Kamis, 17 Desember 2009

Bab ii

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA


 

A. Tinjauan Teori

1. Tipe Kepribadian

a. Pengertian

Istilah kepribadian sering digunakan untuk menggambarkan tingkah laku seseorang dalam kehidupan sehari-hari. Tidak ada dua orang yang yang mempunyai sifat identik sama. Selalu saja ada yang membedakan manusia yang satu dengan yang lain dalam sistem-sistem dan fungsi jasmaniahnya. Juga ada ciri-ciri khas yang bersifat kurang lebih konstan dari seseorang yang dapat dibedakan dengan pola psikis orang lain. Jadi pribadi dari seorang individu itu sifatnya khas, tidak ada duanya, selalu unik, mencakup struktur psikis dan kejiwaannya. Oleh karena itu kepribadian adalah keseluruhan dari individu yang terorganisir dan terdiri dari disposisi-disposisi psikis serta fisik yang memberi kemungkinan untuk membedakan ciri-ciri yang umum dengan pribadi yang lain (Kartono,1990).

Eysenck cit Suryabrata (1998) mengemukakan bahwa kepribadian merupakan sejumlah pola tingkah laku yang aktual dan potensial yang ditentukan oleh bawaan dan lingkungan yang dihubungkan melalui interaksi fungsional dari aspek kognitif dan afektif ke dalam pola tingkah laku.

Sadli (1988) mengemukakan bahwa kepribadian adalah proses be coming, yaitu suatu proses dinamis yang berkelanjutan dimulai sejak individu dilahirkan sampai ia meninggal. Oleh karena itu setiap insan yang normal memiliki ciri-ciri kepribadian yang membedakan individu yang satu dengan yang lain. Walaupun perbedaan itu tampak jelas, namun tidak berarti berbeda peranan dalam aspek atau komponen yang terdapat pada pribadi yang bersangkutan.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa kepribadian adalah keseluruhan tingkah laku baik aktual maupun potensial dari individu yang bersifat khas, dinamis dalam hubungannya dengan lingkungan, yang diperoleh individu melalui interaksinya dengan dunia sekitar.


 

b. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kepribadian

Faktor-faktor atau karakteristik yang ada dalam kepribadian perlu diperhatikan guna mengetahui tipe-tipe kepribadiannya. Menurut Eysenck cit Suryabrata (1998) karakteristik dalam kepribadian ada tujuh faktor yaitu : 1) Aktivitas (Activity), 2) Kesukaan bergaul (Sociability), 3) Keberanian mengambil risiko (Risk taking), 4) Penurutan dorongan hati (Impulsiveness), 5) Penyataan perasaan (expressiveness), 6) Kedalaman berfikir (reflexiveness) dan 7) Tanggung jawab (responsibility).

Faktor-faktor yang ada dalam kepribadian di atas dapat dijelaskan sebagai berikut :

1. Aktivitas (activity)

     Orang yang mempunyai nilai tinggi pada faktor ini pada umumnya aktif dan energik, mereka menyukai semua aktivitas fisik termasuk kerja keras dan latihan. Bergerak dengan cepat dari aktivitas yang satu ke aktivitas yang lain dan mengejar berbagai kepentingan dan minat berbeda-beda. Orang yang mempunyai nilai rendah pada faktor ini lebih santai dan lebih menyukai hari libur yang tenang dan penuh istirahat.

2. Kesukaan bergaul (Sociability)

Orang yang mempunyai nilai tinggi pada faktor ini cenderung suka mencari teman, menyukai kegiatan sosial, pesta-pesta dan dansa, cukup bergembira dan ramah-tamah. Sedangkan orang yang mempunyai nilai rendah pada faktor ini lebih suka teman khusus saja, suka kegiatan menyendiri, merasa sukar mencari hal-hal yang hendak dibicarakan dengan orang lain.    

3. Keberanian mengambil risiko (Risk Taking)

Orang yang mempunyai nilai tinggi pada faktor ini cenderung senang dalam bahaya dan mencari pekerjaan yang memberikan imbalan yang baik dengan hanya sedikit menghiraukan konsekwensi-konsekwensi yang merugikan. Sedang orang yang memiliki nilai rendah pada karakteristik ini lebih menyukai keakraban, keamanan dan keselamatan. Faktor ini juga berkaitan dengan penilaian sensasi.

4. Penurutan dorongan hati (Impulsiveness)    

Orang yang mempunyai nilai tinggi pada faktor ini sering bertindak secara mendadak tanpa pikir panjang lebih dahulu, membuat keputusan terburu-buru dan kadang gegabah, angin-anginan, tidak berpendirian tetap. Orang yang mempunyai nilai rendah cenderung mempertimbangkan berbagai masalah dengan hati-hati sebelum membuat keputusan, mempunyai sifat sistematis, teratur dan hati-hati dengan merencanakan segala sesuatu terlebih dahulu. Mereka berpikir sebelum bicara dan melihat sebelum bertindak.

5. Penyataan perasaan (Expressiveness)

Orang yang mempunyai nilai tinggi pada faktor ini cenderung sentimentil, simpatik, mudah berubah pendirian dan demonstratif. Orang yang mempunyai nilai rendah pada faktor ini sangat pandai menguasai diri, tidak memihak, terkontrol dalam menyatakan pendapat dan perasaan.

6. Kedalaman berfikir ( Reflexiveness)

Orang yang mempunyai nilai tinggi pada faktor ini cenderung tertarik pada ide-ide, abstraksi-abstraksi, masalah-masalah filsafat, diskusi-diskusi, suka berpikir dan introspektif. Orang yang mempunyai nilai rendah, mempunyai bakat untuk bekerja dan lebih tertarik untuk melakukan daripada memikirkan hal-hal tersebut dan cenderung tidak sabar dengan pembuatan teori.

7. Tanggung jawab (Responsibility)

Orang yang mempunyai nilai tinggi pada faktor ini cenderung berhati-hati, teliti, dapat dipercaya, dapat dijadikan andalan, sungguh-sungguh dan mempunyai sifat penolong. Orang yang mempunyai nilai rendah pada faktor ini tidak menyukai resmi-resmian, terlambat dalam menepati janji, berubah-ubah pendirian dan mungkin tidak bertanggung jawab secara sosial.

    Terbentuknya kepribadian individu dipengaruhi oleh berbagai macam faktor. Salah satu faktor yang paling berpengaruh terhadap individu adalah hasil hubungan antara individu dan lingkungan atau pengalaman. Menurut Irwanto (2001) pengalaman yang mempengaruhi kepribadian manusia adalah :

1. Pengalaman umum (Common Experience)

Pengalaman ini dihayati oleh semua anggota masyarakat yang di dalamnya mengandung nilai-nilai, prinsip moral maupun cara-cara hidup yang dihayati semua anggota masyarakat.

2. Pengalaman Unik (Unique Experience)

Pengalaman-pengalaman ini hanya mempunyai ciri-ciri tertentu, akibatnya adalah reaksi yang timbul terhadap lingkungan atau individu bersifat khas, unik dan tidak ada duanya.

Menurut Lewin cit Suryabrata (1998) pribadi selalu ada dalam lingkungan, pribadi tidak dapat lepas dari lingkungan. Pribadi-pribadi yang berinteraksi dengan lingkungan akan saling mempengaruhi perilaku tertentu.

Freud cit Suryabrata (1998) menyatakan bahwa faktor yang mempengaruhi kepribadian adalah :

1. Das Es (The Id)

Realitas psikis (jiwa) yang sebenarnya (dunia batin atau subyektif manusia) dan tidak mempunyai hubungan langsung dengan dunia obyektif. Das Es berisi hal-hal yang dibawa sejak lahir, termasuk instink-instink.


 

2. Das Ich (The Ego)

Timbul karena kebutuhan organisme untuk berhubungan secara baik dengan dunia kenyataan (realita). Das Ich membedakan sesuatu yang ada di dalam dunia batin (subyektifitas).

3. Das Super Ich (The Super Ego)

Berisi nilai-nilai tradisional serta cita-cita masyarakat, dapat berupa perintah dan larangan, hadiah dan hubungan.


 

c. Pengertian Tipe Kepribadian Introvert dan Ekstrovert

Pembagian tipe kepribadian manusia dalam sifat introvert dan ekstrovert merupakan teori Jung yang sangat populer. Jung menyatakan bahwa kepribadian introvert dan ekstrovert terbentuk berdasarkan sikap jiwa. Sikap jiwa adalah arah energi psikis umum atau libido yang menjelma dan orientasi manusia terhadap dunianya. Arah aktivitas fisik ini dapat ke luar atau ke dalam dan demikian pula arah orientasi manusia dapat ke luar atau ke dalam.

Jung menyatakan bahwa ekstrovert diartikan sebagai keramahan, terus terang, cepat akrab, berakomodasi secara natural dan mudah menyesuikan diri dengan berbagai situasi, jarang was-was, sering berspekulasi dan sembrono pada situasi yang belum dikenal. Introvert sebalikanya, berhubungan dengan keragu-raguan, reflektif defensif, menarik dari obyek, dan senang bersembunyi di balik rasa ketidakpercayaan.

Eysenck menyatakan bahwa orang introvert cenderung mengembangkan gejala-gejala ketakutan dan depresi yang ditandai dengan kecenderungan obsesi, mudah tersinggung, apatis, syaraf otonom mereka labil, gampang terluka, mudah gugup, rendah diri, mudah melamun, sukar tidur. Sedangkan orang ekstrovert memperlihatkan kecenderungan untuk mengembangkan gejala-gejala histeris, sedikit energi, perhatian sempit, sejarah kerja yang kurang baik, hipokondriosis (Suryabrata, 1998).

Jung menyatakan apabila orientasi seseorang terhadap sesuatu itu sedemikian rupa sehingga keputusan-keputusan dan tindakannya tidak dikuasai oleh pendapat subyektifitas melainkan ditentukan oleh faktor-faktor obyektif atau faktor luar, maka orang yang demikian itu mempunyai orientasi ekstrovert. Apabila orientasi ini menjadi kebiasaan, maka orangnya dikatakan tipe ekstrovert. Sebaliknya apabila seseorang menghadapi sesuatu, faktor-faktor yanng berpengaruh adalah faktor subyektif atau yang berasal dari dunia batin sendiri, maka orang tersebut mempunyai orientasi introvert (Suryabrata, 1998).

Eysenck dan Wilson cit Atkinson (1999), menyatakan orang introvert biasanya kaku, suka menyendiri, hati-hati dan terkontrol. Orang dengan kepribadian ekstrovert biasanya impulsif, suka menuruti dorongan hati, mudah berubah, mudah dipengaruhi dan terangsang, agresif, mudah gelisah, tersinggung dan mudah marah.

Introvert dan ekstrovert dimaksudkan sebagai derajat mana orientasi seseorang ditujukan ke dalam, pada diri seseorang atau ditujukan keluar dunia luar. Pada ujung introvert pada skala terdapat individu yang pemalu dan lebih suka bekerja sendirian, mereka cenderung menarik diri ke dalam diri mereka sendiri terutama pada saat mereka mengalami stres, emosional atau konflik. Pada ujung ekstrovert terdapat individu yang peramah dan suka bergaul, menyukai pekerjaan yang memungkinkan mereka bekerja secara langsung dengan orang lain, pada saat stres mereka mencari kawan.


 

d. Penilaian Kepribadian Introvert dan Ekstrovert

    Karakteristik komponen untuk menilai kepribadian introvert dan ekstrovert adalah activity, sociability, risk taking, impulsiveness, expresiveness, reflexiveness, dan responsibility. Ketujuh aspek ini digunakan oleh Eysenck sebagai tolak ukur tentang tingkat ekstrovert dan introvert dari penelitian. Tujuh aspek ini merupakan komponen obyek sikap yang dapat diukur.

Dalam activity diukur bagaimanakah subyek melakukan aktivitasnya, aktif dan energik atau sebaliknya, bagaimana mereka menikmati pekerjaannya dan jenis pekerjaan atau aktivitas apakah yang dipilih atau disukainya. Sociability mengukur bagaimana orang melakukan kontrak sosial, apakah orang tersebut memiliki banyak teman, suka bergaul, mudah beradaptasi dengan lingkungan baru dan mudah berbicara atau sebaliknya, merasa minder, tidak banyak teman, menyukai kesepian dan lain-lain.

Risk taking mengukur bagaimana keberanian orang mengambil resiko dalam hidupnya. Impulsiveness digunakan untuk melihat perbedaan antara orang introvert dan ekstrovert dari segi orang itu impulsif atau tidak. Orang impulsif akan terlihat tergesa-gesa dalam mengambil keputusan, mudah berubah dan tidak dapat diramalkan. Orang dengan kepribadian ekstrovert biasanya impulsif daripada orang introvert.

Selanjutnya impulsiveness berhubungan dengan aspek expresiveness. Dalam expresiveness diukur bagaimana orang memperlihatkan gejala perasaannya seperti marah, benci, cinta, simpati dan rasa suka. Orang introvert biasanya pandai menguasai perasaannya, dingin dan terkontrol dalam mengekspresikan pikiran dan perasaannya. Reflexiveness mengukur ketertarikan pada dunia dan ide abstrak dan pertanyaan filosofis yang akan mendorong orang introvert untuk menjadi orang pemikir dan introspektif. Sebaliknya orang ekstrovert, mereka tertarik dalam melakukan sesuatu daripada memikirkannya. Responsibility adalah komponen untuk mengukur bagaimana individu bertanggung jawab terhadap aktivitas dan pekerjaannya (Suryabrata, 1998).


 

2. Komunikasi Terapeutik

a. Pengertian

Menurut Nurjanah (2001) komunikasi merupakan suatu peoses pertukaran informasi yang menimbulkan makna dan arti. Komunikasi merupakan penyampaian informasi makna dan pemahaman pengirim pesan kepada penerima pesan. Definisi terapeutik merupakan kata sifat yang dihubungkan dengan seni penyembuhan atau segala sifat yang memfasilitasi proses penyembuhan. Dari dua konsep tersebut dapat diartikan bahwa komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang memberikan makna, arti atau pemahaman yang bertujuan untuk penyembuhan klien.

Komunikasi terapeutik merupakan komunikasi yang direncanakan secara sadar, memiliki tujuan dan kegiatan yang dipusatkan untuk kesembuhan klien. Pada dasarnya komunikasi terapeutik merupakan komunikasi profesional dengan adanya hubungan saling membutuhkan antara perawat dengan klien. Komunikasi terapeutik dapat dikategorikan dalam komunikasi pribadi antara perawat dan klien, dimana perawat memberi bantuan dan klien menerima bantuan tersebut (Purwanto, 1994).

Ada tiga hal mendasar yang memberi ciri komunikasi terapeutik (Arwani, 2002) yaitu keikhlasan, empati dan kehangatan. Keikhlasan adalah kesadaran tentang nilai, sikap dan perasaan yang memiliki terhadap klien. Empati merupakan perasaan pemahaman dan penerimaan perawat tehadap perasaan yang dialami klien dan kemampuan merasakan dunia pribadi klien. Menurut Hamid (1999) empati adalah kemampuan untuk memasuki kehidupan orang lain agar dapat mempersepsikan pikiran dan perasaan. Ciri ketiga adalah kehangatan. Dengan kehangatan, perawat akan mendorong klien untuk mengekspresikan ide-ide dan menuangkannya dalam bentuk perbuatan tanpa rasa takut dimaki atau dikonfrontasi.


 

b. Tujuan Komunikasi Terapeutik

Menurut Stuart dan Sundeen (1997), tujuan komunikasi terapeutik diarahkan pada pertumbuhan klien, meliputi :

  1. Realisasi diri, menerima diri dan rasa hormat terhadap diri sendiri
  2. Identitas diri yang jelas dan rasa integritas diri yang tinggi.
  1. Kemampuan untuk membina hubungan interpersonal yang intim, saling tergantung dan mencintai.
  2. Peningkatan fungsi dan kemampuan untuk memuaskan kebutuhan serta mencapai tunjuan personal yang realistis.

Tujuan terapeutik akan tercapai bila dalam melakukan helping relationship perawat memiliki karakteristik sebagai berikut :

  1. Kesadaran diri terhadap nilai yang dianut. Perawat harus mampu menjelaskan tentang dirinya, keyakinannya, apa yang menurutnya penting dalam kehidupannya, sehingga akan mampou menolong orang lain menjawab pertanyaan tentang hal-hal tersebut.
  2. Kemampuan untuk menganalisis perasaanya sendiri. Perawat secara bertahap belajar mengenal dan mengatasi perasaan yang dialaminya, seperti rasa malu, marah, kecewa dan putus asa.
  3. Kemampuan menjadi contoh peran. Perawat perlu mempunyai pola dan gaya hidup yanag sehat, termasuk kemampuan dalam menjaga kesehatannya agar dapat dicontoh oleh orang lain.
  4. Altruistik. Perawat merasakan kepuasan karena mampu menolong orang lain dengan cara manusiawi.
  5. Rasa tanggung jawab etik dan moral. Tiap keputusan yang dibuat selalu memperhatikan prinsip-prinsip yang menjunjung tinggi kesehatan kesejahteraan manusia.
  6. Tanggung jawab. Ada dua dimensi tanggung jawab yang perlu diperhatikan yaitu tanggung jawab terhadap diri sendiri dan berbagai tanggung jawab terhadap orang lain.

c. Komponen-Komponen Komunikasi

Komunikasi mempunyai 5 komponen, yaitu :

  1. Komunikator    : penyampai informasi atau sumber informasi
  2. Komunikan    : penerima informasi atau pemberi respons terhadap              stimulus yang disampaikan oleh komunikator
    1. Pesan         : gagasan, pendapat, fakta, informasi atau stimulus
    2. Media         : saluran yang dipakai untuk menyampaikan pesan
      1. Umpan Balik : arus umpan balik dalam rangka proses berlangsungnya komunikasi


 

d. Sikap Komunikasi Terapeutik

Egan cit Helena dan Keliat (1998) mengidentifikasi lima sikap perawat untuk menghadirkan diri secara fisik yang dapat memfasilitasi dalam komunikasi terapeutik yaitu :

  1. Berhadapan, yang berarti perawat siap untuk klien.
  2. Mempertahankan kontak mata bertujuan menghargai klien dan menyatakan keinginan untuk tetap berkomunikasi.
  3. Membungkuk ke arah klien, sikap ini menunjukkan keinginan untuk mengatakan atau mendengar sesuatu.
  4. Mempertahankan sikap terbuka, tidak melipat kaki atau tangan untuk menunjukkan keterbukaan dalam komunikasi.
  5. Tetap rileks agar dapat mengontrol ketegangan dan relaksasi dalam memberi respons pada klien.

    Menurut Keliat (1998), selain sikap-sikap tersebut di atas ada sikap atau perilaku nonverbal yang masuk dalam kategori sikap yaitu gerakan mata, ekspresi muka dan sentuhan.


 

e. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Komunikasi

Menurut Potter dan Perry (2005), faktor-faktor yang mempengaruhi proses komunikasi adalah sebagai berikut :

  1. Persepsi

    Persepsi merupakan pantulan perasaan jiwa sesorang terhadap suatu stimulus tertentu yang terjadi di lingkunganya. perbedaan persepsi dapat menjadi batu sandungan untuk mencapai komunikasi yang efektif.

  2. Nilai-Nilai

    Nilai-nilai yaitu keyakinan sesorang tentang nilai atau ide atau tingkah laku. Nilai-nilai seseorang sangat bervareasi dan akan berubah dan berkembang setiap saat. Konflik nilai akan terjadi bila nilai yang dimiliki seseorang berbeda dengan yang dimiliki orang lain.

  3. Emosi-Emosi

    Emosi yang mempengaruhi jalannya komunikasi dimaknai sebagai perasaan obyektif seseorang tentang kejadian dan mempengaruhi bagaimana individu menggunakan kapasitas yang dimiliki dan bagaimana     ia berhubungan dengan orang lain.


     

  4. Latar belakang sosial budaya

    Budaya yang dimiliki seseorang akan membentuk pandangan umum dan     persepsi yang dimilikinya tentang dunia tempat tinggal mereka.

  5. Pengetahuan

    Perbedaan tingkat pengetahuan membuat proses komunikasi semakin     sulit, sehingga pemakaian bahasa yang lazim digunakan sangat membantu     dalam menjembatani perbedaan yang terjadi.

  6. Peran dan pola hubungan

    Komunikasi yang efektif dapat diciptakan ketika perilaku komunikasi     menyadari pola peran dan hubungan yang dimiliki masing-masing.

  7. Kondisi lingkungan

    Proses komunikasi akan menjadi lebih efektif bila dilakukan dalam kondisi lingkungan yang nyaman dan kondusif.

Menurut Potter dan Perry (2005) pesan dapat disampaikan melalui dua cara yang paling mendasar yaitu verbal dan nonverbal. Komunikasi verbal yaitu komunikasi yang dilakukan melalui lisan, tulisan dan termasuk penggunaan tulisan. Sedangkan komunikasi non verbal dapat dilakukan melalui posisi tubuh tertentu, sentuhan tangan, pengaturan jarak, isyarat tertentu, ekspresi raut wajah, gerakan tubuh, pakaian, perlengkapan dan perhiasan yang dikenakan. Dua cara tersebut sering dilakukan bersamaan selama hubungan antar individu berlangsung.

f. Tehnik Komunikasi Terapeutik

Menurut Nurjanah (2001), tehnik komunikasi terapeutik antara lain sebagai berikut :

  1. Mendengarkan dengan aktif (Active Listening)

    Mendengar akan menciptakan situasi interpersonal dari keterlibatan maksimal yang dianggap aman dan membuat klien merasa bebas. Mendengarkan aktif juga menunjukan kesan menghargai klien.

  2. Memberi kesempatan pada klien untuk memulai pembicaraan.

    Hal ini memberi kesempatan pada klien untuk mengambil inisiatif dalam memilih topik pembicaraan.

  3. Memberi penghargaan (Reinforcement)

    Menunjukkan sikap menghargai orang lain atau klien dan memberi respon serta meningkatkan motivasi klien.

  4. Mengulang kembali (Restarting)

    Merupakan tehnik pengulangan pikiran utama yang diekspresikan klien. Tehnik ini menunjukkan bahwa perawat mendengarkan dan melakukan validasi.

  5. Refleksi

    Merupakan teknik komunikasi yang mengulang kembali untuk menunjukkan bahwa perawat mendengar dan mengerti apa yang dibicarakan klien.

  6. Klarifikasi

Menjelaskan kembali ungkapan pikiran yang dikemukakan oleh klien yang kurang jelas bagi perawat agar tidak terjadi salah pengertian.

  1. Memusatkan arah pembicaraan (Focusing)

Perawat membantu klien untuk memfokuskan pembicaraan agar lebih spesifik dan terarah. Teknik ini diperlukan untuk mendapatkan informasi yang mendalam tentang suatu masalah.

  1. Membagi persepsi (Sharing Perseption)

Perawat mengungkapkan persepsi tentang kliennya dan minta umpan balik dari klien.

  1. Diam (Silent)

Diam yang positif penuh penerimaan bertujuan untuk mengorganisir pemikiran, memproses informasi, menunjukkan bahwa perawat bersedia untuk menunggu respons.

  1. Memberi informasi

Memberikan informasi yang belum diketahui klien sehingga akan menambah pengetahuan klien yang akan berguna untuk mengambil keputusan yang realistik.

  1. Memberi saran

Merupakan teknik komunikasi yang baik bila digunakan pada waktu yang tepat dan cara konstruktif sehingga klien bisa memilih.

  1. Open ended question ( pertanyaan terbuka )

    Merupakan pertanyaan yang jawabannya luas sehingga klien dapat mengungkapkan perasaannya dengan kata-kata sendiri.

  2. Eksplorasi

Menggali lebih dalam ide-ide, pengalaman dan masalah klien yang perlu diketahui.

  1. Observasi

    Merupakan kegiatan mengamati klien yang dilakukan apabila terdapat konflik antara verbal dan non verbal, observasi dilakukan sedemikian rupa sehingga klien tidak menjadi malu atau marah.

  2. Menawarkan diri (Offering Self )

    Menyediakan diri perawat tanpa respons bersyarat atau respons yang diharapkan.

  3. Humor

    Tertawa mengurangi rasa sakit akibat stress dan meningkatkan produksi katekolamin sehingga seseorang merasa sehat.


 

g. Tahap-Tahap Hubungan Terapeutik

Therapeutic intimacy merupakan hubungan saling menolong (helping relationship) antara perawat dan klien. Hubungan ini dibangun untuk kepentingan klien. Dalam membina hubungan terapeutik perawat memiliki empat tahap yang pada setiap tahapnya mempunyai tugas yang harus diselesaikan oleh perawat. Menurut Nurjanah (2001) keempat tahap ini adalah:

1. Tahap Preinteraksi

Merupakan tahap dimana perawat belum bertemu dengan klien, tugas perawat dalam tahap ini adalah :

    a. Mendapat informasi tentang klien

    b. Mencari literatur yang berkaitan dengan masalah klien

    c. Mengeksplorasi perasaan, fantasi dan ketakutan diri

    d. Menganalisis kekuatan dan kelemahan profesional diri

    e. Membuat rencana pertemuan dengan klien

2. Tahap Orientasi atau Perkenalan

Merupakan tahap dimana perawat bertemu pertama kali dengan klien, membangun iklim percaya, memahami penerimaan dan komunikasi terbuka, memfokuskan kontrak dengan klien. Membangun kontrak adalah proses timbal balik dimana klien berpartisipasi sebisa yang dilakukan. Komponen kontrak meliputi nama perawat dan klien, peran yang diharapkan dari perawat dan klien, tanggung jawab dari perawat dan klien, tujuan, kerahasiaan, harapan, kegiatan, dan waktu dilakukan interaksi.

3. Tahap Kerja

Merupakan tahap dimana klien memulai kegiatan, tugas perawat pada fase ini adalah melakukan kegiatan yang telah direncanakan pada tahap preinteraksi. Perawat menolong klien untuk mengatasi cemas, meningkatkan kemandirian dan tanggung jawab terhadap diri dan mengembangkan mekanisme koping yang konstruktif. Perubahan perilaku klien yang nyata merupakan fokus fase ini.

4. Tahap Terminasi

Merupakan akhir dari pertemuan perawat dan klien. Tahap ini bisa merupakan terminasi sementara maupun terminasi akhir. Terminasi sementara adalah akhir dari tiap pertemuan perawat dan klien, setelah ini dilakukan, perawat dan klien masih akan bertemu kembali sesuai kontrak waktu yang disepakati bersama. Sedang terminasi akhir adalah terminasi yang dilakukan pada saat klien akan pulang setelah dirawat di rumah sakit. Tugas perawat pada fase ini adalah mengembangkan dan menyeriakan realitas perpisahan, bersama klien dan perawat mangulangi kemajuan yang dibuat selama penanganan dan tercapainya tujuan spesifik.


 

  1. Kerangka Pemikiran


 

Gambar 1 : Kerangka Pemikiran


 

C. Hipotesis Penelitian

    Ada hubungan antara tipe kepribadian dengan pelaksanaan komunikasi terapeutik pada perawat di RSJD Surakarta.


 

Minggu, 28 Juni 2009

HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN MOTIVASI PASIEN MELAKUKAN KEGIATAN SEHARI – HARI SELAMA RAWAT INAP DI BANGSAL P6 RUMAH SAKIT JIWA PROF. DR. SOEROJO MAGELANG



BAB I


PENDAHULUAN



A.LATAR BELAKANG MASALAH


Picture 006



B.

Jumat, 19 Juni 2009

Selamat ujian anak

ASUHAN KEPERAWATAN ANAK

DENGAN AUTISME

BAB I

PENDAHULUAN


 

  1. LATAR BELAKANG

    Setiap tahun di seluruh dunia, kasus autisme mengalami peningkatan. Dalam penelitian yang dirangkum Synopsis of Psychiatry awal 1990-an, kasus autisme masih berkisar pada perbandingan 1 : 2.000. Angka ini meningkat di tahun 2000 dalam catatan Sutism Research Institute di Amerika Serikat sebanyak 1 dari 150 anak punya kecenderungan menderita autis. Di Inggris, datanya lebih mengkhawatirkan. Di sana berdasarkan data International Congress on Autism tahun 2006 tercatat 1 dari 130 anak punya kecenderungan autis.

    Bagaimana dengan Indonesia? Dr SASANTI YUNIAR, SpKJ (K) dari Ilmu Kedoktera Jiwa RSU dr Soetomo, Surabaya saat berbicara dalam sesi seminar Surabaya Peduli Autisme yang digelar Surabaya City Guide-Mossaik Media Communication, Sabtu (13/12) di Empire Palace mengatakan cukup sulit untuk mendapatkan data penderita autis di Indonesia.

    Ini karena orangtua anak yang dicurigai mengidap autisme seringkali tidak menyadari gejala-gejala autisme pada anak. Akibatnya, mereka merujuknya ke pintu lain di RS. Misalnya ke bagian THT karena menduga anaknya mengalami gangguan pendengaran dan ke Poli Tumbuh Kembang Anak karena mengira anaknya mengalami masalah dengan perkembangan fisik.

    "Tapi kita memang merasakan makin banyak kasus autisme ini di Indonesia dari tahun ke tahun," papar dia.

    SASANTI dalam bagian lain tidak bisa menjelaskan apa penyebab makin banyaknya kasus autisme di Indonesia. Yang bisa dilacak adalah faktor yang terkait dengan autisme, misalnya genetis dan biologis. Secara biologis, ada kemungkinan autisme berkaitan dengan gangguan pencernaan, alergi, gangguan kandungan, maupun polusi.(edy).( suarasurabaya.net. 13 desember 2008)

  2. TUJUAN
    1. Tujuan Instruksional Umum

      Mahasiswa mampu menerapkan konsep keperawatan pada anak dengan autisme

    2. Tujuan Instruksional Khusus
      1. Mahasiswa mampu menjelaskan definisi, etiologi dan patofisiologi autisme
      2. Mahasiswa mampu menjelaskan penatalaksanaan medis dan keperawatan pada autisme
      3. Mahasiswa mampu menjelaskan asuhan keperawatan pada anak dengan gangguan autisme


       

     

    TINJAUAN TEORI


     

  3. DEFINISI PENYAKIT

    Autisme menurut Rutter 1970 adalah Gangguan yang melibatkan kegagalan untuk mengembangkan hubungan antar pribadi (umur 30 bulan), hambatan dalam pembicaraan, perkembangan bahasa, fenomena ritualistik dan konvulsif.(Sacharin, R, M, 1996: 305)

    Autisme masa kanak-kanak dini adalah penarikan diri dan kehilangan kontak dengan realitas atau orang lain. Pada bayi tidak terlihat tanda dan gejala. (Sacharin, R, M, 1996 : 305)

    Autisme Infantil adalah Gangguan kualitatif pada komunikasi verbal dan non verbal, aktifitas imajinatif dan interaksi sosial timbal balik yang terjadi sebelum usia 30 bulan.(Behrman, 1999: 120)

    Menurut Isaac, A (2005) autisme merupakan gangguan perkembangan pervasive dengan masalah awal tiga area perkembangan utama yaitu perilaku, interaksi sosial dan komunikasi. Gangguan ini dicirikan dengan gangguan yang nyata dalam interaksi sosial dan komunikasi, serta aktivitas dan minat yang terbatas. Autisme adalah kelainan yang mempunyai dampak besar terhadap kehidupan penderita, keluarga dan masyarakat sekitarnya. Kadang keadaan ini membuat kebingungan dan sangat menyakitkan hati orang tua penderita. Definisi Autisme adalah kelainan neuropsikiatrik yang menyebabkan kurangnya kemampuan berinteraksi sosial dan komunikasi, minat yang terbatas, perilaku tidak wajar dan adanya gerakan stereotipik, dimana kelainan ini muncul sebelum anak berusia 3 tahun (Teramihardja, J, 2007).

    Suatu gangguan perkembangan yang sangat kompleks, yang secara klinis ditandai oleh adanya 3 gejala utama berupa : kualitas yang kurang dalam kemampuan interaksi sosial dan emosional, kualitas yang kurang dalam kemampuan komunikasi timbal balik, dan minat yang terbatas, perilaku tak wajar, disertai gerakan-gerakan berulang tanpa tujuan (stereotipik). Selain itu tampak pula adanya respon tak wajar terhadap pengalaman sensorik, yang terlihat sebelum usia 3 tahun.


     

  4. ETIOLOGI

    Sepuluh tahun yang lalu penyebab autisme belum banyak diketahui dan hanya terbatas pada faktor psikologis saja. Tetapi sekarang ini penelitian mengenai autisme semakin maju dan menunjukkan bahwa autisme mempunyai penyebab neurobiologist yang sangat kompleks. Gangguan neurobiologist ini dapat disebabkan oleh interaksi faktor genetik dan lingkungan seperti pengaruh negatif selama masa perkembangan otak. Banyak faktor yang menyebabkan pengaruh negatif selama masa perkembangan otak, antara lain; penyakit infeksi yang mengenai susunan saraf pusat, trauma, keracunan logam berat dan zat kimia lain baik selama masa dalam kandungan maupun setelah dilahirkan, gangguan imunologis, gangguan absorpsi protein tertentu akibat kelainan di usus (Suriviana, 2005).

    Menurut Dewo (2006) gangguan perkembangan pervasive autisme dapat disebabkan karena beberapa hal antara lain:

    1. Genetis, abnormalitas genetik dapat menyebabkan abnormalitas pertumbuhan sel – sel saraf dan sel otak
    2. Keracunan logam berat seperti mercury yang banyak terdapat dalam vaksin imunisasi atau pada makanan yang dikonsumsi ibu yang sedang hamil, misalnya ikan dengan kandungan logam berat yang tinggi. Pada penelitian diketahui dalam tubuh anak-anak penderita autis terkandung timah hitam dan merkuri dalam kadar yang relatif tinggi.
    3. Terjadi kegagalan pertumbuhan otak karena nutrisi yang diperlukan dalam pertumbuhan otak tidak dapat diserap oleh tubuh, ini terjadi karena adanya jamur dalam lambungnya, atau nutrisi tidak trpenuhi karena faktor ekonomi
    4. Terjadi autoimun pada tubuh penderita yang merugikan perkembangan tubuhnya sendiri karena zat – zat yang bermanfaat justru dihancurkan oleh tubuhnya sendiri. Imun adalah kekebalan tubuh terhadap virus/bakteri pembawa penyakit. Sedangkan autoimun adalah kekebalan yang dikembangkan oleh tubuh penderita sendiri yang justru kebal terhadap zat – zat penting dalam tubuh dan menghancurkannya.


     

  5. PATOFISIOLOGI

    Sel saraf otak (neuron) terdiri atas badan sel dan serabut untuk mengalirkan impuls listrik (akson) serta serabut untuk menerima impuls listrik (dendrit). Sel saraf terdapat di lapisan luar otak yang berwarna kelabu (korteks). Akson dibungkus selaput bernama mielin, terletak di bagian otak berwarna putih. Sel saraf berhubungan satu sama lain lewat sinaps.

    Sel saraf terbentuk saat usia kandungan tiga sampai tujuh bulan. Pada trimester ketiga, pembentukan sel saraf berhenti dan dimulai pembentukan akson, dendrit, dan sinaps yang berlanjut sampai anak berusia sekitar dua tahun.

    Setelah anak lahir, terjadi proses pengaturan pertumbuhan otak berupa bertambah dan berkurangnya struktur akson, dendrit, dan sinaps. Proses ini dipengaruhi secara genetik melalui sejumlah zat kimia yang dikenal sebagai brain growth factors dan proses belajar anak.

    Makin banyak sinaps terbentuk, anak makin cerdas. Pembentukan akson, dendrit, dan sinaps sangat tergantung pada stimulasi dari lingkungan. Bagian otak yang digunakan dalam belajar menunjukkan pertambahan akson, dendrit, dan sinaps. Sedangkan bagian otak yang tak digunakan menunjukkan kematian sel, berkurangnya akson, dendrit, dan sinaps.

    kelainan genetis, keracunan logam berat, dan nutrisi yang tidak adekuat dapat menyebabkan terjadinya gangguan pada proses – proses tersebut. Sehingga akan menyebabkan abnormalitas pertumbuhan sel saraf.

    Pada pemeriksaan darah bayi-bayi yang baru lahir, diketahui pertumbuhan abnormal pada penderita autis dipicu oleh berlebihnya neurotropin dan neuropeptida otak (brain-derived neurotrophic factor, neurotrophin-4, vasoactive intestinal peptide, calcitonin-related gene peptide) yang merupakan zat kimia otak yang bertanggung jawab untuk mengatur penambahan sel saraf, migrasi, diferensiasi, pertumbuhan, dan perkembangan jalinan sel saraf. Brain growth factors ini penting bagi pertumbuhan otak.

    Peningkatan neurokimia otak secara abnormal menyebabkan pertumbuhan abnormal pada daerah tertentu. Pada gangguan autistik terjadi kondisi growth without guidance, di mana bagian-bagian otak tumbuh dan mati secara tak beraturan.

    Pertumbuhan abnormal bagian otak tertentu menekan pertumbuhan sel saraf lain. Hampir semua peneliti melaporkan berkurangnya sel Purkinye (sel saraf tempat keluar hasil pemrosesan indera dan impuls saraf) di otak kecil pada autisme. Berkurangnya sel Purkinye diduga merangsang pertumbuhan akson, glia (jaringan penunjang pada sistem saraf pusat), dan mielin sehingga terjadi pertumbuhan otak secara abnormal atau sebaliknya, pertumbuhan akson secara abnormal mematikan sel Purkinye. Yang jelas, peningkatan brain derived neurotrophic factor dan neurotrophin-4 menyebabkan kematian sel Purkinye.

    Gangguan pada sel Purkinye dapat terjadi secara primer atau sekunder. Bila autisme disebabkan faktor genetik, gangguan sel Purkinye merupakan gangguan primer yang terjadi sejak awal masa kehamilan.

    Degenerasi sekunder terjadi bila sel Purkinye sudah berkembang, kemudian terjadi gangguan yang menyebabkan kerusakan sel Purkinye. Kerusakan terjadi jika dalam masa kehamilan ibu minum alkohol berlebihan atau obat seperti thalidomide.

    Penelitian dengan MRI menunjukkan, otak kecil anak normal mengalami aktivasi selama melakukan gerakan motorik, belajar sensori-motor, atensi, proses mengingat, serta kegiatan bahasa. Gangguan pada otak kecil menyebabkan reaksi atensi lebih lambat, kesulitan memproses persepsi atau membedakan target, overselektivitas, dan kegagalan mengeksplorasi lingkungan.

    Pembesaran otak secara abnormal juga terjadi pada otak besar bagian depan yang dikenal sebagai lobus frontalis. Kemper dan Bauman menemukan berkurangnya ukuran sel neuron di hipokampus (bagian depan otak besar yang berperan dalam fungsi luhur dan proses memori) dan amigdala (bagian samping depan otak besar yang berperan dalam proses memori).

    Penelitian pada monyet dengan merusak hipokampus dan amigdala mengakibatkan bayi monyet berusia dua bulan menunjukkan perilaku pasif-agresif. Mereka tidak memulai kontak sosial, tetapi tidak menolaknya. Namun, pada usia enam bulan perilaku berubah. Mereka menolak pendekatan sosial monyet lain, menarik diri, mulai menunjukkan gerakan stereotipik dan hiperaktivitas mirip penyandang autisme. Selain itu, mereka memperlihatkan gangguan kognitif.

    Faktor lingkungan yang menentukan perkembangan otak antara lain kecukupan oksigen, protein, energi, serta zat gizi mikro seperti zat besi, seng, yodium, hormon tiroid, asam lemak esensial, serta asam folat.

    Adapun hal yang merusak atau mengganggu perkembangan otak antara lain alkohol, keracunan timah hitam, aluminium serta metilmerkuri, infeksi yang diderita ibu pada masa kehamilan, radiasi, serta ko kain.

    1. pathway


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     

  6. MANIFESTASI KLINIS

    Keterlambatan atau fungsi abnormal pada ketrampilan berikut, muncul sebelum umur 3 tahun.

    1. Interaksi sosial.
    2. Bahasa yang digunakan sebagai komunikasi sosial.
    3. Bermain simbolik atau imajinatif.

    Diagnosis harus memenuhi kriteria DSM IV (Diagnostic And Statistical Of Manual Disorders 1992 Fourth Edition). Diagnosis autisme bisa ditegakkan apabila terdapat enam atau lebih gejala dari (1), (2) dan (3) dengan paling sedikit 2 dari (1) dan 1 dari masing-masing (2) dan (3).

    1. Gangguan kualitatif interaksi sosial, muncul paling sedikit 2 dari gejala berikut :
      1. Gangguan yang jelas dalam perilaku non - verbal (perilaku yang dilakukan tanpa bicara) misalnya kontak mata, ekspresi wajah, posisi tubuh dan mimik untuk mengatur interaksi sosial.
      2. Tidak bermain dengan teman seumurnya, dengan cara yang sesuai.
      3. Tidak berbagi kesenangan, minat atau kemampuan mencapai sesuatu hal dengan orang lain.
      4. Kurangnya interaksi sosial timbal balik.
    2. Gangguan kualitatif komunikasi, paling sedikit satu dari gejala berikut :
      1. Keterlambatan atau belum dapat mengucapkan kata-kata berbicara, tanpa disertai usaha kompensasi dengan cara lain.
      2. Bila dapat berbicara, terlihat gangguan kesanggupan memulai atau mempertahankan komunikasi dengan orang lain.
      3. Penggunaan bahasa yang stereotipik dan berulang, atau bahasa yang tidak dapat dimengerti.
      4. Tidak adanya cara bermain yang bervariasi dan spontan, atau bermain menirukan secara sosial yang sesuai dengan umur perkembangannya.
    3. Pola perilaku, minat dan aktivitas yang terbatas, berulang dan tidak berubah (stereotipik), yang ditunjukkan dengan adanya 2 dari gejala berikut :
      1. Minat yang terbatas, stereotipik dan meneetap dan abnormal dalam intensitas dan fokus.
      2. Keterikatan pada ritual yang spesifik tetapi tidak fungsional secara kaku dan tidak fleksibel.
      3. Gerakan motorik yang stereotipik dan berulang, misalnya flapping tangan dan jari, gerakan tubuh yang kompleks.
      4. Preokupasi terhadap bagian dari benda.


     

  7. PENATALAKSANAAN MEDIS

    Kimia otak yang kadarnya abnormal pada penyandang autis adalah serotonin 5-hydroxytryptamine (5-HT), yaitu neurotransmiter atau penghantar sinyal di sel-sel saraf. Sekitar 30-50 persen penyandang autis mempunyai kadar serotonin tinggi dalam darah.

    Kadar norepinefrin, dopamin, dan serotonin 5-HT pada anak normal dalam keadaan stabil dan saling berhubungan. Akan tetapi, tidak demikian pada penyandang autis.

    Terapi psikofarmakologi tidak mengubah riwayat keadaan atau perjalanan gangguan autistik, tetapi efektif mengurangi perilaku autistik seperti hiperaktivitas, penarikan diri, stereotipik, menyakiti diri sendiri, agresivitas dan gangguan tidur.

    Sejumlah observasi menyatakan, manipulasi terhadap sistem dopamin dan serotonin dapat bermanfaat bagi pasien autis. Antipsikotik generasi baru, yaitu antipsikotik atipikal, merupakan antagonis kuat terhadap reseptor serotonin 5-HT dan dopamin tipe 2 (D2).

    Risperidone bisa digunakan sebagai antagonis reseptor dopamin D2 dan serotonin 5-HT untuk mengurangi agresivitas, hiperaktivitas, dan tingkah laku menyakiti diri sendiri.

    Olanzapine, digunakan karena mampu menghambat secara luas pelbagai reseptor, olanzapine bisa mengurangi hiperaktivitas, gangguan bersosialisasi, gangguan reaksi afektual (alam perasaan), gangguan respons sensori, gangguan penggunaan bahasa, perilaku menyakiti diri sendiri, agresi, iritabilitas emosi atau kemarahan, serta keadaan cemas dan depresi.

    Untuk meningkatkan keterampilan sosial serta kegiatan sehari-hari, penyandang autis perlu diterapi secara nonmedikamentosa yang melibatkan pelbagai disiplin ilmu. Menurut dr Ika Widyawati SpKJ dari Bagian Ilmu Penyakit Jiwa FKUI, antara lain terapi edukasi untuk meningkatkan interaksi sosial dan komunikasi, terapi perilaku untuk mengendalikan perilaku yang mengganggu/membahayakan, terapi wicara, terapi okupasi/fisik, sensori-integrasi yaitu pengorganisasian informasi lewat semua indera, latihan integrasi pendengaran (AIT) untuk mengurangi hipersensitivitas terhadap suara, intervensi keluarga, dan sebagainya.

    Untuk memperbaiki gangguan saluran pencernaan yang bisa memperburuk kondisi dan gejala autis, dilakukan terapi biomedis. Terapi itu meliputi pengaturan diet dengan menghindari zat-zat yang menimbulkan alergi (kasein dan gluten), pemberian suplemen vitamin dan mineral, serta pengobatan terhadap jamur dan bakteri yang berada di dinding usus.

    Dengan pelbagai terapi itu, diharapkan penyandang autis bisa menjalani hidup sebagaimana anak-anak lain dan tumbuh menjadi orang dewasa yang mandiri dan berprestasi.


     

  8. PENATALAKSANAAN KEPERAWATAN

    Penatalaksanaan pada autisme bertujuan untuk:

    1. Mengurangi masalah perilaku.

      Terapi perilaku dengan memanfaatkan keadaan yang terjadi dapat meningkatkan kemahiran berbicara. menagement perilaku dapat mengubah perilaku destruktif dan agresif.

    2. Meningkatkan kemampuan belajar dan perkembangan terutama bahasa.

      Latihan dan pendidikan dengan menggunakan pendidikan (operant conditioning yaitu dukungan positif (hadiah) dan dukungan negatif (hukuman).

    3. Anak bisa mandiri dan bersosialisasi.

      Mengembangkan ketrampilan sosial dan ketrampilan praktis.

    BAB III

    ASUHAN KEPERAWATAN


     

  9. PENGKAJIAN KEPERAWATAN DITINJAU DARI KEPERAWATAN ANAK

    Pengkajian data focus pada anak dengan gangguan perkembangan pervasive menurut Isaac, A (2005) dan Townsend, M.C (1998) antara lain:

  • Tidak suka dipegang
  • Rutinitas yang berulang
  • Tangan digerak-gerakkan dan kepala diangguk-anggukan
  • Terpaku pada benda mati
  • Sulit berbahasa dan berbicara
  • 50% diantaranya mengalami retardasi mental
  • Ketidakmampuan untuk memisahkan kebutuhan fisiologis dan emosi diri sendiri dengan orang lain
  • Tingkat ansietas yang bertambah akibat dari kontak dengan dengan orang lain
  • Ketidakmampuan untuk membedakan batas-batas tubuh diri sendiri dengan orang lain
  • Mengulangi kata-kata yang dia dengar dari yang diucapkan orang lain atau gerakkan-gerakkan mimik orang lain
  • Penolakan atau ketidakmampuan berbicara yang ditandai dengan ketidakmatangan stuktur gramatis, ekolali, pembalikan pengucapan, ketidakmampun untuk menamai benda-benda, ketidakmampuan untuk menggunakan batasan-batasan abstrak, tidak adanya ekspresi nonverbal seperti kontak mata, sifat responsif pada wajah, gerak isyarat.


 

  1. DIAGNOSA KEPERAWATAN

    Menurut Townsend, M.C (1998) diagnosa keperawatan yang dapat dirumuskan pada pasien/anak dengan gangguan perkembangan pervasive autisme antara lain:

  • Risiko tinggi terhadap mutilasi diri berhubungan dengan:
  1. Tugas-tugas perkembangan yang tidak terselesaikan dari rasa percaya terhadap rasa tidak percaya
  2. Fiksasi pada fase prasimbiotik dari perkembangan
  3. Perubahan-perubahan patofisiologis yang terjadi sebagai respons terhadap kondisi-kondisi fisik tertentu seperti rubella pada ibu, fenilketonuria tidak teratasi, ensefalitis, tuberkulosa sclerosis, anoksia selama kelahiran dan sindroma fragilis X
  4. Deprivasi ibu
  5. Stimulasi sensosrik yang tidak sesuai
  6. Sejarah perilaku-perilaku mutilatif/melukai diri sebagai respons terhadap ansietas yang meningkat
  7. Ketidakacuhan yang nyata terhadap lingkungan atau reaksi-reaksi yang histeris terhadap perubahan-perubahan pada lingkungan
  • Kerusakan interaksi sosial berhubungan dengan:
  1. Gangguan konsep diri
  2. Tidak adanya orang terdekat
  3. Tugas perkembangan tidak terselsaikan dari percaya versus tidak percaya
  4. Perubahan-perubahan patofisiologis yang terjadi sebagai respons terhadap kondisi-kondisi fisik tertentu seperti rubella pada ibu fenilketonuria tidak teratasi, ensefalitis, tuberous sclerosis, anoksia selama kelahiran sindrom fragilis X)
  5. Deprivasi ibu
  6. Stimulasi sensorik yang tidak sesuai
  • Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan:
  1. Ketidakmampuan untuk mempercayai
  2. Penarikan diri dari diri
  3. Perubahan patofisiologis yang terjadi sebagai respons terhadap kondisi-kondisi fisik tertentu seperti rubella pada ibu fenilketonuria tidak teratasi, ensefalitis, tuberous sclerosis, anoksia selama kelahiran sindrom fragilis X)
  4. Deprivasi ibu
  5. Stimulasi sensorik yang tidak sesuai
  • Gangguan identitas diri/pribadi berhubungan dengan:
  1. Fiksasi pada fase prasimbiotik dari perkembangan
  2. Tugas-tugas tidak terselesaikan dari rasa percaya versus rasa tidak percaya
  3. Deprivasi ihu
  4. Stimulasi sensorik yang tidak sesuai


 

  1. PERENCANAAN DAN RASIONALISASI

    Menurut Townsend, M.C (1998) perencanaan dan rasionalisasi untuk mengatasi masalah keperawatan pada anak dengan gangguan perkembangan pervasife autisme antara lain:

    1. Resiko terhadap mutilasi diri
  • Tujuan: Pasien akan mendemonstrasikan perilaku-perilaku alternative (misalnya memulai interaksi antara diri dengan perawat) sebagai respons terhadap kecemasan dengan criteria hasil:
  1. Rasa gelisah dipertahankan pada tingkat anak merasa tidak memerlukan perilaku-perilaku mutilatif diri
  2. Pasien memulai interaksi antara diri dan perawat apabila merasa cemas
  • Intervensi
  1. Jamin keselamatan anak dengan memberi rasa aman, lingkungan yang kondusif untuk mencegah perilaku merusak diri
  • Rasional: Perawat bertanggun jawab untuk menjamin keselamatan anak)
  1. Kaji dan tentukan penyebab perilaku – perilaku mutilatif sebagai respon terhadap kecemasan
  • Rasional : pengkajian kemungkinan penyebab dapat memilih cara /alternative pemecahan yang tepat
  1. Pakaikan helm pada anak untuk menghindari trauma saat anak memukul-mukul kepala, sarung tangan untuk mencegah menarik – narik rambut, pemberian bantal yang sesuai untuk mencegah luka pada ekstremitas saat gerakan-gerakan histeris
  • Rasional : Untuk menjaga bagian-bagian vital dari cidera
  1. Untuk membentuk kepercayaan satu anak dirawat oleh satu perawat
  • Rasional : Untuk dapat bisa lebih menjalin hubungan saling percaya dengan pasien
  1. Tawarkan pada anak untuk menemani selama waktu - waktu mening-katnya kecemasan agar tidak terjadi mutilasi
  • Rasional :Dalam upaya untuk menurunkan kebutuhan pada perilaku-perilaku mutilasi diri dan memberikan rasa aman
  1. Kerusakan interaksi sosial
  • Tujuan : Anak akan mendemonstrasikan kepercayaan pada seorang pemberi perawatan yang ditandai dengan sikap responsive pada wajah dan kontak mata dalam waktu yang ditentukan dengan criteria hasil:
    • Anak mulai berinteraksi dengan diri dan orang lain
    • Pasien menggunakan kontak mata, sifat responsive pada wajah dan perilaku-perilaku nonverbal lainnya dalam berinteraksi dengan orang lain
    • Pasien tidak menarik diri dari kontak fisik dengan orang lain
  • Intervensi
    • Jalin hubungan satu – satu dengan anak untuk meningkatkan keper-cayaan
      • Rasional : Interaksi staf dengan pasien yang konsisten meningkatkan pembentukan kepercayaan
    • Berikan benda-benda yang dikenal (misalnya: mainan kesukaan, selimut) untuk memberikan rasa aman dalam waktu-waktu tertentu agar anak tidak mengalami distress
      • Rasional : Benda-benda ini memberikan rasa aman dalam waktu-waktu aman bila anak merasa distres
    • Sampaikan sikap yang hangat, dukungan, dan kebersediaan ketika anak berusaha untuk memenuhi kebutuhan – kebutuhan dasarnya untuk meningkatkan pembentukan dan mempertahankan hubungan saling percaya
      • Rasional: Karakteristik-karakteritik ini meningkatkan pembentukan dan mempertahankan hubungan saling percaya
    • Lakukan dengan perlahan-lahan, jangan memaksakan interaksi-interaksi, mulai dengan penguatan yang positif pada kontak mata, perkenalkan dengan berangsur-angsur dengan sentuhan, senyuman , dan pelukan
      • Rasional : Pasien autisme dapat merasa terncam oleh suatu rangsangan yang gencar pada pasien yang tidak terbiasa
    • Dengan kehadiran anda beri dukungan pada pasien yang berusaha keras untuk membentuk hubungan dengan orang lain dilingkungannya
      • Rasional :Kehadiran seorang yang telah terbentuk hubungan saling percaya dapat memberikan rasa aman
  1. Kerusakan komunikasi verbal
  • Tujuan : Anak akan membentuk kepercayaan dengan seorang pemberi perawatan ditandai dengan sikap responsive dan kontak mata dalam waktu yang telah ditentukan dengan kriteria hasil:
    • Pasien mampu berkomunikasi dengan cara yang dimengerti oleh orang lain
    • Pesan-pesan nonverbal pasien sesuai dengan pengungkapan verbal
    • Pasien memulai berinteraksi verbal dan non verbal dengan orang lain
  • Intervensi
    • Pertahankan konsistensi tugas staf untuk memahami tindakan-tindakan dan komunikasi anak
      • Rasional: Hal ini memudahkan kepercayaan dan kemampuan untuk memahami tindakan-tindakan dan komunikasi pasien
    • Antisipasi dan penuhi kebutuhan-kebutuhan anak sampai kepuasan pola komunikasi terbentuk
      • Rasional : Pemenuhan kebutuhan pasien akan dapat mengurangi kecemasan anak sehingga anak akan dapat mulai menjalin komunikasi dengan orang lain dengan asertif
    • Gunakan tehnik validasi konsensual dan klarifikasi untuk menguraikan kode pola komunikasi ( misalnya :" Apakah anda bermaksud untuk mengatakan bahwa…..?" )
      • Rasional: Teknik-teknik ini digunakan untuk memastikan akurasi dari pesan yang diterima, menjelaskan pengertian-pengertian yang tersembunyi di dalam pesan. Hati-hati untuk tidak "berbicara atas nama pasien tanpa seinzinnya"
    • Gunakan pendekatan tatap muka berhadapan untuk menyampaikan ekspresi-ekspresi nonverbal yang benar dengan menggunakan contoh
      • Rasional: Kontak mata mengekspresikan minat yang murni terhadap dan hormat kepada seseorang
  1. Gangguan Indentitas Pribadi
  • Tujuan: Pasien akan menyebutkan bagian-bagian tubuh diri sendiri dan bagian-bagian tubuh dari pemberi perawatan dalam waktu yang ditentukan untuk mengenali fisik dan emosi diri terpisah dari orang lain saat pulang dengan kriteria hasil:
    • Pasien mampu untuk membedakan bagian-bagian dari tubuhnya dengan bagian-bagian dari tubuh orang lain
    • Pasien menceritakan kemampuan untuk memisahkan diri dari lingkungannya dengan menghentikan ekolalia (mengulangi kata-kata yang di dengar) dan ekopraksia (meniru gerakan-gerakan yang dilihatnya)
  • Intervensi:
    • Fungsi pada hubungan satu-satu dengan anak
      • Rasional : Interaksi pasien staf meningkatkan pembentukan data kepercayaan
    • Membantu anak untuk mengetahui hal-hal yang terpisah selama kegiatan-kegiatan perawatan diri, seperti berpakaian dan makan
      • Rasional : Kegiatan-kegiatan ini dapat meningkatkan kewaspadaan anda terhadap diri sebagai sesuatu yang terpisah dari orang lain
    • Jelaskan dan bantu anak dalam menyebutkan bagian-bagian tubuhnya
      • Rasional : Kegiatan-kegiatan ini dapat meningkatkan kewaspadaan anak terhadap diri sebagai sesuatu yang terpisah dari orang lain
    • Tingkatkan kontak fisik secara bertahap demi tahap, menggunakan sentuhan untuk menjelaskan perbedaan-perbedaan antara pasien dengan perawat. Berhati-hati dengans entuhan sampai kepercayaan anak telah terbentuk
      • Rasional: Bila gerak isyarat ini dapat diintepretasikan sebagai suatu ancaman oleh pasien
    • Tingkatkan upaya anak untuk mempelajari bagian-bagian dari batas-batas tubuh dengan menggunakan cermin dan lukisan serta gambar-gambar dari anak
      • Rasional: Dapat memberikan gambaran tentang bentuk tubuh dan gambaran diri pada anak secara tepat


 


 

BAB IV

PEMBAHASAN

  1. ISSUE DIMASYARAKAT TENTANG AUTIS

    Semakin hari istilah autis semakin banyak diperbincangkan di mana-mana. Hal ini mengindikasikan bahwa perkembangan autis semakin lama semakin meningkat. Namun, yang disayangkan tingkat penyangkalan (denial) orang tua terhadap autis ini masih cukup tinggi. Oleh sebab itu, tidak heran banyak kasus autis menjadi terlambat untuk ditangani. Padahal deteksi dini autis sangat penting untuk membantu tahapan perkembangan anak-anak autis.

    Salah satu masalah keterlambatan penanganan autis ada beberapa hal, salah satunya adalah banyak orang tua yang belum memahami gejala-geala awal autis. "Penyebab autis sebenarnya ada banyak tapi belum ada yang bersifat konklusif. Beberapa penyebab autis antara lain, karena dari makanan yang mengandung zat-zat kimia, pengaruh polusi air, udara, dan sebagainya, serta faktor keturunan atau kelainan gen", tutur Danny Tania, Programme Manger Linguistic Council.

    Autis tidak dapat dikategorikan sebagai penyakit. Sebab, autis belum dapat disembuhkan, tetapi dapat dibantu dengan terapi, bantuan guru khusus, dan peran serta orang tua yang turut aktif membantu.

    Bagi para orang tua, gejala autis pada anak sebenarnya sudah dapat terdeteksi mulai dari usia 16 bulan. Salah satu ciri-cirinya adalah tidak adanya kontak mata dan respon berupa senyuman atau gerakan dari si anak ketika orang tua mengajak berinteraksi.

    Selain itu, perhatikanlah apakah pada usia 18 hingga 36 bulan si anak sudah siap dapat meniru gerakan atau kebiasaan orang tua atau disebut juga pretend-play? Pada usia seperti ini, biasanya anak perempuan akan meniru gerakan ibunya dengan berpura-pura memasak atau bagi anak laki-laki meniru kebiasaan ayahnya dengan membaca Koran atau menggunakan sepatu ayahnya. Nah, jika anak anda tidak dapat melakukan kedua hal di atas, maka ada kemungkinan dia autis.

    Gejala yang lainnya adalah anak suka melakukan kegiatan yang serupa secara berulang-ulang. Contohnya adalah kebiasaan seorang anak membangun bangunan dari balok-balok yang kemudian dihancurkan. Lalu dia membangun kembali balok-balok tersebut ke dalam bentuk dan urutan yang sama persis. Hal ini dilakukan secara berulang-ulang dengan urutan dan bentuk bangunan balok yang sama persis seperti di awal. Ini merupakan salah satu kelebihan anak autis. Sebab, mereka mempunyai kelebihan dalam fotografik memori. Kelebihan ini merupakan suatu anugerah yang dapat anda kembangkan melalui terapi yang tepat. Salah satu bentuk terapi yang dapat meningkatkan perilaku anak autis sekaligus mengurangi kesulitan-kesulitannya adalah melalui terapi perilaku atau metode ABA (Applied Behavioural Analysis). Metode ini melatih anak berkemampuan, social, akademis, dan kemampuan membantu diri sendiri. melalui peranan orang tua dan terapi yang tepat, anak autis dapat diarahkan sesuai dengan kelebihannya. Orang tua dapat membantu mengarahkan anak autis untuk mengembangkan kelebihan-kelebihan mereka seperti, kemampuan focus dan konsentrasi yang luar biasa serta melatih mereka untuk mengurangi berbagai kesulitan-kesulitannya. Terbukti, banyak penderita autis yang akhirnya berfungsi dan mampu berkarya dalam kehidupannya. Banyak di antara mereka yang akhirnya menjadi pakar di bidang sains, matematika, computer, dan lain sebagainya. Hal ini tentunya akan membuat mereka tumbuh menjadi anak yang special dengan kelebihan yang special pula.

  2. PEMBAHASAN
    1. Pengkajian

      Pengkajian yang dilakukan perawat adalah untuk mendapatkan data tentang adanya perilaku yang membahayakan, gejala – gejala yang mengganggu perkembangan dan pertumbuhan penderita, dan menentukan masalah –masalah yang masih bisa ditangani oleh perawat.

    2. Diagnosa Keperawatan
      1. Risiko tinggi terhadip mutilasi ditegakkan agar pasien tidak melakukan tindakan – tindakan yang membahayakan diri ketika pasien merasa terancam. Perawat harus mampu menjadi teman bagi pasien, sehingga pasien merasa nyaman bersama perawat
      2. Kerusakan interaksi social ditegakkan untuk memberikan stimulasi social yang cukup agar anak mampu berinteraksi dengan lingkungan sekitar, anak dengan autis sangat tidak peka terhadap rangsang dari lingkungan, dengan stimulasi yang cukup kuat, diharapkan anak dapat memperhatikan benda – benda disekitarnya
      3. Kerusakan komunikasi verbal ditegakkan agar pasien dapat melakukan komunikasi dengan orang lain menggunakan bahasa yang bisa dipahami oleh orang lain, anak dengan autis biasanya menggunakan simbul – simbul dalam berkomunikasi, sehingga anak perlu dimotivasi untuk menggunakan tanda atau simbul yang mudah dimengerti, dan dimotivasi untuk menggunakan bahasa seperti yang digunakan orang lain, reward untuk keberhasilan menggunakan kata – kata (verbal) sangat baik untuk memotivasi anak menggunakan bahasa verbal.
      4. Gangguan identitas pribadi ditegakkan agar anak bisa membedakan bagian – bagian tubuhnya sendiri dengan lingkungan dan dengan orang lain,

    BAB V

    PENUTUP

  3. KESIMPULAN

    Autis suatu gangguan perkembangan yang sangat kompleks, yang secara klinis ditandai oleh gejala – gejala diantaranya kualitas yang kurang dalam kemampuan interaksi sosial dan emosional, kualitas yang kurang dalam kemampuan komunikasi timbal balik, dan minat yang terbatas, perilaku tak wajar, disertai gerakan-gerakan berulang tanpa tujuan (stereotipik). Selain itu tampak pula adanya respon tak wajar terhadap pengalaman sensorik, yang terlihat sebelum usia 3 tahun. Sampai saat ini penyebab pasti autis belum diketahui, tetapi beberapa hal yang dapat memicu adanya perubahan genetika dan kromosom, dianggap sebagai faktor yang berhubungan dengan kejadian autis pada anak, perkembangan otak yang tidak normal atau tidak seperti biasanya dapat menyebabkan terjadinya perubahan pada neurotransmitter, dan akhirnya dapat menyebabkan adanya perubahan perilaku pada penderita. Dalam kemampuan intelektual anak autis tidak mengalami keterbelakangan, tetapi pada hubungan sosial dan respon anak terhadap dunia luar, anak sangat kurang. Anak cenderung asik dengan dunianya sendiri. Dan cenderung suka mengamati hal – hal kecil yang bagi orang lain tidak menarik, tapi bagi anak autis menjadi sesuatu yang menarik.

    Terapi perilaku sangat dibutuhkan untuk melatih anak bisa hidup dengan normal seperti anak pada umumnya, dan melatih anak untuk bisa bersosialisasi dengan lingkungan sekitar.


     


     

  4. SARAN

    Makalah yang kami susun ini semoga dapat memberikan gambaran jelas tentang asuhan keperawatan pada anak dengan autisme, walaupun masih banyak yang harus dikaji dan ditambahkan agar benar – benar dapat diterapkan dalam asuhan keperawatan. Asuhan yang diberikan kepada anak autis sebaiknya mengacu pada proses tumbuh kembang anak, sehingga diharapkan anak dapat tetap bertumbuh dan berkembang sesuai tingkat usia, dan bisa meminimalisir akibat yang ditimbulkan oleh autisme

    DAFTAR PUSTAKA


     

    Isaac, A., (2005). Panduan Belajar Keperawatan Kesehatan Jiwa & Psikiatrik (terjemahan). Edisi 3. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC


     

    Townsend, M.C., (1998). Buku Saku Diagnosa Keperawata Pada Keperawatan Psikiatri pedoman Untuk Pembuatan Rencana Perawatan (terjemahan). Edisi 3. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC

    Eddy Prasetyo. 2008. Kasus Autisme di Seluruh Dunia Meningkat. Diakses 05 mei 2009 dari: http://www.suarasurabaya.net/v06/kelanakota/?id=c71ee08849735df9b3bd982e3c4e3a73200859667


     

    Asuhan Keperawatan Anak diakses 05 mei 2009 dari http://asuhankeperawatananak.blogspot.com/2008/09/autisme.html


     

    Irwanto,dkk, Gangguan Pemusatan Perhatian-Hiperaktivitas (GPPH). Diakses 05 mei 2009 dari: WWW.PEDIATRIK.COM


     

    Tanggal: Wednesday, 30 April 2008. Mungkinkah Autisme bisa disembuhkan ?….. Diakses 05 mei 2009 dari: http://www.depsos.go.id/modules.php?name=News&file=article&sid=633


     

    Kelainan Susunan Saraf Pusat dan Gangguan Autistik Diakses 05 mei 2009 dari: http://64.203.71.11/kompas-cetak/0307/06/foto/


     


     


     


     

ASUHAN KEPERAWATAN ANAK

DENGAN HEMOFILIA


 

  1. PENDAHULUAN

Pada tahun 2000 hemofilia yang dilaporkan ada 314, pada tahun 2001kasus yang dilaporkan mencapai 530. Diantara 530 kasus ini , 183 kasus terdaftar di RSCM, sisanya terdaftar di Bali, Bangka, Lampung, Medan, Padang, Palembang, Papua, Samarinda, Semarang, Surabaya, Ujung Pandang dan Yogyakarta.Di antara 183 pasien hemofilia yang terdaftar di RSCM, 100 pasien telah diperiksa aktifitas factor VII dan IX. Hasilnya menunjukkan 93 orang adalah hemofilia A dan 7 pasien adalah hemofilia B. Sebagian besar pasien hemofilia A mendapat cryoprecipitate untuk terapi pengganti, dan pada tahun 2000 konsumsi cryoprecipitate mencapai 40.000 kantong setara dengan kira-kira 2 juta unit factor VIII.

Pada saat ini Tim Pelayanan terpadu juga mempunyai komunikasi yang baik dengan Tim Hemofilia dari Negara lain. Pada hari Hemofilia Sedunia tahun 2002, pusat Pelayanan terpadu Hemofilia Nasional.

Pada tahun 2002 pasien Hemofilia yang telah terdaftar di seluruh Indonesia mencapai 757, diantaranya 233 terdaftar di Jakarta, 144 di Sumatra Utara, 92 di Jawa Timur, 86 di Jawa Tengah dan sisanya tersebar dari Nanggroe Aceh Darussalam sampai Papua.


 

  1. TINJAUAN TEORI
  • Pengertian
    • Hemofilia adalah gangguan perdarahan bersifat herediter yang berkaitan dengan defisiensi atau kelainan biologic faktor VII dan faktor IX dalam plasma. (David Ovedoff, Kapita Setekta Kedokteran)
    • Hemofilia adalah penyakit gangguan pembekuan darah yang diturunkan metalui kromosom X. Karena itu, penyakit ini lebih banyak terjadi pada pria karena mereka hanya mempunyai kromosom X, sedangkan wanita umumnya menjadi pembawa sifat saja (carrier). Namun, wanita juga bisa menderita hemofilia jika mendapatkan kromosom X dan ayah hemofilia dan ibu pembawa carrier dan bersifat Letat. (www.info-sehatcom) S Hemofilia adalah gangguan pembekuan darah akibat kekurangan faktor pembeku darah yang disebabkan oleh kerusakan kromosom X. (www.anakku.net.)


 

  • Etiologi
    • Mutasi genetic yang didapat (acquired) atau diturunkan (herediter)
    • Hemofilia A disebabkan kurangnya faktor pembekuan VIII (AHG)
    • Hemofilia B disebabkan kurangnya faktor pembekuan IX (Plasma Tromboplastic Antecendent)

      Hemofitia A maupun B dapat dibedakan menjadi 3:

      • Berat (kadar faktor VIII atau IX < 1%)
      • Sedang (kadar faktor VIII atau IX antara 1% - 5%)
      • Ringan (kadar faktor VIII atau IX antara 5% - 30%)


         

    • Pathofisiologi :

    Hemofilia (A dan B) adalah merupakan penyakit atau gangguan perdarahan yang diturunkan secara sex (x)-linked recessive dan gen untuk faktor VIII dan IX terletak pada ujung lengan panjang (q) kromosom x. Oleh karena itu perempuan biasanya sebagai pembawa (carier) dan laki-laki sebagai penderita. Pada penderita hemofili produksi faktor VIII atau IX berkurang / tidak ada. Akibat kekurangan faktor pembekuan tersebut saat terjadi pendarahan anyaman penutup luka tidak terbentuk sempurna sehingga darah tidak terhenti mengalir / terjadi pendarahan yang lama.


 


 


 


 


 


 


 


 

  • Pathway


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

  • Penatalaksanaan Medis

    Pemeriksaan Lab. darah

    HemofiLia A:

    • Defisiensi faktor VIII
    • PU (Partial ThrombopLastin Time) amat memanjang
    • PT (Prothrombin / time waktu protombin) memanjang
    • TGT (Thromboptastin Generation Test) diferential APTT dengan plasma abnormal
    • Jumlah trombosit dan waktu perdarahan normal

    Hemofilia B:

    • Defisiensi faktor IX
    • PU (PartiaL Thromboptastin Time) amat memanjang
    • PT (Prothrombin Time) waktu protombin dan waktu perdarahan normal
    • TGT (Thromboptastin Generation Test) diferential APTT dengan serum abnormal


 

  • PenataLaksanaan Keperawatan
    • Supportive
      • Menghindari luka
      • Merencanakan suatu kehendak operasi
      • RICE (Rest Ice Compression Evaluation)
      • Pemberian kortikosteroid
      • Pemberian analgetik
      • Rehabilitasi medik
    • Penggantian faktor pembekuan

      Pemberian faktor VIII IX dalam bentuk rekombinan konsentrat maupun komponen darah

    • Terapi gen
    • Lever transplantation
    • Pemberian vitamin K; menghindari aspirin, asamsalisitat, AINS, heparin
    • Pemberian rekombinan faktor VIII
    • Pada pembedahan (dengan dosis kg / BB)

      Faktor VIII dalam bentuk recombinate dan coginate.

      Faktor IX dalam bentuk mononine


       

      • Pengkajian Keperawatan

Aktivitas

Gejala     :    Kelelahan, malaise, ketidak mampuan untuk melakukan aktivitas

Tanda    :     Kelemahan otot

Sirkulasi    

Gejala    :     Palpitasi

Tanda    :    Kulit dan membrane mukosa pucat, deficit saraf serebral/tanda perdarahan serebral

Eliminasi

Gejala    :     Hematuria

Integritas ego

Gejala    :     Perasaan tak ada harapan, tak berdaya

Tanda     :     Depresi menarik diri, ansietas

Nutrisi

Gejata     :     Anoreksia, penurunan BB

Nyeri

Gejala     :    Nyeri tulang, sendi, nyeri tekan sentral, kram otot

Tanda    :     Perilaku berhati-hati, gelisah, rewel

Keamanan

Gejala     :     Riwayat trauma ringan, perdaran spontan

Tanda    :     Hematoma


 

  • Data subjektif Anak
    • Merasa nyeri disendi
    • Merasa nyeri di otot
    • Merasa sendinya bertambah besar (bengkak)
    • Merasa gerakan / aktifitasnya terganggu
  • Data subjektif Orangtua
    • Orang tua mengeluh anaknya nyeri sendi
    • Orang tua mengeluh anaknya Merasa nyeri di otot
    • Orang tua mengeluh sendi anaknya bertambah besar
    • Orang tua mengeluh anaknya kesulitan beraktifitas
  • Data Objektif
    • Sendi bengkak, kemerahan, panas
    • Ekspresi wajah menyeringai jika sendi digerakkan
    • Berjalan pincang / tak normal
    • Posisi kaki ektrimitas yang sakit tidak normal


     

    • Diagnosa Keperawatan
      • Perfusi jaringan tidak efektif (perifer) b/d penurunan konsentrasi Hb darah
      • Resiko trauma dengan fakor resiko internal : kurang pencegahan kecelakaan
      • Resiko kekurangan volume cairan dengan faktor resiko kehilangan cairan melalui rute abnormal (perdarahan)
      • Resiko infeksi dengan faktor resiko trauma
      • Nyeri akut b/d agen injuri biologis
      • Kurang pengetahuan b/d keterbatasan paparan


 

  • Perencanaan Keperawatan
  1. Perfusi jaringan tidak efektif (perifer) b/d penurunan konsentrasi Hb darah NIC:
  • Monitoring vital sign
  • Monitor TD
  • Monitor frekuensi dan irama pernafasan
  • Monitor TD, N, RR, sebelum dan setelah aktivitas
  • Monitor sianosis perifer
  • Monitor suhu, warna, dan kelembapan kulit
    • Monitoring neurology status
      • Monitor GCS
      • Respon pasien terhadap pengobatan
      • Informasikan pada dokter tentang perubahan kondisi pasien

        NOC:

    • Tissue perfusion: peripheral
  • Pengisian kapileri refill
  • Warna kulit abnormal
  • Tingkat sensasi normal
  • Tidak ada nyeri pada ekstremitas
  • Respon pasien terhadap pengobatan
    • Circulation status
  • TD sistolik dbn
  • TD diastolic dbn
  • Kekuatan nadi dbn
  • AGD dbn
  • Tidak ada edema perifer


     

  1. Resiko trauma dengan fakor resiko internal: kurang pencegahan kecelakaan

NIC:

  • Environment management safety
  • Monitor keamanan yang dipertukan pasien
  • Identifikasi bahaya dan keamaman di lingkunan pasien
  • Pindahkan barang-barang dart lingkunan, jika memungkinkan
  • Sediakan rencana adaptif untuk meningkatkan kemanan lingkungan
    • Skin survellance
  • Monitor warna kulit
  • Observasi warna kulit, suhu, nadi, teksture, dan udema

NOC:

  • Abuse protection
  • Kemanan tempat tinggal
  • Keamanan diri sendiri
  • Keamanan anak-anak
  • Rencanakan untuk menghentikan kegiatan
    • Safety behavior: personal

Perkembangan keamanan permainan dan kebiasaan buruk di waktu luang


 

  1. Resiko kekurangan volume cairan dengan faktor resiko kehilangan cairan melalui rute abnormal (perdarahan)

NIC:

  • Bleeding precaution
  • Monitor pasien dalam penghentian perdarahan
  • Catat jumlah Hb/hematokrit sebelum dan setelah perdarahan
  • Lindungi pasien dari trauma, yang mana yang mungkin bisa menyebabkan perdarahan
  • Bleeding reduction
  • Identifikasi penyebab perdarahan
  • Monitor jumlah dan pembawaan darah yang keluar
  • Menginstruksikan pasien dalam pembatasan aktivitas, jika memungkinkan

NOC:

  • Risk detection
  • Mempertahankan pengetahuan terbaru dan riwayat keluarga
  • Mengidentifikasi potensial resiko kesehatan
  • Mengetahui tanda dan gejata yang mengindikasikan resiko infeksi


     

  1. Resiko infeksi dengan faktor resiko trauma

NIC:

  • Infection protection
  • Monitor tanda dan gejala infeksi
  • Monitor sifat mudah Luka infeksi
  • Monitor nilai WBC
    • ControL infection
  • Observasi dan Laporkan tanda dan gejata infeksi
  • Catat dan lapokan nilai Lab. (leukosit, protein, serum, albumin)
  • Istirahat yang adekuat
  • Cuci tangan sebetum dan sesudah metakukan tindakan keperawatan

NOC:

  • Risk control
  • Monitor intensitas cemas
  • Mengetahui faktor resiko dari lingkungan
  • Monitor perubahan status kesehatan
  • Monitor faktor resiko dari tingkah Laku
    • KnowLedge: infection control
  • Mendiskripsikan cara dan penularan infeksi
  • Mendiskripsikan faktor penyebab infeksi
  • Mendiskripsikan tindakan untuk mencegah infeksi
  • Mendisksipsikan tanda dan gejala infeksi


 

  1. Nyeri akut b/d agen injuri biologis

NIC:

  • Pain management
  • Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, dan faktor prespitasi
  • Observasi reaksi nonverbaL dan ketidaknyamanan
  • Gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengataman nyeri pasien
  • Koiabirasi analgetik untuk mengurangi nyeri
  • Pilih dan lakukan penanganan nyeri (farmakologi, non farmakologi, interpersonal)

NOC:

  • Pain control
  • Mengenali faktor penyebab
  • Mengenali onset dan durasi nyeri
  • Menggunakan tanda peringatan untuk mencari pertindungan (mencari bantuan
  • kesehatan)
  • Mengguriakan metode pencegahan
    • Control Level
  • Melaporkan nyeri berkurang/ terkontrol
  • Melaporkan kepuasan/ kesenangan hati pada interaksi social
  • Melaporkan kepuasan dengan mengontrol tarida dan gejala
  • Melaporkan keadaan fisik membaik


 

  1. Kurang pengetahuan b/d keterbatasan paparan

NIC:

  • Teching : diseases process
  • Berikan penitaian tentang tingakt pengetahuan pasien maupun keluarga tentang proses penyakit secara spesifik
  • Gambarkan tanda dan gejala yang bisa muncul pada penyakit dengan cara yang benar
  • Disusikan perubahan gaya hidup yang mungkin diperlukan untuk mencegah komplikasi di masa yang akan datang.

NOC:

  • Knowledge: disease process
  • Menggambarkan proses penyakit
  • Menggambarkan faktor penyebab
  • Menggambarkan faktor pemberat
  • Menggambarkan akibat penyakit
  • Menggambarkan tanda dan gejala


 


 

  1. P E N U T U P

Hemofilia adalah penyakit gangguan pembekuan darah yang diturunkan melalui kromosom X. Penyakit ini lebih banyak menyerang laki-laki karena hanya mempunyai kromosom X, sedangkan wanita hanya sebagal pembawa atau carrier. Hemofitia dibedakan menjadi 2 yaltu hemofilia tipe A yang disebabkan karena kurangnya faktor pembekuan darah ke VIIl dan hemofilia tipe B yang disebabkan karena kurangnya faktor pembekuan darah ke IX. Salah satu tanda dan gejalanya ialah terjadinya perdarahan pada jaringan, karena dapat dengan mudah mengalami perdarahan jika terjadi trauma sedikit saja. Kurangnya faktor pembekuan darah tersebut dapat diatasi dengan melakukan transfusi dengan teknik vinisidal.

Sebagai perawat dituntut untuk dapat mengetahui secara detail teknik pencegahan terjadinya perdarahan ataupun meminimalkan terjadinya trauma.


 


 

DAFTAR PUSTAKA


 

http://anakku.net/

http://purnama87.blogspot.com/

http://hemofilia.or.id/

http://info-sehat.com/

http://kabrindonesia.com/

Ngastiyah. Keperawatan Anak Sakit. 2005. Jakarta: EGC. Jonhson, Marion ; Maas,

Manidean, Moorhead, Sue. 2000. Nursing Outcomes Classification (NOC). Phiadetphia : Mosby.

Mc Closkey dan Butechek, G. 2000 Nursing Interfention CLassification (NIC). PhiLadelphia : Mosby.