSJD Surakarta.